Narasi

Idul Fitri: Sambut Momen Perdamaian Negeri

Hari Raya Idul Fitri merupakan puncak kemenangan umat muslim setelah melakukan perjalanan jauh mencari ketaqwaan disisi Allah SWT, takwa dalam artian mendekatkan diri kapada sang pencipta sekaligus mencari ketenangan batin dan kepuasan dalam menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Setelah puasa penuh tibalah saatnya kita menikmati kemeriahan dan sambut momen perdamaian untuk menyatukan bangsa yang sempat bercerai-berai akibat gesekan ideologi dan juga perselisihan kepentingan kelompok maupun individu dan sekarang kita sama-sama membersihkan jiwa raga kita untuk kembali fitrah layaknya bayi yang baru lahir ke dunia.

Selain sebagai pembersih jiwa dan raga Idu Fitri juga menjadi momen kemeriahan bagi setiap umat manusia, terkhusus bagi umat muslim. Ada banyak cara untuk menyambut kemeriahan hari raya Ied semisal di kepulauan Madura Jawa Timur, biasanya orang-orang pulau saling mengunjungi keluarga yang ada dipulau sebrang, menjalin silaturrahim, memperkuat rasa kekeluargaan diantara kerabat yang jauh dipulau. Hal seperti inilah yang selalu didamba karena berdampak pada perdamaian umat muslim diseluruh penjuru negri, tak terkecuali dikepulauan Madura.

Selain bentuk kemeriahan yang dimeriahkan di kepulauan, ada juga kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Setelah melalukan puasa sebulan penuh, momen hari Ied juga menjadi ajang intropeksi diri saling memaafkan kesalahan yang dilakukan disengaja maupun tidak disengaja. Selain itu, Rasulullah pernah mengajarkan dalam salah satu hadistnya tentang do’a dan ucapan selamat dalam menyambut hari raya Ied,  dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjumpa dengan hari Ied, satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobballahu minna wa minka (semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).”Al Hafizh Ibn Hajar mengatakan bahwa sanad hadist ini hasan (baik). Selain itu Imam Ahmad rahimallahu berkata, “walaa ba’sa ayyaquularrajula lirrajuli yaumal ‘Ied taqobbalallahu minna waminka.”

“Tidak mengapa (artinya:boleh-boleh saja) satu sama lain di hari raya ‘ied mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minka”.(Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379,2/446. Syaikh Al Albani dalam Tamamuh Minnah 356 mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih)

Spirit Perdamaian dihari Raya ‘Ied

Memupuk perdamaian dihari raya sangat tepat sekali bahkan harus diwajibkan bagi setiap umat manusia, dari mulai digemakan bacaan Takbir yang memecah sunyi subuh sampai terbenannya fajar. Sebenarnya perdamaian itu bisa dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu hari raya, tetapi dengan hari raya itu spirit perdamaian begitu terasa karena kita sama-sama memusatkan perhatian kita pada satu puncak yaitu kemenangan, artinya selama menjalani bulan puasa penuh, menahan makan, minum, dan juga menahan diri dari segala bentuk maksiat kepada Allah SWT.

Dengan demikian rasa damai yang ditanam dalam diri kita akan selalu tumbuh subur seiring berjalannya waktu dari tahun ke tahun. Dan selalu belajar menjadi peribadi yang selalu merindukan bulan suci romadhan terlebih mengharap kesucian lahir batin menjelang hari raya Idu Fitri. Dalam kutipan sajak Maulana Rumi yang mana ia mensimbolkan romadhan sebagai Maryam dan Idul Fitri adalah Isa, kedua simbol itu tidak bisa dipisahkan yang mana Isa dan Maryam merupakan salah satu bentuk kekusaan Allah SWT begitupun Ramadhan dengan Idul Fitri keduanya adalah tanda dari sekian banyak tanda kekuasaaan sang pencipta. Berikut sepenggal sajak Maulana Rumi;

“wahai jiwa, tak perlu berputus asa sebab harapan telah tiba’                

‘harapan bagi seluruh jiwa telah sampai pada kegaiban’

‘tak perlu bersedih meskipun dirimu telah kehilangan Maryam’

‘sebab cahaya isa telah datang mengintari’

‘wahai jiwa, tak perlu bersedih dalam kegelapan penjara ini’

‘sebab Raja telah mengeluarkan Yusuf dari penjara’

‘sebagaimana Ya’kub telah keluar dari hijab ketersembunyiannya’

‘dan juga Zulaikha telah merobek tirai Yusuf’

‘duhai yang puasamu dari singgasana yang tinggi’

‘berbahagialah, berbahagialah, sebab Ied telah datang’

(Muhammad Nur Jabir:2015)

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari kutipan sajak Rumi adalah, bahwasanya jiwa kita telah dibebaskan dari kumpulan dosa masa lalu dengan menyambut Idul Fitri lembaran-lembaran baru mulai kita buka kembali dengan semangat Fitri menyambut perdamaian Negri, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H

Amiruddin Mb

View Comments

Recent Posts

Mengenali Tanda Awal Paparan Ekstremisme Digital: Keluarga Wajib Hadir!

Seorang anak yang biasanya terbuka tiba-tiba enggan bercerita. Ia semakin tertutup tentang teman-teman daringnya, sering…

31 menit ago

Parental Gaming: Revolusi Pengasuhan di Tengah Ancaman Radikalisasi Gim Daring

Sebagai ibu dari seorang putri berusia 10 tahun, saya kerap tergagap-gagap mengikuti perkembangannya. Misalnya, ketika…

33 menit ago

Belajar dari Anak yang Terpapar

Pukul sebelas malam, lampu kamar anak masih menyala. Orang tuanya mengira ia sedang mengerjakan tugas.…

34 menit ago

Jangan Hanya Awasi Layarnya, Mari Lindungi Anak dari Grooming dan Radikalisasi Online

Anak-anak hari ini tumbuh di dunia yang berbeda dari dunia yang dikenal orang tua mereka.…

1 hari ago

Anatomi Digital Grooming: Kenali Enam Langkah Rekrutmen Ekstremis di Gim Daring

Bagi sebagian besar orang tua, pemandangan anak sedang bermain gim daring barangkali tidak asing. Bermain…

1 hari ago

Dari Teman Mabar ke Ruang Ekstremisme: Modus Digital Grooming dalam Perekrutan Anak

Bayangkan seorang anak yang sedang bermain gim daring. Ia bertemu pemain lain yang ramah, sering…

1 hari ago