Narasi

Menyikapi Kehadiran Demagog Penganut Islam Politik di Media Sosial Kita

Dunia baru itu bernama medsos (media sosial). Dengan sambungan internet yang menghubungkan antara yang satu dan yang lainnya, yang tidak hanya bersifat lokal, tapi juga global, jutaan manusia menari-ria di dalamnya. Berselancar menikmati arus medsos hingga lupa telah sampai di mana kita. Medsos, entah punya sihir atau mantra-mantra apa ia, hingga membuat banyak orang terlupa, terbuai dan terlena hingga menjadikan banyak orang tetap setia menjadi pengguna dalam jangka waktu yang panjang.

Secara praktis, pengguna medsos atau warga medsos dapat dikategorikan menjadi tiga hal: 1) warga aktif, memposting, mengunggah, dan berkomentar; 2) menjadi warga pasif, sebatas hanya bermedia sosial tapi tak melakukan apa-apa kecuali nggeser-geser layar smartphone; 3) warga pragmatis, jenis warga medsos ini adalah warga medsos yang seringkali memanfaatkan keadaan demi keuntungan pribadinya. Dan, di antara tiga klarifikasi warga medsos yang dipaparkan di atas, nomor tiga inilah yang—anggaplah tidak baik. Alias dapat merusak kerukunan kita baik di dalam ruang media sosial atau di dalam kehidupan bernegara yang sesungguhnya.

Jenis warga medsos pragmatis itu biasanya terdiri dari golongan demagog (penghasut). Golongan demagog ini bisa berasal dari mana saja, bisa dari kelompok politik, atau bahkan dari kelompok masyarakat biasa yang menghasut, dan memprovokasi masyarakat agar tercipta keonaran dalam sebuah negara. Aristoteles dalam risalahnya yang berjudul Politik, menyebutbahwademagog adalah ancaman serius bagi demokrasi. Kehidupan demokrasi bisa hancur akibat ulat para demagog.

Dan, biasanya orang-orang yang berlaku demagog di media sosial ini adalah golongan penganut Islam Politik, yakni golongan yang memanfaatkan kebesaran Islam untuk mencapai kepentingan kelompok dan ego pribadinya. Menurut Iqbal, filsuf-penyair asal India, Islam Politik adalah upaya sekelompok orang dengan menggunakan simbol-simbol Islam untuk memperjuangkan kepentingannya dalam meraih kekuasaan an sich.

Dan, pada kenyataannya, hasutan-hasutan yang dimunculkan oleh para demagog penganut Islam Politik di Indonesia ini sangat laku di masyarakat. Sebab, dalam praktiknya, para demagog penganut Islam Politik ini tidak hanya menggunakan dalil-dalil yang tampak rasional untuk menghasut masyarakat, tapi lebih dari itu juga melibatkan dogma-dogma keislaman. Agama. Dan, hal itu sangat sesuai dengan kesimpulan beberapa pengamat yang mengatakan bahwa proses penghasutan yang dilakukan oleh demagog akan lebih laku jika mengkomoditaskan dogma-dogma agama di dalamnya.

Kacau, saling mencaci dan terpecah belah. Itulah sebabnya jika kehadiran demagog penganut Islam Politik ini terus dibiarkan berkeliaran di media sosial kita. Sampai kapan pun mereka tak akan berhenti sampai tujuan kekuasaannya tercapai pun harus dengan cara memprovokasi masyarakat melalui propaganda media. Sebab itu, mau tidak mau kita harus menyikapi fenomena ini secara dewasa. Dalam konteks Indonesia, siapakah barisan demagog penganut Islam Politik yang berkeliaran di media sosial dan menciptakan keriuhan itu? entahlah. Bisa Anda selidiki kelompok mana yang kerap berlaku provokatif dan menghasut maka ialah gerombolan demagog itu.

Yang jelas, sebagai bentuk ketegasan kita untuk menyikapi fenomena ini, maka tiada lain kecuali kita harus bersifat kritis dalam mengoperasikan media sosial agar tidak termakan oleh hasutan-hasutan mematikan mereka semua (para demagog). Para demagog penganut Islam Politik adalah musuh kita semua, khususnya di media sosial, atas dasar itu, jangan berikan mereka ruang untuk terus berkembang dan menanam benih-benih kebenciannya itu di media sosial kita.

This post was last modified on 24 Desember 2020 10:52 PM

Farisi Aris

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago