Narasi

Resolusi Jihad 2021: Mensterilkan Dunia Maya dari Narasi Intoleransi dan Kebencian

Berbagai macam dinamika dan problematika yang telah kita hadapi di tahun 2020. Hingga di penghujung tahun ini, rasanya kita perlu untuk menengok ke belakang. Bagaimana kita tidak boleh membiarkan kebencian, provokasi dan sikap intoleransi yang telah mewabah itu terus melekat, melebar dan mengakar ke dalam kehidupan berbangsa. Kita perlu mensterilkan dunia maya kita dari virus yang mengakibatkan bangsa ini sering gaduh, tidak damai dan bahkan penuh dengan kebencian satu sama lain.

Sehingga, kita jadikan tahun 2021 yang akan datang, sebagai resolusi jihad di jalan Allah SWT untuk bergerak menegakkan kemaslahatan umat. Membangun narasi persatuan, keharmonisan dan kedamaian di negeri tercinta ini. Serta menumpas (angkara murka) dengan  benar-benar mensterilkan dunia maya dari virus atau penyakit masyarakat yang sangat mudah menular (terprovokasi). Yaitu ujaran kebencian dan tindakan intoleransi itu sendiri. Karena keduanya sama-sama membawa ke dalam kemudharatan bagi tatanan kebangsaan, kemanusiaan, keharmonisan dan persatuan. Padahal, keempat bagian tersebut sejatinya sangat diutamakan dalam agama-Nya.

Berangkat dari sinilah kita perlu menyadari bahwa yang namanya kebencian (sifat dengki) itu buruknya tidak hanya kepada orang lain. Tetapi akan memengaruhi ke dalam pikiran kita yang akan terus mengalami kegundahan dan emosionalitas yang tidak bisa dikendalikan. Sehingga, kadang membuat hidup kita tidak tenang, frustrasi dan bahkan depresi. Begitu juga dengan narasi intoleransi. Ini sama halnya kita seperti menderita penyakit (keterasingan) yang tidak mau berteman, bersahabat dan bahkan berbaur dengan mereka yang hanya beda keyakinan, tetapi secara hakikat kita sama-sama manusia dan haruslah hidup dalam norma etis kemanusiaan itu sendiri.

Karena kita kadang kala selalu merasa nyaman apa yang kita lakukan. Tanpa memikirkan kembali apa yang kita lakukan itu bermanfaat atau tidak. Hingga lupa untuk memikirkan. Apakah yang kita lakukan itu baik bagi dirinya dan sesama. Atau justru berdampak buruk bagi dirinya dan orang lain. Misalnya, ketika orang yang sering dan bahkan mudah menyebarkan narasi intoleransi dan ujaran kebencian. Seolah tindakan tersebut baginya itu sebagai kebenaran dan jalan jihad mereka untuk menyebarkan hal yang semacam itu. Demi golongan atau kelompok yang dia dukung. Tanpa menyadari bahwa itu justru akan mengorbankan dirinya atau tidak. Yang terpenting mereka membiarkan dirinya tanpa menggunakan akal yang sehat dan jernih. Karena dibiarkan melakukan tindakan buruk yang akan menghancurkan dirinya dan orang lain.

Karena manusia pada hakikatnya tidak akan menyebarkan narasi atau ujaran kebencian jika mereka menggunakan akal sehat dan pikiran yang jernih. Bahwa ujaran kebencian itu sejatinya tidak baik. Karena akan berdampak kepada konflik, pertumpahan darah dan dis-harmoni yang akan menjadi sumbu pertikaian yang berkepanjangan. Artinya, secara akal sehat dan pikiran yang jernih, orang tidak akan membiarkan dirinya jatuh di jurang. Kecuali mereka tidak menggunakan akal sehat dan pikirannya yang jernih untuk menghindari akan hal yang semacam itu.

Semua yang kita lakukan pada hakikatnya akan kembali kepada diri kita masing-masing. Karena hukum karma akan terus menjadi bentangan etis setiap lelaku hidup kita. Jika kita doyan menyebarkan kebencian dan sikap-sikap intoleransi. Maka kebencian dan sikap tidak saling menghargai itu pada hakikatnya akan kembali kepada diri kita secara nyata.             Marilah kita melaksanakan jihad dengan cara membersihkan (mensterilkan) dunia maya kita dari kemunafikan, kemudharatan, kebencian dan sikap intoleransi. Karena itu sebagai jalan angkara murka yang harus kita basmi di penghujung tahun ini. Karena tahun 2021 adalah semangat baru dan lembaran harapan baru yang harus kita isi dengan hal-hal yang positif, bermanfaat dan membawa kepada maslahat. Bersihkan angkara murka di dunia maya dengan benar-benar melakukan jihad di jalan Allah SWT untuk mensterilkan dunia maya kita dari penyakit ujaran kebencian dan narasi intoleransi yang mengakar, melebar dan terus berkembang biak di negeri ini.

This post was last modified on 28 Desember 2020 1:31 PM

Amil Nur fatimah

Mahasiswa S1 Farmasi di STIKES Dr. Soebandhi Jember

Recent Posts

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

4 hari ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

4 hari ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

7 hari ago

Peta Jalan Penanggulangan Terorisme-Jurnal Jalan Damai Vol. 1. No. 10 Desember 2025

Salam Damai, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya Jurnal…

4 minggu ago

Agama Cinta Sebagai Energi Kebangsaan Menjinakkan Intoleransi

Segala tindakan yang membuat kerusakan adalah tidak dibenarkan dan bukan ajaran agama manapun. Kita hidup…

1 bulan ago

Bagaimana Menjalin Hubungan Antar-Agama dalam Konteks Negara-Bangsa? Belajar dari Rasulullah Sewaktu di Madinah

Ketika wacana hubungan antar-agama kembali menghangat, utamanya di tengah menguatnya tuduhan sinkretisme yang dialamatkan pada…

1 bulan ago