Categories: Narasi

Cerdas Memilah Berita Tolikara

Peristiwa memilukan yang terjadi di Tolikara belum lama ini tentu mengejutkan. Kejadian tersebut berlangsung tepat saat kebanyakan dari kita masih asik makan ketupat dan opor ayam di hari kemenangan yang baru saja selesai kita rayakan. Kebanyakan dari kita yang sebenarnya berada sangat jauh dari lokasi kejadian sempat ikut blingsatan mendengar kabar tentang kekejian yang terjadi di tanah Papua itu, terlebih berbagai media seakan berlomba memberi kabar tentang apa yang ‘sebenarnya’ terjadi di sana.

Bagi kita yang malas melakukan verifikasi tentu akan mudah terpancing emosi, sebab ternyata tidak sedikit media yang mengaku memberitakan meski nyatanya mereka malah sedang membutakan. Informasi yang mereka sampaikan sangat jauh dari kebenaran, alih-alih menyampaikan fakta, mereka malah asik menebar praduga dan propaganda. Berita-berita baik (Baca: cnnindonesia.com) tidak akan mereka lirik, karena justru berita yang penuh intrik-lah yang paling menarik.

Misalnya, fakta tentang Pendeta GIDI dan Imam Masjid yang saling meminta maaf dan berpelukan di Tolikara atas kegilaan yang sempat terjadi tidak akan dijadikan sebagai tajuk utama pemberitaan. Mereka lebih tertarik untuk menampilkan ‘berita’ yang dapat membangkitkan amarah.

Karenanya kita harus cerdas memilih berita, jangan asal membaca apalagi sampai percaya begitu saja. Berikut adalah beberapa ciri-ciri media yang tidak layak baca. Saya menamai jenis medianya sesuai dengan sifat dari media tersebut.

  1. Media tipe Dangdut Khitanan

Pada jenis ini, media lebih mengutamakan tampilan daripada kualitas pemberitaan. Saya tidak bilang bahwa dangdut hanya soal pamer goyangan, sebab banyak juga dangdut yang berkualitas yahud. Karenanya saya hanya mengkhususkan pada dangdutan di khitanan, yang hanya ada untuk membuat kebisingan dan keruwetan goyangan. Dalam konteks media, ‘goyangan’ yang ditampilkan kerap berupa judul-judul berita yang kerap dibuat secara seronok dan urakan. Kita yang membaca isi beritanya akan hilang kesadaran dan lupa pada semangat utama kemanusiaan.

  1. Media tipe Orang Kerokan

Jika anda pernah kerokan, anda pasti tahu bahwa tujuan utama dari aktifitas ini adalah menimbulkan bekas merah pada bagian tubuh yang dikerok. Beberapa mungkin masih mengira bahwa tanda merah yang muncul adalah bukti bahwa anda sedang masuk angin, padahal tanpa masuk angin sekalipun, kulit anda pasti akan merah jika digosok menggunakan koin plus balsem! Begitu juga dengan media jenis ini, memberitakan fakta secara jauh lebih mengerikan daripada kejadian yang sesungguhnya. Gambar dan pernyataan palsu biasanya sengaja dimasukkan untuk menambah sense kengerian. Kita yang membaca tulisan mereka akan mengalami merah-merah pada mata, otak dan hati.

  1. Media tipe Pengadilan

Mungkin media jenis ini tidak pernah butuh polisi atau hakim yang akan membacakan putusan di balik meja persidangan, karena mereka sudah berlaku laiknya pengadilan itu sendiri. Isi dan ragam pemberitaan yang mereka sebar tidak lain adalah untuk memetakan siapa lawan siapa kawan. Dalam memberitakan suatu persitiwa, media jenis ini tidak akan segan untuk langsung menunjuk hidung tersangka yang menurut mereka paling bertanggungjawab. Bagaimana dengan metode konfirmasi? Basi! Mereka tidak punya waktu dan nyali untuk melakukan itu.

  1. Media tipe Oplosan

Tipe terakhir dari media yang tidak layak baca adalah tipe oplosan. Layakanya ‘ramuan sakti’ pada minuman oplosan yang asal campur dan asal minum, media jenis ini juga sangat santai dalam mencampur dan mengoplos sumber berita. Kenapa sumber? Tentu karena biasanya media ini berisi orang-orang yang tidak pernah datang langsung ke lokasi. Informasi yang diterima adalah ragam berita yang sudah kadung bertebaran di media. Apakah isi beritanya ‘memabukkan’? tentu iya, karena dengan membaca berita dari media jenis ini kita bisa langsung kehilangan kesadaran.

Namun yang paling mengerikan, dalam konteks ini kita pun bisa tanpa sadar menjadi bagian di dalamnya. Kecuekan kita untuk begitu saja men-share berita di medsos masing-masing tanpa terlebih dulu membaca dan memahami isi beritanya sama juga dengan mengoplos berita tanpa pernah peduli pada takarannya.

Karenanya, silahkan membaca karena membaca dapat membuka dunia. Namun, jangan pernah lupa untuk selalu kritis dan selektif dalam memilih bacaan, karena seperti kata Slipknot dalam lagunya yang berjudul “duality”; nothing is what it seems!

Selamat membaca!

This post was last modified on 27 Juli 2015 2:44 PM

Khoirul Anam

Alumni Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS), UGM Yogyakarta. Pernah nyantri di Ponpes Salafiyah Syafiyah, Sukorejo, Situbondo, Jatim dan Ponpes al Asyariah, kalibeber, Wonosobo, Jateng. Aktif menulis untuk tema perdamaian, deradikalisasi, dan agama. Tinggal di @anam_tujuh

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago