Narasi

Dzikir dan Metode Deradikalisasi II

Kearifan lokal, yang mengendap dalam berbagai warisan kebudayaan masa silam, cukup banyak menyimpan kiat tertentu yang masih berguna hingga kini. Pada bahasan Dzikir dan Metode Deradikalisasi I, pernah saya ungkap tentang karakteristik berbagai kedirian manusia dalam mengarungi kehidupannya. Dari beberapa penelitian, saya pun menemukan bahwa ternyata diri manusia dan transformasinya yang dikabarkan oleh al-Qur’an bersifat ilmiah dan medis (Kalacakra dan Penghayatan Waktu Orang Jawa, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).

Seumpamanya, diri ammarah, lawwamah, dan muthmainnah yang dikabarkan oleh al-Qur’an, dimana oleh orang Jawa di masa silam disebut dengan istilah “sedulur 4” (amarah, aluamah, supiyah, mutmainah). Pada kisah wayang Sastrajendra, digambarkanlah bahwa amarah yang dilambangkan oleh karakter Rahwana terlahir dari telinga. Sementara aluamah yang dilambangkan oleh karakter Kumbakarna terlahir dari mulut. Adapun supiyah yang dilambangkan oleh karakter Sarpakenaka terlahir dari mata. Yang terakhir, Gunawan Wibisana, yang melambangkan diri mutmainah, terlahir dari hidung.

Pada kisah Sastrajendra tersebut rupanya terdapat rincian yang bersifat ilmiah dan medis. Orang-orang radikal yang kondisi kediriannya berada pada tahap ammarah memang memiliki kecenderungan untuk gampang marah yang sudah pasti kerap mengalami sesak dada. Sebab, diri ammarah memiliki keterkaitan dengan empedu yang terletak di sekitar ulu hati. Hal ini mengindikasikan bahwa telinga merupakan pintu gerbang dari diri ammarah dan otomatis radikalisme. Bukankah tak ada sesak dada yang diakibatkan oleh memandang atau menghidu sesuatu? Kebanyakan dada sesak adalah karena mendengarkan sesuatu yang dirasakan tak enak, atau dalam istilah Jawa, “ngabangke kuping” (memerahkan telinga).

Sementara para teroris sudah pasti secara kejiwaan penuh kemuraman, atau setidaknya, memandang hidup laiknya penuh dengan penderitaan yang membuatnya seperti enggan untuk hidup dan memilih untuk menyakiti orang lain dengan mengorbankan dirinya sendiri. Kumbakarna konon terlahir dari mulut yang secara fisiologis memang terkait dengan rasa penyesalan atau ekspresi-ekspresi kekecewaan semacam sakit hati. Dalam lakon wayang Kumbakarna Gugur, adik Rahwana yang berwujud raksasa itu memang seperti nglalu, melankolis atau memilih untuk melenyapkan dirinya sendiri. Perangnya dengan para kera bala tentara Rama Wijaya seolah hanyalah alasan baginya untuk mati. Bukankah penyesalan sering berkaitan dengan bahasa verbal yang dilakukan oleh mulut? Bukankah hanya mulut yang dapat mengungkapkan rasa penyesalan dan bukannya mata atau telinga?

Supiyah, yang dilambangkan oleh adik ketiga Rahwana, Sarpakenaka, berkaitan dengan mata yang menyambung ke kelamin (syahwat). Orang yang dikatakan terpesona sudah pasti berkaitan dengan pesona atau citra yang berhubungan dengan mata. Rangsangan kelamin jelas lebih berkaitan dengan mata daripada hidung, mulut ataupun telinga. Jadi, syahwat memang cukup erat kaitannya dengan mata.

Ketiga sedulur tersebut—Rahwana, Kumbakarna, dan Sarpakenaka—adalah semacam samsara yang membutuhkan pembebasan dari Gunawan Wibisana. Artinya, kunci dari sedulur amarah (nafsu amarah), aluamah (ketamakan), dan supiyah (nafsu syahwat) adalah mutmainah yang berkaitan dengan hidung. Itulah kenapa dalam lakon wayang Wahyu Makutharama dikisahkan bahwa hanya Gunawan Wibisana-lah yang dapat menyempurnakan (menderadikalisasi) Kumbakarna.     

This post was last modified on 11 Januari 2021 12:09 PM

Heru harjo hutomo

Recent Posts

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

3 hari ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

3 hari ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

6 hari ago

Peta Jalan Penanggulangan Terorisme-Jurnal Jalan Damai Vol. 1. No. 10 Desember 2025

Salam Damai, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya Jurnal…

4 minggu ago

Agama Cinta Sebagai Energi Kebangsaan Menjinakkan Intoleransi

Segala tindakan yang membuat kerusakan adalah tidak dibenarkan dan bukan ajaran agama manapun. Kita hidup…

1 bulan ago

Bagaimana Menjalin Hubungan Antar-Agama dalam Konteks Negara-Bangsa? Belajar dari Rasulullah Sewaktu di Madinah

Ketika wacana hubungan antar-agama kembali menghangat, utamanya di tengah menguatnya tuduhan sinkretisme yang dialamatkan pada…

1 bulan ago