Narasi

Nabi Muhammad Sebagai Teladan Anti Hoax

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”

(QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Penyebaran berita hoax yang dilakukan oleh Zaenal Arifin, bukan saja melukai hati Mulyadi dan keluarganya, tetapi juga telah mencederai awal tahun 2018. Tahun 2018 memang tahun yang sangat panas dengan nuansa politiknya, namun bukan berarti datangnya tahun 2018 harus disambut dengan menyebar berita yang bikin telinga dan hati panas pula.

Menyambut tahun baru 2018 tidaklah baik dengan menyebarkan berita hoax, apalagi tahun ini digadang-gadang sebagai tahun yang sarat dengan perubahan. Perubahan-perubahan akan terjadi di setiap daerah, dimulai dengan pergantian pimpinannya, baru kemudian segala sesuatu yang dianggap kurang baik. Beruntung pimpinan redaksi media abal-abal tersebut tertangkap, ia menyusul para pendahulunya yang lebih gila lagi dalam menyebarkan berita hoax melalui Seracen News, Seracen Cyber Team, dan Seracennews.com.

Keseriusan dan keberhasilan orang-orang dalam memproduksi hoax ini bukan hanya karena kepandaiannya, tetapi juga karena dukungan konsumen yang aktif membaca sekaligus menyebarkannya (baik sadar atau tidak sadar). Masyarakat Indonesia cenderung aktif dalam menerima berita hoax, hal ini diungkapkan dari data riset Centre for International Governance Innovation (CIGI) bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-7 dengan jumlah bisa mencapai 65% pengguna internet yang mudah terhasut oleh berita hoax. Jumlah tersebut berbeda dengan jumlah masyarakat Amerika Serikat 53%, Jepang 32% dan Prancis 43% yang percaya terhadap internet (tekno.liputan6.com/19/12/2017).

Jumlah pengguna internet yang percaya terhadap berita hoax tersebut menandakan bahwa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya sadar tentang status berita-berita yang dibacanya. Oleh kaerana itu, alangkah baiknya kita sebagai umat Islam menguatkan diri dan berpegang teguh terhadap tuntunan nabi Muhammad yang mulia. Berdasarkan surat Al-Ahzab ayat 21 yang telah disebutkan di atas, kita perlu terus belajar dan meneladani beliau dalam berkata-kata maupun bertindak. Melalui empat sifatnya yang berupa Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathanah, nabi Muhammad menjadi model paripurna yang tiada duanya.

Sifatnya yang jujur dalam berkata dan berbuat sesuatu, dapat menular kepada umatnya. Sifat inilah yang menjadikan nabi Muhammad terjaga dari malapetaka dalam berinteraksi dengan siapapun. Beliau selalu mengedepankan kejujuran agar umatnya dapat meniru kejujurannya. Dengan kejujuran, itu artinya nabi Muhammad tidak menyebarkan berita hoax mengenai ajaran Islam kepada umatnya. Nabi Muhammd justru menyeru kepada umatnya untuk selalu berkata yang benar, dan berbuat sesuai dengan perkataannya.

Kejujuran dalam berkata-kata dan bertindak tersebut menunjukkan bahwa beliau dapat menjaga segala sesuatu yang dititipkan kepadanya. Artinya beliau dapat dipercaya dalam menjaga dan bertanggung jawab dengan sepenuh hati terhadap sesuatu yang diamanatkan kepadanya. Inilah kriteria pemimpin sejati, yang selalu bisa memberikan kenyamanan kepada siapapun yang dipimpinnya.

Sifat dasarnya nabi Muhammad yang jujur dan dapat dipercaya, maka  dalam menyampaikan apapun selalu sesuai dengan data yang valid. Beliau juga dalam menyampaikan sesuatu tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, sebagai manifestasi dari tajamnya analisis beliau dalam berdakwah. Kecerdasan beliau tidak diragukan lagi, karena dalam dirinya terdapat berbagai macam petunjuk yang berasal dari al-Qur’an.

Meneladani Nabi Muhammad dengan empat sifat yang anti hoax tersebut diharapkan lambat-laun dapat menjadi karakter masyarakat Indonesia. Tatkala kejujuran hanya menjadi pepesan kosong yang mendominasi media sosial, bukan berarti kita tidak memiliki peluang untuk memperbaikinya. Kita sebenarnya memiliki banyak peluang untuk menyesaki media sosial dengan konten-konten positif, namun yang menjadi persoalan adalah saat ini kita masih nyaman menjadi konsumen berita. Padahal seharusnya kita sudah harus mulai menjadi produsen berita yang baik dan benar. Dengan menjadi produsen berita baik dan benar, maka sebenarnya kita sedikit-sedikit sedang meniru sifa-sifat rasulullah yang anti hoax.

Arief Rifkiawan Hamzah

Menyelesaikan pendidikan jenjang magister di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pernah nyantri di Ponpes Al-Hikmah 1 Benda, Sirampog, Brebes dan Ponpes Darul Falah Pare, Kediri. Saat ini ia sebagai Tutor di Universitas Terbuka.

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago