Narasi

Meletakkan Simbolisme dalam Prinsip Agama Bermaslahat

Semakin ke sini, agama semakin hadir dengan wajah yang sangat visual. Mulai dari gaya busana, istilah bahasa, hingga panji-panji yang dikibarkan dalam kerumunan massa. Fenomena ini menandakan bahwa agama sedang mengalami revivalisme.

Namun, di balik semaraknya ekspresi tersebut, muncul sebuah pertanyaan reflektif yang patut kita renungkan. Apakah melimpahnya simbol-simbol keagamaan ini berbanding lurus dengan peningkatan kualitas kemanusiaan dan kemaslahatan publik?

Atau justru, kita sedang terjebak dalam glorifikasi simbol namun mengalami pendangkalan substansi?

Sebagai makhluk pencari makna, manusia memang tidak bisa lepas dari simbol. Clifford Geertz dalam magnum opus-nya mendefinisikan budaya, termasuk agama di dalamnya, sebagai sebuah sistem simbol.

Bagi Geertz, simbol berfungsi sebagai model of (model dari realitas) dan model for (pedoman untuk bertindak). Simbol membantu individu memahami dunia yang kompleks ini, memberikan struktur pada pengalaman yang acak, dan memotivasi tindakan. Tanpa simbol, pemahaman manusia tentang Yang Transenden mungkin akan tetap abstrak dan sulit dijangkau.

Dalam konteks keindonesiaan, kita bisa melihat bagaimana simbol bekerja secara dinamis. Ambil contoh fenomena pengibaran bendera bertuliskan kalimat tauhid yang kerap mewarnai aksi massa, seperti pada momen Reuni 212 yang selalu berlangsung tiap akhir tahun.

Secara sosiologis, bagi para pengusungnya, bendera tersebut bukan sekadar kain bertuliskan aksara Arab. Ia adalah simbol persatuan identitas, dan ekspresi solidaritas umat Islam yang merasa perlu merapatkan barisan.

Di mata mereka, simbol itu membangkitkan mood dan motivasi yang kuat untuk membela apa yang mereka yakini sebagai kebenaran. Ini adalah fungsi integratif dari simbol; ia menyatukan individu-individu yang berbeda ke dalam satu ikatan emosional yang sama.

Akan tetapi, simbol memiliki sifat bermata dua. Di satu sisi ia menyatukan (inklusif ke dalam), namun di sisi lain ia bisa memisahkan (eksklusif ke luar). Bagi sebagian masyarakat lain yang memandang dari luar lingkaran tersebut, simbol yang sama bisa dimaknai secara diametral.

Bendera itu mungkin tidak dibaca sebagai pesan persatuan, melainkan sebagai sinyal eksklusivitas, dominasi kelompok, atau bahkan intimidasi terhadap keberagaman bangsa.

Di sinilah letak krusialnya: simbol itu netral, namun tafsir atas simbol selalu terikat konteks sosial dan politik. Masalah muncul ketika simbolisme agama berhenti sebagai identitas kelompok semata dan melupakan fungsi utamanya sebagai jalan menuju kemaslahatan (maslahat).

Dalam situasi ini, pemahaman tentang agama bermaslahat menjadi penting. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, istilah “beragama maslahat” muncul sebagai arah pembangunan untuk menggantikan atau menyempurnakan narasi kebijakan agama sebelumnya.

Secara mendasar, beragama maslahat didefinisikan sebagai praktik beragama yang mendatangkan kegembiraan dan kebermanfaatan, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat sekitar.

Paradigma ini menuntut pergeseran cara beragama dari cara beragama yang “teknis” menjadi cara beragama yang “fungsional”. Artinya, kesalehan tidak lagi hanya diukur dari intensitas ritual di ruang privat, tetapi seberapa besar ritual tersebut berdampak pada kesejahteraan umum.

Agama diturunkan bukan semata-mata untuk mengibarkan bendera atau menonjolkan atribut fisik, melainkan untuk memanusiakan manusia. Dalam kaidah usul fiqh, tujuan syariat (maqashid syariah) adalah untuk mewujudkan kebaikan dan menolak kerusakan.

Jika penggunaan sebuah simbol agama justru memicu perpecahan, ketakutan, atau kebencian yang meluas, maka kita perlu memeriksa ulang: apakah kita sedang membela Tuhan, atau sedang membela ego kelompok kita sendiri dengan meminjam nama Tuhan?

Bahaya terbesar dari glorifikasi simbol yang berlebihan adalah ketika simbol tersebut disakralkan melebihi pesan yang dibawanya. Kita bisa menjadi sangat marah ketika simbol agama kita dinistakan, namun sering kali abai ketika nilai-nilai agama itu sendiri—seperti keadilan, kejujuran, dan kasih sayang—diinjak-injak oleh korupsi atau ketidakadilan sosial.

Selain itu, kita perlu menggeser titik tekan keberagamaan kita dari kesalehan simbolik menuju kesalehan sosial. Simbol persatuan Islam, misalnya, akan jauh lebih bertenaga dan menyentuh hati jika dimanifestasikan dalam bentuk simbol-simbol kerja nyata, gotong royong membersihkan lingkungan pascabencana, santunan lintas iman, atau advokasi bagi kaum tertindas tanpa melihat latar belakang mereka.

Menjadi religius secara dewasa berarti mampu menggunakan simbol sebagai jembatan, bukan tembok. Mari kita kembalikan simbol-simbol agama pada fungsi luhurnya, sebagai lentera yang menerangi jalan menuju kebaikan bersama, bukan sebagai alat untuk membelah tenun kebangsaan kita.

Pada akhirnya, Tuhan tidak menilai seberapa besar bendera yang kita kibarkan, melainkan seberapa besar manfaat yang kita tebarkan bagi sesama makhluk-Nya.

Gatot Sebastian

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago