Narasi

Memviralkan Dakwah Washatiyah

Kondisi pandemi yang berkepanjangan dan entah akan berakhir kapan, mau tidak mau membangun mental berpikir yang dapat menggerus pertahanan rasa aman. Insecurity (rasa tidak aman) pun menggelayuti pikiran, terlebih persoalan nasionalisme dan rasa kebangsaan juga mendapat ancaman yang serius dari pihak-pihak yang anti nasionalisme.

Media yang diidamkan menjadi sumber pengetahuan, sumber kesejukan dan nutrisi bagi ruhani pun semakin disesaki oleh berbagai informasi yang salah dan sesat. Di era disrupsi ini, siapa saja bisa memviralkan pesan-pesan yang salah. Padahal, pesan viral pada umumnya diakses sangat cepat oleh masyarakat. Menabur keresahan pada masyarakat semakin mudah, cukup dilakukan dengan satu kali klik, dengan efek dasyat berupa kebingungan publik.

Sudah saatnya, fenomena ini dijawab dengan memantik postingan dakwah washatiyah di dunia maya.  Yahya (2017) menjelaskan bahwa washatiyah adalah pertengahan dan keseimbangan dalam menentukan sikap keberagamaan dan amaliyah ubudiyahnya.

Dakwah wasatiyah juga berarti menyeru dan mengajak kepada umat Islam untuk berada di antara keberagamaan yang berlebihan cenderung melampaui batas (ghuluw)  dan keberagamaan yang meremehkan, gegabah, ceroboh (ifra). Dakwah washatiyah disampaikan dengan damai, toleran, bijak, dan arif. Di tengah dakwah radikal yang semakin viral, dakwah washatiyah harus menjadi corong perdamaian dan penyejuk bagi umat. Di masa pandemi ini, dakwah washatiyah dapat menjadi sumber rujukan keberagamaan yang mengikis rasa tidak aman, sehingga dapat mengikis rasa resah di hati publik.

Memviralkan dakwah washatiyah agar menjadi nutrisi ruhani bagi umat Islam sangatlah penting. Dengan keberagamaan yang moderat, umat Islam dapat terhubung dengan berbagai potensi kebaikan. Umat Islam juga diharapkan dapat merasakan kedamaian yang akan berkontribusi menunjang kesehatan mental. Berbeda dengan dakwah radikal yang berlebihan, dakwah washatiyah tidak menuduh dan membuat suasana gaduh. Dakwah washatiyah mengajak dan menyeru pada informasi ber-Islam yang rahmatan lil alamin.

Para da’i diharapkan menjadi sumber daya insaniyah untuk mengembangkan sayap pada dakwah washatiyah di dunia virtual. Harapannya, dakwah virtual yang washatiyah dapat mencerahkan kehidupan masyaraakat, memberikan sumber kedamaian, rasa aman, dan menjadi ‘pupuk’ bagi potensi kebaikan pada diri insan.

Berbagai cara dapat ditempuh para da’i untuk menempuh dakwah washatiyah. Kabar bahagianya, sudah mulai membakal, pengajian kitab oleh para asatidz pesantren yang mengusung dakwah washatiyah.  Semakin intens para da’i melakukan dakwah washatiyah virtual, maka semakin besar pula kemungkinan warga net dapat mengakses nilai-nilai menyejukkan dalam dakwah washatiyah.

Dakwah washatiyah dilakukan oleh da’i atau lembaga dakwah yang washat, metode yang washat, materi yang washat, dan bermuara pada pembentukan umat yang washat. Diharapkan, umat yang washat dapat memiliki hidup beragama yang seimbang, sesuai dengan ajaran agama yang rahmatan lil alamin, sehingga keseimbangan tersebut menjadikannya tidak mudah terombang-ambing oleh berita yang menyesatkan, tidak membuatnya gaduh ketika pesan yang disinformasi viral di media sosial.

Umat yang washat adalah mereka yang bisa bertahan dalam terpaan era sesak media. Dengan pandangan yang moderat dan keberagamaan washatiyah, diharapkan umat tidak menjadi ‘keruh’ dengan berbagai informasi yang belum tentu benar berseliweran di dunia maya. Karenanya, sangat perlu memenuhi ruang maya dengan dakwah washatiyah secara virtual. Kita memiliki sumber daya untuk melakukan hal itu. Bagaimana pun juga, berbagai pihak harus menyatukan langkah untuk berkomitmen mendukung dan menyelenggarakan dakwah washatiyah di ruang maya.  Dengan sinergi antara ulama dan umara, kita yakin bahwa dakwah washatiyah yang dapat memberdayakan umat di tengah terpaan disinformasi media, dapat berhasil dan melahirkan generasi yang washat, tangguh, dan adaptif. Wallahu’alam.

This post was last modified on 16 September 2020 2:15 PM

Nurul Lathiffah

Konsultan Psikologi pada Lembaga Pendidikan dan Psikologi Terapan (LPPT) Persona, Yogyakarta.

Recent Posts

Masjid Rasa Kelenteng; Akulturasi Arsitektural Islam dan Tionghoa

Menarik untuk mengamati fenomena keberadaan masjid yang desain arsitekturnya mirip atau malah sama dengan kelenteng.…

2 bulan ago

Jatuh Bangun Konghucu Meraih Pengakuan

Hari Raya Imlek menjadi momentum untuk mendefinisikan kembali relasi harmonis antara umat Muslim dengan masyarakat…

2 bulan ago

Peran yang Tersisihkan : Kontribusi dan Peminggiran Etnis Tionghoa dalam Sejarah

Siapapun sepakat bahwa kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia tidak didominasi oleh satu kelompok berdasarkan…

2 bulan ago

Yang Diskriminatif adalah yang Jahiliyah

Islam melarang sikap diskriminasi, hal ini tercermin dalam firman Allah pada ayat ke-13 surat al-Hujurat:…

2 bulan ago

Memahami Makna QS. Al-Hujurat [49] 13, Menghilangkan Pola Pikir Sektarian dalam Kehidupan Berbangsa

Keberagaman merupakan salah satu realitas paling mendasar dalam kehidupan manusia. Allah SWT dengan tegas menyatakan…

2 bulan ago

Ketahanan Pangan dan Ketahanan Ideologi : Pilar Mereduksi Ekstremisme Kekerasan

Dalam visi Presiden Prabowo, ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas utama untuk mewujudkan kemandirian bangsa.…

2 bulan ago