Narasi

Revitalisasi Sumpah Pemuda dalam Ketahanan Digital

Di tengah gelombang perubahan global yang tak terelakkan, yang dihadirkan oleh revolusi industri 4.0 dan transformasi digital, kemampuan untuk beradaptasi bukan sekadar soal menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Pentingnya keberanian dalam merumuskan arah masa depan bangsa dan mengambil peran aktif dalam setiap perubahan yang terjadi. 

Indonesia, sebagai negara besar dengan beragam potensi, membutuhkan generasi yang tidak hanya mampu mengikuti alur, tetapi juga memimpin dan menjadi pionir dalam berbagai inovasi. Kini, sinergi antara kecerdasan emosional, literasi digital, dan integritas kebangsaan menjadi syarat utama untuk membentuk manusia Indonesia yang siap menghadapi disrupsi. Di sinilah, semangat Sumpah Pemuda 1928 harus ditafsirkan ulang sebagai landasan untuk bersatu, bergerak, dan berinovasi demi kemajuan Indonesia.

Dengan teknologi kecerdasan buatan (AI), komunikasi berbasis algoritma, dan keberadaan metaverse, kita memasuki babak baru dalam kehidupan sosial dan budaya. Perubahan ini menciptakan peluang luar biasa, namun juga menyimpan tantangan yang tidak bisa dianggap sepele. Dunia digital menghadirkan kemungkinan yang tak terbatas, namun dengan itu, hadir pula tantangan besar dalam hal keamanannya. 

Sebagai bangsa, kita harus menjawab tantangan ini dengan mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya ahli dalam teknologi, tetapi juga memiliki kekuatan moral yang kuat untuk menghadapinya. Generasi Z dan Alpha, yang kini berada di garda terdepan, harus menjadi arsitek peradaban digital yang bertanggung jawab. Mereka bukan hanya pengguna, tetapi juga pengarah perubahan dalam dunia maya.

Pentingnya literasi digital menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi. Dunia maya bukan lagi tempat untuk sekadar berkomunikasi atau hiburan, tetapi telah menjadi medan pertarungan ideologi, budaya, dan bahkan politik. Di tengah derasnya arus informasi, kita memerlukan kemampuan untuk menyeleksi, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara bijak. Ini adalah tugas berat yang diemban oleh generasi muda, karena hanya dengan cara inilah mereka dapat menghindari jebakan hoaks, ujaran kebencian, dan ideologi yang merusak tatanan sosial. Di sisi lain, dunia digital juga memberi ruang untuk inovasi yang luar biasa. Oleh karena itu, generasi muda Indonesia harus diajak untuk menjadi agen perubahan, yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki visi untuk menciptakan ruang digital yang sehat, kreatif, dan produktif.

Menjemput Indonesia Emas 2045, yang ditandai dengan kemajuan pesat di segala bidang, berarti menyalakan kembali api Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda bukan lagi sekadar deklarasi persatuan bangsa di tanah air, tetapi harus menjadi semangat yang memayungi perjuangan di ruang digital. 

Mewujudkan Indonesia yang maju dan berdaulat di era digital ini membutuhkan penguatan literasi sains dan teknologi, serta penegakan nilai-nilai demokrasi di dunia maya. Namun lebih dari itu, semangat kebangsaan hari ini juga harus inklusif, berbasis kolaborasi, dan tidak terjebak pada sempitnya batasan ideologi atau politik. Nasionalisme Indonesia yang baru harus memahami bahwa kekuatan kita terletak pada keberagaman, dan teknologi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan keberagaman itu.

Revitalisasi Sumpah Pemuda dalam ketahanan digital, merupakan langkah strategis yang harus diambil oleh bangsa ini. Ketahanan digital tidak hanya melibatkan penguatan aspek teknis, seperti infrastruktur dan keamanan siber, tetapi juga pembangunan fondasi budaya digital yang kuat. Kita tidak bisa hanya bergantung pada kehebatan teknologi tanpa memperhatikan dampaknya pada kehidupan sosial, budaya, dan moral. Ketahanan digital harus berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila, yang mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kemanusiaan. Dalam dunia yang semakin terhubung ini, ketahanan digital berarti memiliki kemampuan untuk melawan ancaman yang muncul, baik itu berupa disinformasi, polarisasi sosial, maupun penjajahan digital dari pihak asing.

Generasi muda, dengan semangat baru Sumpah Pemuda, harus menjadi garda terdepan dalam menciptakan ruang digital yang tidak hanya aman, tetapi juga humanis. Dengan memperkuat literasi digital dan menegakkan nilai demokrasi di ruang maya, kita dapat menciptakan ekosistem online yang lebih sehat, produktif, dan berbasis pada kolaborasi. Generasi muda harus mampu menciptakan inovasi yang tidak hanya mengedepankan aspek teknis, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memajukan kehidupan sosial dan budaya, bukan untuk memecah belah atau merugikan masyarakat.

Kita harus menyiapkan generasi muda Indonesia untuk menjadi pemimpin di dunia digital. Mereka harus memiliki pengetahuan yang kuat tentang sains dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang kokoh dalam menghadapi segala tantangan. Dengan membangun ketahanan digital yang inklusif, berbasis pada nilai-nilai kebangsaan yang luhur, Indonesia akan mampu menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Kini, lebih dari sebelumnya, kita membutuhkan generasi muda yang berani berinovasi, berjuang untuk keadilan sosial, dan mempertahankan kemanusiaan di tengah derasnya arus teknologi. Sebagai bangsa, mari kita hidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda dalam bentuk yang lebih relevan dan tangguh untuk menghadapi masa depan.

 

Ernawati Ernawati

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

21 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago