Narasi

Migrasi ISIS ke Ranah Virtual: Bagaimana Ikonografi Menjadi Medium Pencitraan Ekstremisme?

Beberapa hari lalu, Detasemen Khusus 88 menangkap empat terduga terorisme di Sumatera Utara. Keempatnya diketahui berperan dalam melakukan propaganda terorisme dan penyebaran doktrin ISIS melalui media sosial. Keempatnya juga diketahui merupakan anggota Ansharud Daulah yang dulu dikenal sebagai Jamaah Ansharud Daulah alias JAD.

Mereka saling berbagi peran, ada yang membuat konten propaganda dukungan terhadap ISIS, ada yang memproduksi konten provokatif sebagai ajakan amaliyah, dan ada yang bertugas menyebar dan mengamplifikasikannya di media sosial.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Pasca kekalahan dan kehilangan wilayah, ISIS mulai fokus bermigrasi ke ranah virtual. Mereka mendirikan semacam kekhalifahan virtual di ranah maya dan melancarkan bermacam strategi propaganda yang menyasar netizen dari golongan anak muda, remaja, bahkan anak-anak.

Kehilangan wilayah kekuasaan teritorial tidak membuat ISIS menyerah. Mereka segera bermigrasi dari dunia nyata ke dunia maya. Gagasan khilafah yang digadang akan menjadi institusi politik yang menguasai seluruh wilayah dunia pun diadaptasi di ruang virtual.

Ketika mesin teror ISIS di dunia nyata berhasil dilumpuhkan, jejaring sel propaganda daringnya justru menunjukkan pertumbuhan dalam skala eksponensial. Menurut catatan International Data Corporation, setidaknya ada 80 saluran resmi ISIS dalam berbagai platform mulai dari situs internet sampai kanal media sosial.

Tidak terhitung jumlahnya berapa situs dan akun media sosial yang terafiliasi atau setidaknya menjadi simpatisan ISIS. Itu semua menjadi senjata propaganda daring khilafah yang mampu menjangkau wilayah privat individu melalui piranti gawai pintar.

Micheal Weiss dan Hassan Hassan dalam ISIS Inside the Army of Terror menyebut bahwa ISIS menjadi satu dari sedikit kelompok ekstremis Islam yang memiliki daya resiliensi yang nisbi tinggi. Alih-alih, mengalami kebangkrutan pasca kekalahan dan kehilangan wilayah kekuasaan, ISIS justru tampak kian optimistik.

Hal ini setidaknya dapat dilihat dari konten propaganda daring yang mereka sebar di berbagai kanal dan platform media sosial. Pengamatan peneliti ketika bergabung dan berinteraksi di forum-forum pendukung khilafah ISIS menunjukkan bahwa konten propaganda daring ISIS cenderung lebih menunjukkan kesan optimime ketimbang pesimisme.

Ketimbang fokus pada pembahasan terkait kekalahan ISIS mempertahankan wilayah kekuasaannya, grup dan forum virtual pendukung ISIS justru lebih didominasi oleh narasi tentang membangun ketahanan dan kekuatan ISIS ke depan. (Hassan, 2015).

Nuansa optimisme ini tampak salah satunya pada strategi ISIS dalam mem-branding gerakannya melalui beragam ikonografi alias simbol berupa gambar atau video. Antara lain seperti stiker atau meme.

Merujuk pendapat Wayne Stark dalam bukunya Digital Communication; An Introduction, penggunaan stiker atau meme dalam pola komunikasi digital secara psikologis dapat menghadirkan suasana informal alias tidak kaku, ceria, dan optimistik.

Penggunan meme dan stiker dalam komunikasi di ranah virtual juga bertujuan untuk membangun citra ISIS sebagai organisasi yang cheerfull dan ramah pada budaya populer serta menggerus kesan eksklusif yang kerap diasumsikan oleh sebagian kalangan.

Penggunan ikonografi dalam pola komunikasi di grup atau forum khilafah ISIS juga dimaksudkan untuk menyasar kelompok muda dan remaja. Di lingkup demografis ini, ikonografi seperti meme dan stiker menjadi medium yang efektif untuk menyokong gerilya daring khilafah.

Selain perempuan, remaja dan kaum muda menjadi kelompok paling rentan terpapar propaganda daring khilafah. Model pencitraan ikonografik ini memungkinkan anak muda dan remaja tertarik dan bersimpati pada gagasan kekhalifahan virtual lantaran merasa terwakili aspirasi keagamaan dan identitas kemudaannya.

Pola pencitraan yang demikian ini terbilang efektif dalam menciptakan perasaan memiliki (sense of belonging) atas kekhalifahan virtual tersebut. Mengutip analisa Laura Wakerford dan Laura Smith, para pemimpin tertinggi ISIS memahami betul bahwa media digital adalah medium paling efektif untuk tidak hanya menjadi alat propaganda, namun juga membangun fanatisme atas identitas dan nilai yang diyakini oleh ISIS. Pendek kata, ada dimensi emosional yang berusaha dihadirkan ISIS melalui kekhalifahan virtual di dunia maya.

Model propaganda halus berbasis ikonografi di media sosial inilah yang cenderung mendapat simpati dari kalangan anak muda dan remaja, tidak terkecuali di Indonesia. Kaum gen Z sebagai pengguna aktif media sosial paling besar, kerap kali terpincut oleh strategi visual daring yang dilancarkan oleh kelompok ekstremis pendukung ISIS.

Maka, semua pihak wajib menyalakan alarm tanda bahaya atas manuver ISIS di ruang virtual ini. Meski dicitrakan melalui ikonografi yang bernuansa ceria, optimistik, dan positif, namun ideologi ISIS tetap saja tidak bisa dilepaskan dari nuansa kekerasan dan brutalitas. ISIS adalah mesin teror paling berbahaya saat ini. Meski secara teritorial mereka tidak memiliki kekuasaan, namun secara jaringan sel mereka tersebar di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

This post was last modified on 19 Oktober 2025 9:13 AM

Desi Ratriyanti

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago