Narasi

Implementasi Pesan Perdamaian Haji di Tanah Air

Ritual tahunan ibadah haji telah selesai ditunaikan. Jemaah haji dari berbagai negara telah kembali ke tempatnya masing-masing. Kebahagiaan tak terkira menyelimuti mereka semua yang telah tuntas melaksanakan rukun Islam yang kelima. Rukun pamungkas dalam agama Islam, pertanda kesempurnaan ibadah bagi umat Islam yang menunaikan.

Tentu, banyak pengalaman yang diperoleh jemaah disaat menjalankan ritual keagamaan ibadah haji. Khususnya pengalaman spiritual yang dapat mengokohkan keimanan, serta insyaallah tercatat sebagai pahala yang nilainya tak bisa disangka. Benar, haji mabrur balasannya tiada lain adalah surga.

Selain itu, sebagaimana kewajiban teologis yang lain, dalam ibadah haji ada hikmah-hikmah mendalam. Berupa pesan-pesan keagamaan untuk umat manusia, tak terbatas hanya bagi umat Islam saja. Diantaranya adalah pesan perdamaian dan persatuan.

Ibadah haji dilingkupi oleh perbedaan budaya, etnis, suku dan bahkan madhab fikih. Sebuah realitas sosial yang membuktikan, bahwa manusia selamanya tidak akan sama. Pluralisme, baik yang bernuansa keagamaan atau kemanusiaan, akan selalu hadir menghampiri manusia. Sebagai suatu keniscayaan yang tak terhindarkan.

Dalam ibadah haji, pluralisme itu tidak sampai mereduksi nilai-nilai esensial yang menjadi tujuan asasi dari ibadah haji. Perbedaan budaya, keberagamaan kelompok, perbedaan madhab fikih yang dianut, justru menjadi ruang diplomasi antar umat Islam untuk mengenali spirit peradaban, baik yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, kebudayaan, realitas sosial dan segala kekhasan masing-masing umat Islam yang berbeda asal negara dan latar belakang tersebut.

Antar jemaah haji mampu menjalin tali persaudaraan yang dilandasi oleh semangat persaudaraan seiman dan semangat kemanusiaan. Dalam ibadah haji juga terjadi kelindan ta’aruf yang melepaskan sekat-sekat lokalitas. Bagi mereka, perbedaan cara mengekspresikan ritual keagamaan tidak menjadi soal, sebab semua jemaah haji yang berkumpul masing-masing mengakui yang lain sebagai saudara, paling tidak mereka adalah saudara seiman.

Tanpa disadari, sesungguhnya ibadah haji menjadi jembatan pemersatu peradaban umat Islam seluruh dunia. Mengkonstruksi sebuah semangat perdamaian untuk membangun persaudaraan. Disamping itu, ibadah haji juga mengajarkan semangat kemanusiaan yang rerata. Hal itu tergambar dari pakaian ihram yang warnanya sama-sama putih dan berbagai atribut lain antar mereka yang tidak memiliki perbedaan yang mencolok.

Allah, sebagaimana abadi dalam al Qur’an (al Baqarah: 199), pernah menegur dengan keras sekelompok jemaah haji yang dikenal dengan al hummas. Mereka bersikap elit karena menilai diri sebagai kelompok jemaah haji yang lebih mulai dari yang lain. Mereka enggan berkumpul dengan jemaah yang lain ketika wukuf. Kelompok elit tersebut wukuf di Muzdalifah, sementara jemaah yang lain semuanya di Arafah.

Teguran keras ini menandakan begitu kuatnya nilai-nilai dan pesan kemanusiaan universal yang ada dalam ibadah haji. Sejatinya semua manusia itu sama dihadapan Allah. Perbedaan dan keberagaman adalah sebuah anugerah sebagai khazanah kekayaan dan kekhasan masing-masing. Termasuk perbedaan perspektif dan tata cara teknis ibadah haji. Kesemuanya menjadi medium ta’aruf, untuk saling mengenal dan sebab itu akan terbina persaudaraan.

Asas saling membantu dan melindungi juga tampak dalam praktik peribadatan ibadah haji. Yang kuat membantu yang lemah, yang muda membantu yang tua dan yang kaya membantu yang miskin supaya sama-sama bisa mencapai kesempurnaan dalam setiap kewajiban dalam ibadah haji. Seakan-akan ada energi yang sangat kuat menggerakkan jemaah haji dalam semangat persaudaraan dan kemanusiaan. Yang satu membantu meringankan yang lain, dan seterusnya.

Unsur-unsur di atas menjadi medium membangun identitas pribadi muslim yang mengedepankan semangat kebersamaan menuju pribadi bertakwa yang humanis. Disinilah sebetulnya makna predikat “haji mabrur”, yakni menjalankan ibadah haji dengan semangat keberagamaan yang kuat dan membiaskan semangat kemanusiaan yang juga kuat.

This post was last modified on 7 Juli 2023 1:10 PM

Abdul Hakim

Recent Posts

Di Tengah Gencar Ketahanan Pangan dan Energi, Jangan Lupakan Ketahanan Ideologi dan Literasi

Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…

1 minggu ago

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

1 bulan ago

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai…

2 bulan ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

3 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 bulan ago