Narasi

Merawat Bumi sebagai Keniscayaan, Melawan Ekstremisme sebagai Kewajiban!

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi dua persoalan besar yang sama-sama mendesak: kerusakan lingkungan dan meningkatnya ancaman ekstremisme. Dua isu ini pada dasarnya berbeda, namun keduanya bersumber dari cara pandang manusia yang keliru dalam memaknai keberagamaan dan peran sebagai khalifah di muka bumi ini.

Alam terus mengalami tekanan mulai dari banjir dan longsor seperti yang terjadi di Aceh dan Sumatra hingga polusi yang mengancam kesehatan jutaan jiwa. Sementara itu, ekstremisme masih terus tumbuh dengan wajah baru yang lebih cair dan menyasar kelompok muda. Keduanya menjadi tanda bahwa bangsa ini membutuhkan pembaruan cara pandang tentang pentingnya merawat bumi di satu sisi dan melawan ekstremisme di sisi lain.

Kerusakan alam bukan lagi isu teoretis. Ia hadir dalam bentuk bencana yang kian sering terjadi. Hujan yang sedikit saja membuat kota-kota besar tergenang. Gunung yang gundul memunculkan longsor. Sungai-sungai dipadati sampah hingga kehilangan fungsinya sebagai penjaga ekosistem. Kerusakan ini bukan semata akibat faktor alam, melainkan akibat ulah manusia yang menjalankan gaya hidup eksploitatif tanpa kesadaran ekologis.

Ketika pembangunan ekonomi dan kemajuan hanya dipahami sebagai penebangan hutan, dan pemanfaatan sumber daya tanpa batas, maka kerusakan menjadi konsekuensi logis. Di titik ini, umat manusia diingatkan kembali pada mandat spiritualnya sebagai khalifah di muka bumi, yakni menjaga bumi sebagai amanah, bukan menguasainya tanpa batas.

Kesadaran ekologis seharusnya tumbuh dari pemahaman keagamaan yang utuh. Dalam tradisi Islam dikenal konsep khalifah fil ardh, yakni manusia sebagai penjaga dan pengelola bumi. Artinya, merawat lingkungan bukan sekadar pilihan etis, tetapi kewajiban moral. Namun sayangnya, pemaknaan ini sering kali tenggelam dalam aspek ritualitas semata. Karena itu, kemudian banyak orang merasa sudah “beragama dengan baik” hanya dengan rajin beribadah, tanpa meresapi pesan etik yang lebih luas: bahwa ibadahekologis juga sama pentingnya.

Sementara itu, ekstremisme hadir dalam bentuk yang lebih berbahaya. Ia merusak tata sosial, memecah persatuan, dan mengancam keselamatan warga. Ekstremisme tumbuh dari cara beragama yang sempit, eksklusif, dan menolak keberagaman. Paham ini sering kali mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan mereduksi agama menjadi hitam-putih.

Dalam konteks Indonesia, ancaman ekstremisme pernah dan masih terus hadir dengan berbagai bentuk. Mulai dari jaringan teror, kelompok intoleran, hingga gerakan yang berusaha mengganti sistem negara. Pada saat yang sama, kerusakan ekologis terus meningkat akibat aktivitas manusia yang jauh dari nilai kepedulian. Kedua persoalan ini sama-sama lahir dari pola pikir ekstrem: pola pikir yang menganggap dunia boleh dieksploitasi tanpa batas, serta pola pikir yang meyakini bahwa kekerasan bisa menjadi jalan perubahan. Karena itu, melawan ekstremisme dan merawat bumi adalah dua tugas besar bangsa yang saling melengkapi.

Kita perlu menggeser cara pandang masyarakat. Bhwa menjadi religius bukan hanya soal kesalehan ritual, tetapi juga kesalehan ekologis. Bahwa membela agama bukan berarti menyingkirkan yang berbeda, tetapi menghormati kehidupan. Kesadaran seperti ini penting untuk menghindarkan bangsa dari dua bencana sekaligus: bencana alam dan bencana ideologis. Jika keduanya dibiarkan, maka masa depan bangsa dipertaruhkan. Generasi mendatang akan mewarisi tanah yang rusak dan ruang publik yang penuh kebencian dan konflik.

Merawat Bumi dan Melawan Ekstremisme: Dua Agenda Satu Nafas

Merawat bumi dan melawan ekstremisme bukan dua agenda terpisah. Keduanya adalah bagian dari misi besar menjaga kehidupan yang lebih maslahat. Sebab tidak ada gunanya membela agama tetapi membiarkan bumi hancur karena tindakan manusia. Begitu juga tidak ada gunanya merawat lingkungan tetapi membiarkan paham kebencian tumbuh subur.

Keduanya sama-sama melemahkan kemanusiaan. Indonesia membutuhkan gerakan nasional yang menggabungkan kesadaran beragama dan kesadaran ekologis dengan moderasi beragama. Gerakan yang menegaskan bahwa keberagamaan yang sejati adalah keberagamaan yang menjaga bumi dan menjaga manusia. Inilah cara terbaik untuk memastikan bahwa bangsa ini tetap berdiri kokoh, dengan memuliakan alam dan memuliakan sesama.

Helliyatul Hasanah

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

19 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago