Narasi

Sebelum Kita Memutuskan Siapa yang Salah

Dalam hitungan menit setelah sebuah serangan diberitakan, grup WhatsApp keluarga biasanya sudah punya kesimpulan. Ada yang membagikan video tanpa keterangan tempat dan waktu. Ada yang langsung menulis siapa yang salah, lengkap dengan seruan agar semua orang “membuka mata”. Jarang ada yang bertanya dari mana video itu berasal. Kecepatan berpihak kita sering jauh melampaui kecepatan kita memahami.

Pertanyaan yang lebih jujur bukan “kita di pihak mana?”, melainkan “apa yang sebenarnya sedang terjadi?”. Pertanyaan kedua lebih lambat dijawab dan jauh kurang memuaskan secara emosional. Tetapi hanya dari sanalah sikap yang bisa dipertanggungjawabkan bermula.

Contohnya mudah dicari. Perang di Yaman tidak terbaca tanpa persaingan pengaruh regional, tarik-menarik politik di dalam negeri Yaman sendiri, dan kepentingan atas jalur laut Bab al-Mandeb. Polemik laïcité di Prancis bertumpu pada undang-undang 1905 tentang pemisahan gereja dan negara, dan diperdebatkan di dalam kerangka hukum dan ruang kewargaan Prancis. Sengketa Azerbaijan dan Armenia sering dibingkai sebagai urusan agama, padahal yang bekerja adalah wilayah, aliansi militer, dan jalur energi. Azerbaijan, yang mayoritas Muslim Syiah, bersekutu dengan Turki dan Israel. Iran, yang juga Syiah, justru bekerja sama dengan Armenia. Kalau identitas keagamaan adalah penjelasan utamanya, peta ini tidak masuk akal. Negara bergerak mengikuti kepentingannya, bukan mengikuti seruan emosi warganya.

Dunia yang berlapis seperti itu menuntut kebiasaan berpikir yang tidak glamor. Pertama, memeriksa sebelum menyimpulkan: siapa sumbernya, apa konteksnya, mana fakta dan mana tafsir. Ajaran agama kita sudah lama menekankan tabayyun, dan itu bukan tanda kepedulian yang lemah. Kedua, menunda reaksi ketika terprovokasi, karena amarah yang dituruti jarang menghasilkan penilaian yang adil. Ketiga, menanyakan kepentingan di balik sebuah slogan, terutama slogan yang paling nyaring.

Kebiasaan ini membantu kita keluar dari satu pertentangan yang dibuat-buat, yaitu solidaritas global melawan kesetiaan pada negara. Negara-bangsa bukan tembok yang memisahkan kita dari kemanusiaan. Ia adalah wadah tempat hukum, keamanan, dan keadilan dijaga, dan karena itu ia juga syarat bagi kemampuan kita menolong pihak lain. Pancasila lahir dari kesepakatan orang-orang yang berbeda keyakinan dan suku, dan kesepakatan itulah yang memberi kita hak dan kewajiban setara. Merawatnya tidak berarti menutup mata ke luar. Warga yang kuat di dalam justru lebih berguna bagi dunia di luar.

Dengan begitu, kepedulian tidak perlu dipaksa memilih satu alamat. Kita bisa peduli pada saudara seiman, pada sesama warga, dan pada kemanusiaan secara umum sekaligus. Untuk yang jauh, salurannya adalah doa, donasi, dan diplomasi yang sah. Untuk yang dekat, salurannya adalah menjaga hukum, kerukunan, dan persatuan. Orang bisa menangisi korban perang di negeri lain dan pada saat yang sama menolak ajakan yang memecah belah sesama warga. Keduanya tidak bertabrakan.

Namun memahami saja tidak cukup, sebab pemahaman tanpa ukuran yang adil mudah jadi pembenaran. Keadilan berarti memakai takaran yang sama untuk semua korban, apa pun agama, bangsa, dan kubunya. Nyawa di satu tempat tidak lebih berharga daripada nyawa di tempat lain. Tanpa takaran itu, empati berubah menjadi pembelaan buta. Di titik inilah wasaṭiyyah, jalan tengah, punya makna. Ia bukan netralitas yang tidak berpendirian, melainkan keteguhan pada prinsip ketika emosi publik sedang panas, termasuk keberanian mengatakan bahwa kekerasan tetaplah kekerasan, siapa pun pelakunya.

Praktiknya sederhana, dan justru karena sederhana sering diabaikan. Sebelum membagikan berita, tanyakan sumbernya, konteksnya, dan siapa yang diuntungkan. Beri jeda sebelum bereaksi. Belajar agama dari guru yang sanadnya jelas dan lembaga yang bisa dimintai pertanggungjawaban, bukan dari potongan video yang disodorkan algoritma. Dan bacalah sejarah, karena hampir tidak ada konflik hari ini yang akarnya tidak panjang.

Bangsa yang kuat tidak diukur dari seberapa keras ia bersuara, tetapi dari seberapa jernih ia menimbang. Ia bisa menolong yang tertindas tanpa kehilangan pijakan, dan membela keadilan tanpa merobohkan rumahnya sendiri. Modal untuk itu kita punya: iman yang matang, ilmu yang berakar, dan kesepakatan kebangsaan yang masih layak dirawat. Yang kurang barangkali hanya kesabaran untuk bertanya sebelum menjawab.

 

This post was last modified on 2 November 2026 12:01 AM

M. Khoir

Recent Posts

Mengurai Jebakan Propaganda Ekstremis dan Menafsir Ulang Sumpah Pemuda di tengah Gejolak Geoekonomi-Politik

Tembok kedaulatan sebuah negara hari ini tidak lagi semata diruntuhkan oleh invasi militer, melainkan oleh…

2 hari ago

Sensasionalisme Narasi Eskatologi: Pentingnya Studi Takhrij terhadap Hadis Akhir Zaman

Isu eskatologi selalu memiliki daya pikat magis di tengah umat Muslim. Di era banjir informasi…

2 hari ago

Menolak Normalisasi Vigilantisme: Main Hakim Sendiri Sebagai Pintu Masuk Terorisme

Kasus penggerebekan sebuah pondok pesantren di Karanganyar oleh aparat kepolisian yang berkaitan dengan aksi pembakaran…

2 hari ago

Sindrom “Katak Rebus” dan Matinya Nalar Geopolitik

Terdapat potret metaforis tentang katak yang dimasukkan ke dalam rebusan air. Ketika katak dimasukkan langsung…

3 hari ago

Komodifikasi Ketakutan dan Ilusi Ideologi: Merefleksikan Sumpah Pemuda di Palagan Siber

Peringatan Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober tidak boleh dibiarkan menguap sekadar menjadi romantisme sejarah…

3 hari ago

Belajar Kolaborasi Pemuda Lintas Iman dalam Aksi Kemanusiaan : Kepedulian Tidak Mengenal Batas Iman

Suatu hari di Mekah, jauh sebelum Muhammad diangkat menjadi nabi, seorang pedagang dari Zubaid, Yaman,…

3 hari ago