Narasi

Maksud Dakwah Mereka Ingin Bela Islam, Benarkah Mereka Membela Islam?

Pekik-pekik takbir, dan teriakan-teriakan bela Islam dan agama menjadi salah satu ciri khas tak terpisahkan dari dakwah keislaman salah-satu kelompok muslim Indonesia: Siapakah mereka? Siapa lagi kalau bukan FPI namanya. Teriak-teriak bela Islam dan agama adalah bagian tak terpisahkan dari dakwah keislamannya.

Mereka laiknya Bung Tomo, memekikkan takbir di mana-mana. Tapi, bedanya, saat itu Bung Tomo memekikkan takbir karena ada musuh yang harus diperangi. Lah, sekarang, mereka teriak-teriak dan memekikkan takbir di mana-mana siapa yang mau diperangi? Ada sih, tapi, gak usah pekik takbir di jalanan juga kali. Sebab, saya kira musuh yang harus kita perangi hari ini ada dalam diri kita sendiri, yakni, ego, kesombongan, keangkuhan, dan kepentingan pribadi.

Jadi, menurut saya, lebih etisnya takbir-takbir itu dibaca pelan-pelan saja di rumah masing-masing, atau di Masjid-Masjid suci. Karena hal itu akan berdampak lebih baik bagi jiwa dan spiritualitas kita, yakni menentramkan sekaligus senantiasa mengingatkan kita bahwa ada Dia (Allah) yang Maha Besar. Hal itu, tentu berbeda dengan takbir yang dipekikkan di jalanan. Saya kira takbir-takbir jalanan itu hanya akan menaikkan kadar emosi kita, sebab tampak dipekikkan dengan kebencian. Bukan dengan kerendahan hati dan jiwa.

Lagian, dengan melihat kenyataan lapangan yang mereka lakukan dengan embel-embel membela Islam, saya ragu, mereka ini benar-benar membela Islam atau tidak? Keraguan saya berangkat dari tindakan-tindakan mereka yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam itu sendiri. Tampak keras dan penuh amarah.

Ibaratnya, mereka seperti orang-orang beragama yang dilarang menjalankan ibadahnya. Padahal, di Indonesia kebebasan untuk menjalankan agama masing-masing sangat terjamin. Setiap saya hendak shalat di Masjid, kayaknya belum ada aparat negara yang mengusir saya untuk pulang. Nggak tahu bagi mereka, adakah pelarangan itu?

Karena itu, saya berkesimpulan, seandainya mereka betul-betul ingin membela Islam, nilai-nilai utama dari Islam seharusnya tidak ditinggalkan. Alias diutamakan seharusnya. Sebab, adalah tidak dibenarkan jika ingin membela Islam namun mengorbankan nilai-nilai Islam yang sesungguhnya. Hal itu sama saja dengan merendahkan Islam. Yang benar, dalam hemat saya, adalah membela Islam namun tidak mengesampingkan nilai-nilai Islam itu sendiri.

Namun, sampai di sini, saya masih ragu. Artinya betulkah Islam itu perlu dibela. Saya rasa tidak. Yang perlu dibela dan harus terus dilestarikan itu adalah nilai-nilai Islam itu sendiri. Sebab, dengan membela Islam belum tentu kita membela nilai-nilai Islam.

Contohnya, ISIS, dan kelompok Islam keras lainnya juga bermaksud bela Islam; ingin menegakkan agama Islam, katanya. Tapi, buktinya mereka malah membuat Islam itu sendiri tercemar dengan segala atributnya. Bahkan, seperti diketahui, gerakan bela Islam yang dipelopori ISIS telah menumbuhkan kebencian sejumlah negara Barat kepada Islam.

Atas hal itu, gerakan bela Islam saya pikir kurang dibutuhkan. Dan gerakan bela Islam itu patut kita pertanyakan. Masalahnya gerakan ini mencemari kekayaan nilai-nilai Islam toleran dan cinta kasih. Akan tetapi, sebagai sesama warga negara demokrasi, tentu kita hargai mereka. Tapi, ayolah sama-sama sadar, bahwa membela Islam bukan begitu caranya.

Eksistensi umat Islam di Indonesia masih dijamin kebebasan dalam melaksanakan setiap ritual ibadahnya. Tak usah begitulah. Daripada teriak-teriak bela Islam, namun mencemari nilai-nilai luhur Islam, mari kita bersatu-padu menjadi saudara yang memperjuangkan nilai-nilai dan subtansi Islam. Wallahu A’lam.

This post was last modified on 16 Desember 2020 3:24 PM

Rusdiyono

Recent Posts

Di Tengah Gencar Ketahanan Pangan dan Energi, Jangan Lupakan Ketahanan Ideologi dan Literasi

Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…

5 hari ago

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

1 bulan ago

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai…

2 bulan ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

2 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 bulan ago