Narasi

Islam, Kearifan Lokal dan Toleransi

Kemufakatan sekelompok manusia yang dilakukan secara berulang-ulang, turun-temurun dari generasi ke generasi dan telah mentradisi disebut adat. Adat kemudian menjadi nilai dan norma-norma yang harus dipatuhi. Hukum tak tertulis yang mengatur pola hidup suatu komunitas yang hidup bersama. Kemudian, menjadi identitas dan jati diri. Adat yang telah mengakar dan menjadi praktik hidup kemudian diistilahkan dengan kearifan lokal.

Tentang kearifan lokal, Islam sangat mengapresiasinya, bahkan dirumuskan sebagai sumber hukum meskipun tidak disepakati oleh semua ulama. Yaitu, ‘Urf yang berarti istiadat yang telah dikenal dan umum dilakukan dalam suatu komunitas masyarakat tertentu dengan kekhasannya untuk kemaslahatan lokal.

Dengan demikian, sebenarnya Islam sedari dulu telah merumuskan kearifan lokal sebagai dalil yang harus dipatuhi. Hal itu dituangkan dalam kaidah fikih yang berbunyi, “Al ‘Adat al Muhakkamah” atau istiadat sebagai hukum. Mematuhinya berarti pahala dan nyalahinya adalah dosa. Tentu jika kemaslahatan yang diinginkan oleh istiadat tersebut tidak bertentangan secara prinsip dengan nilai-nilai universal agama Islam.

Penjelasan ini menegaskan bahwa merawat kearifan lokal suatu kelompok masyarakat yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Apabila tidak ada yang peduli sama sekali, semuanya berdosa.

Salah satu contoh kearifan lokal, masyarakat Sulawesi Utara memiliki filosofi “Sitou Timou Tumou Tou” yang berarti, “Manusia hidup untuk menghidupi sesama”. Filosofi ini ampuh menjadi benteng mengokohkan persaudaraan, nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi tersebut menjadi titik temu toleransi yang mengantarkan kepada kehidupan yang harmonis tanpa mempersoalkan agama yang dianut, suku, etnis maupun golongan.

Sejatinya, ini merupakan ejawantah dari ajaran agama Islam yang mewajibkan penganutnya untuk senantiasa menjaga baik-baik “Ukhuwah Basyariah” yang berarti persaudaraan kemanusiaan. Bahwa, manusia harus dihormati dalam kapasitasnya sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Apapun agamanya, suku dan etnisnya, serta berasal dari golongan manapun.

Kehendak ayat al Qur’an (al Hujarat: 13) menginginkan supaya manusia saling kenal mengenal sebab mereka diciptakan dari suku-suku dan bangsa-bangsa yang berbeda. Perbedaan tersebut kehendak Allah yang wajib kita terima. Keragaman merupakan anugrah Allah agar kita saling mengenal, kemudian saling menghormati.

Kearifan Lokal sebagai Benteng

Kearifan lokal seperti di atas, dengan sendirinya telah menjadi benteng kuat yang bisa melindungi seseorang dari doktrin atau ajaran agama tertentu yang memaknai kebenaran hanya miliknya. Contoh nyata adalah ideologi transnasional yang menghembuskan kebencian, erupsi ayat atau hadis untuk meraih tujuan tertentu, melegalkan keonaran dan pembunuhan, dan lain-lain. Dengan filosofi “Manusia hidup untuk menghidupi sesama” ideologi transnasional tidak akan laku sebab makna “menghidupi sesama” menegaskan untuk menjaga kehidupan orang lain tanpa melihat latar belakang.

Satu kearifan lokal di atas, juga karifan-kearifan lokal yang lain yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia telah terbukti dari dulu mampu merekatkan persaudaraan antar sesama. Sehingga Indonesia yang menyimpan keragaman di dalamnya telah mampu menciptakan kerukunan, persaudaraan dan kedamaian.

Untuk itu, filosofi dan nilai hidup yang sangat memukau yang dimiliki masyarakat Indonesia sedari dulu itu harus selalu dirawat. Karena disamping tidak bertentangan dengan agama sebab maslahatnya sama dengan kehendak maslahat agama, juga menumbuhkan sikap toleransi yang menjadi kekuatan pondasi keutuhan NKRI dan benteng kokoh yang menghalangi pengaruh ideologi-ideologi penghancur umat manusia, seperti ideologi transnasional.

This post was last modified on 30 Agustus 2021 12:29 PM

Faizatul Ummah

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago