Narasi

Anak di Peta Digital: Merebut Kembali Ruang Bermain dari Ancaman Maya

Dalam rentang dua dekade, peta dunia anak-anak telah bergeser secara fundamental. Jika dahulu tawa dan teriakan riang mengalir di lapangan kampung yang berdebu, kini ruang bermain mereka tak lagi dibatasi tembok, melainkan membentang luas di cakrawala layar gawai. Game online telah menjelma menjadi poros baru aktivitas, menawarkan imajinasi tanpa batas, interaksi global yang cepat, dan bahkan potensi ekonomi yang menggiurkan. Namun, di balik kilaunya, tersembunyi sebuah ironi: kemajuan ini juga membawa ancaman serius terhadap fondasi psikologis, sosial, dan spiritual generasi penerus

Data bicara lantang. Laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 menunjukkan fakta mencengangkan: 70,4% anak dan remaja Indonesia usia 10 hingga 19 tahun adalah pemain aktif game online. Lebih jauh lagi, sekitar 42% dari mereka mengakui menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di hadapan layar. Angka ini bukan sekadar statistik dingin, melainkan sebuah cermin yang memperlihatkan bahwa dunia virtual telah menjadi kanvas utama dalam melukis keseharian anak-anak kita.

Dalam bingkai psikologi perkembangan, fase anak dan remaja adalah masa penting di mana individu belajar menafsirkan realitas melalui pengalaman langsung. Ketika porsi pengalaman hidup didominasi oleh logika permainan, yang kerap menawarkan hadiah instan, basis kompetisi tanpa batas, dan anonimitas interaksi, maka struktur kognitif dan sosial mereka pun berpotensi terbentuk oleh cetakan digital tersebut.

Risiko terbesar yang muncul adalah hilangnya keseimbangan antara dunia nyata dan maya. Anak-anak menjadi rentan terhadap kecanduan game (game addiction), gangguan emosi, bahkan kemerosotan empati. Realitas ini telah diakui secara global, di mana Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2022 telah mengakui gaming disorder sebagai bentuk gangguan perilaku yang menuntut perhatian medis dan psikologis.

Dalam kacamata sosiologi dan psikologi Islam, anak dipandang sebagai amanah (titipan) yang wajib dijaga secara holistik, termasuk akal, jiwa, dan raganya. Seruan Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6), menjadi penegasan atas tanggung jawab moral orang tua dan masyarakat untuk membimbing anak menuju keselamatan, termasuk dari pengaruh destruktif di ruang digital.

Secara sosiologis, keluarga adalah madrasah pertama tempat anak menyerap nilai. Ketika ruang digital menggantikan peran ini tanpa adanya pengawasan nilai yang solid, terjadilah apa yang disebut value vacuum, kekosongan moral. Sosiolog Emile Durkheim menyebut kondisi hilangnya kekuatan norma sosial untuk mengatur perilaku sebagai anomie. Di ranah digital, anomie tampak ketika anak merasa bebas bertindak kasar, menipu, atau mengonsumsi kekerasan karena merasa “tidak ada yang melihat.” Padahal, dalam pandangan spiritual, perilaku lahiriah senantiasa mencerminkan kondisi batin.

Menghadapi arus ini, literasi digital tidak boleh dimaknai sekadar kemampuan teknis menggunakan gawai, melainkan sebuah kompetensi kritis dan etis untuk memaknai setiap interaksi. Anak perlu memahami bahwa ruang digital bukanlah ruang bebas nilai, melainkan tempat di mana tanggung jawab moral dan sosial tetap berlaku. Dalam Islam, ilmu (‘ilm) harus disertai hikmah (wisdom) agar menghasilkan perilaku yang bijak.

Program literasi yang berbasis nilai perlu menanamkan tiga pilar utama: Kesadaran Spiritual (konsep muraqabah atau pengawasan Ilahi sebagai kontrol diri), Etika Sosial Digital (adab berkomunikasi, menghormati orang lain, dan menjauhi ujaran kebencian), serta Kritis terhadap Konten dan Waktu (membedakan antara hiburan sehat dan kecanduan).

Pendekatan ini mutlak harus menjadi gerakan keluarga, bukan semata tugas sekolah. Orang tua wajib mendampingi, tidak hanya dengan larangan, melainkan dengan dialog, pemahaman, dan yang terpenting, keteladanan.

Negara memiliki kerangka hukum melalui UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang menjamin hak anak atas perlindungan dari dampak negatif teknologi. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan serius, terutama dalam pengawasan ketat terhadap konten kekerasan, perjudian terselubung (loot box), dan interaksi tanpa batas dengan orang asing.

Perlindungan anak, dari sudut pandang psikologi Islam, melampaui sekadar pencegahan bahaya; ia juga tentang menumbuhkan potensi kebaikan. Inilah pentingnya presence orang tua, hadir secara emosional dan memahami dunia anak, termasuk game yang mereka mainkan.

Era game online adalah keniscayaan, tetapi arahnya bisa kita tentukan. Literasi digital yang disuntikkan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual adalah benteng utama agar anak tidak tersesat dalam labirin dunia maya. Kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan negara harus berujung pada terciptanya ekosistem digital yang rahmah, yang melindungi, mendidik, dan membentuk karakter yang kokoh. Sebagaimana petuah Ibn Khaldun, “Manusia adalah makhluk sosial yang berkembang melalui pendidikan dan pergaulan.”

This post was last modified on 5 November 2025 3:06 PM

Samachatul Maula

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago