Categories: Narasi

“Readvolusi” Bukan Sekedar Membaca

Membaca adalah aktiftas penting. Membaca adalah cara terbaik ‘mengintip’ isi dunia. Tak heran jika kebanyakan dari kita sudah dibiasakan untuk membaca sedari kecil. Membaca bisa jadi hal menantang dan menegangkan jika tema bacaan sesuai dengan keinginan atau memberikan informasi yang belum pernah didengar sebelumnya. Tak jarang pula membaca justeru jadi sesuatu yang membosankan, meski tema bacaan sudah sangat sesuai dengan kebutuhan. Cenderung memilih bacaan ringan memang masih jauh lebih baik daripada tidak pernah membaca sama sekali. Namun, jika kurang berani menantang diri ‘menguliti’ bacaan dengan tema berat, bisa jadi kewarasan kita malah cepet sekarat.

Intinya, membaca itu penting. Namun perlu diingat, cerdas memilih tema dan bijak dalam mengolah bahan bacaan tak kalah penting. Karena di era ‘tukang bubur bisa naik haji’ sekarang ini, semua orang bisa jadi ‘penulis’. Ragam tulisan berserak dimana-mana, ada yang menulis dengan ‘Pena’ dan tak jarang pula yang menggunakan ‘Linggis’. Bahan bacaan ada yang mengajak menjadi manusia yang manusiawi –yang mencintai dan menghargai sesama–, dan ada pula bacaan yang justru memaksa dan mengajak menjadi bengis. Membaca bukan hanya tentang menyiapkan kursi lalu duduk manis menikmati tulisan, melainkan juga bertanggung jawab untuk selalu kritis. Jangan sampai kita menjadi begundal akibat terlalu banyak membaca tulisan-tulisan banal, ini mengerikan…

Apapun resikonya membaca harus tetap dilakukan. Selain membuka ‘jendela dunia’, membaca juga mengajarkan untuk mengenal diri sendiri. Membaca juga mengajarkan mengenali kemauan diri sendiri sekaligus mencari tahu kemampuan diri. Membaca bukan sekedar kegiatan untuk membelalakkan mata, tapi membuka seluruh indera untuk peka terhadap realita. Bacaan yang kita konsumsi nyatanya memang bukan setumpuk ide yang datang begitu saja, ia selalu datang dengan berbagai latar belakang dan motif. Karenanya ketelitian menjadi satu keharusan yang harus dimiliki pembaca. Prinsipnya, jangan mudah percaya isi bacaan sebelum diuji dan terbukti.

Karena itu, sebelum membaca ada baiknya anda tahu kiat-kiatnya agar bacaan tak hanya berhenti di mata. Pertama, berdialoglah dengan bahan bacaan. Anda bisa memulai memperlakukan bahan bacaan layaknya kawan yang bisa berdialektika. Salah satu cara terbaik berdialog dengan bahan bacaan adalah dengan memperbanyak membaca. Semakin banyak membaca semakin seru dialognya. Jangan lupa pula untuk sering-sering ‘membenturkan’ tema atau pesan bacaan dengan realita. Cara ini bisa ‘menghidupkan’ suasana anda di saat membaca. Ingat, jangan seperti sedang membaca batu nisan!

Kedua, selalu niatkan membaca untuk menulis. Urutannya jangan sampai terbalik, membaca dulu baru menulis, jangan menulis dulu baru kemudian membaca, itu tidak lucu! Membaca dan (kemudian) menulis adalah dua hal yang (seharusnya) tidak bisa dipisahkan. Tanggung jawab pembaca adalah meneruskan bacaan tersebut agar tidak hanya berhenti di segelintir orang, karena ilmu pengetahuan adalah hak seluruh manusia. Lagi pula, menulis memiliki banyak sisi positif, salah satunya adalah untuk menguji tingkat kepahaman kita terhadap bacaan yang kita konsumsi.

Jadi, sudah membaca kah anda hari ini? Selamat hari buku sedunia!

Khoirul Anam

Alumni Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS), UGM Yogyakarta. Pernah nyantri di Ponpes Salafiyah Syafiyah, Sukorejo, Situbondo, Jatim dan Ponpes al Asyariah, kalibeber, Wonosobo, Jateng. Aktif menulis untuk tema perdamaian, deradikalisasi, dan agama. Tinggal di @anam_tujuh

Recent Posts

Di Tengah Gencar Ketahanan Pangan dan Energi, Jangan Lupakan Ketahanan Ideologi dan Literasi

Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…

4 minggu ago

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

2 bulan ago

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai…

3 bulan ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

3 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 bulan ago