Narasi

Azab atas NKRI Karena Anti-Khilafah? Beginilah Penjelasan Al-Qur’an

Mutlak kita harus pahami bahwa Khilafah bukan ajaran suci. Maka, ketika khilafah membawa suatu berita/argument: “NKRI diazab dengan bencana (Gempa) karena anti-khilafah”. Itu mutlak bukan sebuah kebenaran agama yang patut untuk kita terima. Karena Al-Qur’an memerintahkan kita untuk membantah segala sesuatu yang datang dari orang munafik/fasik layaknya khilafah itu.

Sebagaimana dalam (QS Al-Hujurat:6) bahwasanya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu (orang fasik) membawa (suatu berita), maka (periksalah) dengan (teliti) agar kamu tidak menimpakan suatu (musibah) kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu (menyesal) atas (perbuatanmu) itu”.

Ayat di atas sebetulnya dapat kita jadikan pijakan etis untuk memahami sisi-sisi keburukan tentang khilafah itu, Sebagaimana, dalam kata (orang munafik) adalah cara kita memahami (latar belakang/setting personal) di balik orang yang membawa sebuah berita/solusi tentang kebangkitan khilafah. Karena, ketika orang yang tidak munafik tentu akan mengajak kita ke dalam wilayah kebaikan.

Dalam konteks ajakan kembali ke khilafah, kriteria (orang munafik) itu ketika membawa suatu janji/berita/ajakan terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang dibicarakan. Misalnya dalam konteks ajakan khilafah, janji yang dibangun adalah solusi menghadapi problem kebangsaan, solusi kesejahteraan, kemapanan dan kenyamanan dalam hidup.

Secara nalar kritis,  Al-Qur’an dalam (QS Al-Hujurat:6) memerintahkan kita untuk (meneliti/memeriksa) terkait janji tentang keunggulan khilafah itu. Ada-pun yang dapat kita lakukan, adalah membangun semacam proses yang namanya looking for fact atau menelusuri rekam jejaknya. Dalam konteks khilafah tentu kita bisa melihat perjuangan Abu Bakar al-Baghdadi sang maestro ajakan kembali ke khilafah dalam gerakan ISIS selama dirinya berkuasa.

Dari sini tentu kita akan menemukan sebuah fakta tentang (kemunafikan) itu yang tidak hanya mengacu ke dalam wilayah (isi berita/janji) tentang khilafah melainkan mengarah ke dalam acuan (personal) perilaku yang dimiliki justru tidak sesuai apa yang dijanjikan. Karena kebenaran ayat Al-Qur’an tentang (musibah) yang akan kita timpa kepada orang lain ketika kita tidak menelusuri akan ajakan khilafah itu sendiri.

Sebagaimana dalam potongan ayat agar kamu tidak menimpakan suatu (musibah) kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya (QS Al-Hujurat:6) bahwa banyak korban-korban tipu daya kelompok ISIS yang dari Indonesia hijrah/datang ke negara ISIS untuk hidup di dalam aturan Khilafah atau bergerak radikal di Indonesia untuk menegakkan negara khilafah. Lalu berujung ke dalam perilaku (menimpakan suatu musibah).

Banyak orang yang melakukan bom bunuh diri, merusak rumah ibadah, melakukan tindakan radikal seperti berbuat zhalim dan penuh kebencian. Mereka dalam kondisi yang dibenarkan dalam ayat tersebut yaitu dalam kondisi tanpa mengetahui keadaannya (QS Al-Hujurat:6) bahwa dirinya telah berbuat kemungkaran, merusak tatanan, melanggar nilai kemanusiaan tanpa menyadari itu sebagai kesalahan yang sangat fatal.

Kenyataan di atas merupakan sebuah fakta orang-orang yang telah (terkontaminasi) oleh bujuk rayuan kelompok radikal untuk membangun tegaknya propaganda negara khilafah. Perilaku-perilaku yang demikian adalah kebenaran tentang khilafah yang harus kita tolak. Dia bukan solusi, melainkan ilusi dan akan mereduksi tatanan negeri dengan segala perilaku anarki dan tidak manusiawi untuk menguasai tatanan ini.

Dari sinilah (QS. Al-Hujurat:6) menekankan ke dalam basis kata yang menyebabkan kamu (menyesal) atas (perbuatanmu) itu. Ini adalah fakta Al-Qur’an yang menggambarkan bagaimana orang-orang yang pernah hijrah ke negeri ISIS yang katanya khilafah sebagai solusi itu justru berakhir ke dalam kondisi menyesal.

Banyak orang Indonesia (mantan eks-ISIS) yang menyesal atas perbuatannya dan ingin pulang ke Indonesia dengan membawa satu kesadaran bahwa khilafah adalah kehancuran, khilafah adalah kejahatan, khilafah adalah petaka bagi bangsa dan khilafah adalah penyakit kronis yang harus kita jauhi.

This post was last modified on 30 November 2022 2:18 PM

Fathur Rohman

Photographer dan Wartawan di Arena UIN-SUKA Yogyakarta

Recent Posts

Di Tengah Gencar Ketahanan Pangan dan Energi, Jangan Lupakan Ketahanan Ideologi dan Literasi

Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…

1 minggu ago

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

1 bulan ago

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai…

2 bulan ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

3 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 bulan ago