Narasi

Muhasabah Kebangsaan Di Penghujung 2020: Membebaskan Indonesia Dari Belengggu Radikalisme dan Intoleran

Tahun 2020 sudah akan berakhir dan 2021 akan terlahir. 2020 akan menjadi masa lalu sekaligus sejarah. Tahun baru 2021 akan menjadi wahana permulaan bagi kehidupan berbangsa kita ke depan. Dipenghujung tahun 2020 ini, tak ada yang lebih pastan kita renungkan, kecuali bermuhasabah diri untuk membebaskan Indonesia dari belenggu radikalisme dan intoleransi yang masih menghantui kerukukan dan kedamaian masyarakat Indonesia.

Belajar pada Sejarah

Tahun 2020 yang akan berakhir itu diakui atau tidak akan menjadi sejarah. Karena itu, sebagai muhasabah kebangsaan kita dipenghunjung 2020 ini setidaknya kita harus belajar pada sejarah yang telah kita lalui itu persis seperti yang dikatakan Bung Karno, yakni, bahwa kita “jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Mengapa? Tentu tiada lain agar masalah-masalah yang menimpa Indonesia sepanjang 2020, seperti radikalisme dan intolerasi tidak terulang kembali. Tentu juga dengan solusi yang kita punya.

Dalam tulisan ini saya seangaja memilih kata ‘radikalisme’ dan ‘intoleransi’ sebagai salah satu masalah kebangsaan yang harus kita selesaikan di tahun baru 2021 yang akan datang ini. Sebab, sepanjang tahun 2020, adalah radikalisme, intoleransi, dan ujaran kebencian di media sosial yang tampaknya sangat mengganggu ketenangan dan kerukunan kita sebagai anak-anak bangsa.

Intolernasi dan ujaran kebencian di media sosial mungkin tak lain karena sepanjang tahun 2020 masih ada sisa-sisa pertarungan politik antarkelompok pada 2019 lalu, sebab itu menyambung datangnya tahun baru 2021 ini semoga hal itu bisa segera diakhiri. Dan kita bisa menyambut tahun baru 2021 dengan hati dan pikiran yang baru pula.

Sementara kasus radikalisme agama yang masih menguat, seperti tragedi Sigi yang masih segar dalam ingatan kita, tentu ini harus menjadi PR tersendiri bagi kita. Bagaimana sepanjang 2021 dan tahun-tahun yang akan datang nantinya, kekerasan berjubah agama semacam ini tidak boleh terjadi lagi. Indonesia 2021 harus punya wajah baru, yakni Indonesia yang merdeka dari belenggu radikalisme dan tindakan-tindakan intoleran.

Dan, upaya-upaya untuk membebaskan Indoensia dari belenggu radikalisme dan intoleransi di 2021 nantinya, tiada lain kecuali kita harus berupaya untuk lebih tersadar lagi dan bangkit dari tidur kita selama ini. Menyadari bahwa mengatasi, memerangi dan menanggulangi radikalisme, intoleransi, dan ujaran kebencian di media sosial bukan hanya tugas pemerintah dan TNI-Polri, tapi lebih dari sekadar itu harus menjadi tugas kita bersama.

Kita harus bersatu. Tidak boleh terpecah belah. Lidi yang mampu membersihkan sampah-sampah di halaman berserakan hanya bisa dilakukan oleh lidi-lidi yang bersatu menjadi satu-kesatuan, memperkokoh satu sama lain, membangun kekuatan yang kemudian menjelma kekuatan tak terkalahkan oleh kebusukan sampah-sampah. Karena itu, sudah selayaknya bagi kita untuk bersatu-padu menjadi satu; menjadi kekuatan yang tak terkalahkan dalam memerangi radikalisme, intoleransi, dan ujaran-ujaran kebencian yang menjadi sumber keresahan kita semua.

Di tahun 2021 ini, Indonesia sudah harus benar-benar merdeka dari belenggu radikalisme dan paham-paham intoleran. Dan, yang harus menjadi aktor-aktor pahlawan gagah perkasa adalah kita semua. Generasi bangsa. Generasi Bung Karno, Bung Tomo, Bung Hatta dan sederet bapak-bapak pahlawan kita semua. Selamat tahun baru. Selamat memperjuangkan Indonesia. Tidak ada yang berakhir dipenghujung 2020 ini, semuanya adalah permulaan. Permulaan untuk memperjuangkan Indonesia menuju kemerdekaan yang sesungguhnya.

This post was last modified on 30 Desember 2020 6:53 PM

Farisi Aris

Recent Posts

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

3 hari ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

3 hari ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

6 hari ago

Peta Jalan Penanggulangan Terorisme-Jurnal Jalan Damai Vol. 1. No. 10 Desember 2025

Salam Damai, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya Jurnal…

4 minggu ago

Agama Cinta Sebagai Energi Kebangsaan Menjinakkan Intoleransi

Segala tindakan yang membuat kerusakan adalah tidak dibenarkan dan bukan ajaran agama manapun. Kita hidup…

1 bulan ago

Bagaimana Menjalin Hubungan Antar-Agama dalam Konteks Negara-Bangsa? Belajar dari Rasulullah Sewaktu di Madinah

Ketika wacana hubungan antar-agama kembali menghangat, utamanya di tengah menguatnya tuduhan sinkretisme yang dialamatkan pada…

1 bulan ago