Narasi

Konflik Palestina-Israel dan Kepongahan Pengusung Khilafah

Para pengusung khilafah selalu mengklaim bahwa khilafah adalah satu-satunya jalan kebenaran. Dengan khilafah, semua permasalahan –apapun itu –akan selesai. Khilafah tak ubahnya seperti obat ajaib yang bisa menyembuhkan segala penyakit dan persoalan kehidupan manusia. Keyakinan ini yang selalu dikoar-koarkan oleh kaum khilafahis.

Semua hal, semua masalah, dan semua kejadian –solusinya tetap khilafah. Prinsip “serba khilafah” inilah yang saya maksud dengan khilafahisme, satu sikap yang meyakini bahwa tanpa khilafah, dunia tak akan baik, terurus, dan tentu tak akan islami.

Di titik inilah persis letak kepongahan khilafahisme. Mengklaim dan memonopoli kebenaran, sembari menegasikan sesuatu yang berbeda dengannya. Yang ada di benak pera pengusng khilafah adalah bahwa selama khilafah belum ditegakkan, dunia belum sempurna. Kesempurnaan hanya ada dalam khilafah.

Sesuai dengan standar “kepongahan” yang pernah diucapkan oleh Nabi, kaum khilafahis masuk ke dalam kategori itu. Nabi pernah menyatakan bahwa ada dua tanda kesombongan, pertama menolak kebenaran, kedua merendahkan orang lain.

Menolak kebenaran artinya adalah tidak mau mengakui kebanaran yang lain. Kebenaran pihak lain dianggap palsu. Kebenaran kelompok lain dituduh belum hakiki. Kebenaran di luar kelompoknya disepelekan dan dicap kurang islami. Persis inilah watak kaum khilafahis.

Merendahkan orang lain maksudnya tidak mau belajar di luar kelompoknya. Sebab, meyakini hanya dan hanya kelompoknya yang benar, sikap merendahkan –dengan menyebutnya tidak syar’i, sistem thagut, sesat, dan sistem jahiliyah—pun muncul dengan sendirinya.

Kedua sikap ini kita dapati pada diri pengusung khilafah ketika merespons konflik Israel-Palestina. Bagi mereka hanya khilfahlah satu-satunya, tidak ada yang lain, yang bisa menjadi solusi konflik Israrel-Palestina.

Para pengusung khilafah seolah lupa bahwa masalah Isrea-Palestina itu adalah masalah kompleks, yang tidak bisa didekati hanya dengan satu pendekatan saja.

Akibat mereka hanya meyakini bahwa khilafahlah satu-satunya jalan keluar, maka otomatis mereka menolak solusi did luar itu. Bagi mereka, solusi di luar khilafah tidak riil dan tidak meyakinkan. Inilah bentuk kepongahan. Merasa sempurna dan menegasikan yang lain.

Bentuk kepongahan pengusung khilafah itu adalah  merendahkan kelompok lain yang dianggap tidak membela Palestina. Membela yang dimaksud oleh para pengusung khilafah itu adalah membela dalam arti sempit. Turun ke jalan, teriak-teriak di media sosial, dan ikut membaikot produk Israel.

Tak jarang, para pengusung khilafah berbondong-bondong memuja dan memuju Erdogan bak dewa penyelamat, kerena dianggap membela Palsetina, sembari merendahkan pemimpin lain.

Peminpin negeri sendiri diejek, dicaci maki, dan sering dianggap tidak islami. Hanya gara-gara Erdogan sering menggunakan atribut-atribut dan simbol-simbol keislaman yang artifisial, para pengasong khilafah itu mandapuk Erdogan sebagai pemimpin umat Islam, dan pemimpin negara muslim lainnya tidak dianggap sama sekali.

Selain merendahakan pemimpin lain, mereka juga malakukan kepongahan dengan memonopoli kebenaran sejarah. Seolah narasi sejarah merekalah yang paling benar, sementara narasi sejarah lain dianggap tidak valid.

Jika diberikan narasi alternatif sebagai pembanding, bahwa sejarah kekhalifahan itu tidak sebersih, sesuci, dan seindah yang mereka klaim, mereka dengan pongah menyatakan sejarah itu tidak shahih, itu hanya rekaan kaum yang tidak suka dengan tegaknya khilafah.

Jika diceritakan kepada mereka bahwa dalam sejarah kekhilafahan itu banyak terjadi pembunuhan: anak dengan ayah, ibu bersekonngkol dengan anak, pertumbahan dan perang anatar dua sadura, dan seterusnya, mereka dengan segara menyatakan itu adalah sejarah  rekayasa kaum orientalis.

Intinya, narasi sejarah di luar kelompoknya dianggap palsu, rekaan, tidak valid. Inilah bentuk kepongahan yang sangat menjengkelkan dari pengusung khilafah. Kedua bentuk kepongan di atas, yakni merendahakan orang lain dan memonopoli kebenaran –akan selalu dipertontonkan kaum khilafahis, sebab bagi mereka khilafahisme adala segalanya.

This post was last modified on 16 Oktober 2023 12:39 PM

Hamka Husein Hasibuan

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago