Narasi

Sekolah Harus Mempromosikan Nilai-nilai Toleransi, Bukan Menanam Benih Intoleransi

Beberapa waktu lalu publik dihebohkan oleh peristiwa pewajiban jilbab oleh sebuah sekolah negeri di Sumatera Barat, padahal dalam sekolah tersebut ada murid yang beragama non-Islam. Peristiwa ini pun mendapat tanggapan langsung dari Kemendikbud. Bahkan, atas peristiwa itu pula, muncul SKB 3 Menteri tentang penggunaan seragam sekolah.

Secara umum, fenomena pewajiban jilbab terhadap siswa non-Muslim dipandang oleh sebagian besar orang sebagai sikap dan langkah yang dapat melukai nilai-nilai toleransi yang sudah dibangun dengan susah-payah oleh para pendiri bangsa ini.

Fenomena itu sekaligus menjadi sebuah ironi karena terjdi pada ranah yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam mendidik dan mencetak generasi yang toleran, menghargai perbedaan. Ya. Sekolah atau lembaga pendidikan, apalagi yang dikelola di bawah pemerintah (negeri) sudah seharusnya menjadi ‘rumah belajar’ bersama tanpa memandang atau membedakan status sosial, agama dan lainnya.

Bahkan tidak hanya sekedar menjadi ‘rumah belajar’ bersama bagi seluruh bangsa, sekolah juga harus bisa menempatkan diri sebagai lembaga yang gencar mempromosikan nilai-nilai toleransi agar nilai-nilai tersebut menyentuh dalam sanubari seluruh masyarakat Indonesia. Terlebih di era sekarang ini, di mana toleransi semakin hari semakin ‘sepi’ dari praktek dalam kehidupan berbangsa.

Sekolah sebagai Wadah dan Rumah Belajar Bersama

Suatu masyarakat yang demokratis akan mengalami kemajuaan apabila seluruh masyarakat telah mampu mengelola perbedaan sebagai sebuah kekuatan. Untuk mencapai itu, maka dibutuhkan sikap saling pengertian, penghormatan dan pengakuan terhadap keberagaman. Di sinilah, lembaga sekolah dinantikan kontribusi riilnya.

Lebih-lebih jika kita menilik tujuan sekolah, yakni membentuk karakter siswa. Dalam konteks ini, sekolah sudah seyogyanya menanamkan nilai-nilai toleransi sejak dini. Namun, sejauh ini banyak kalangan menilai bahwa lembaga sekolah (masih) belum memadai sebagai tempat penanaman toleransi.

Setidaknya ada dua faktor penyebab lembaga sekolah (masih) banyak yang belum memadai untuk menyemai sikap toleran dan menghargai perbedaan (lihat: Ridwan, 2003: 177).

Pertama, guru seringkali memaksakan penilaian siswa terhadap suatu ideologi. Jangankan terhadap siswa yang berlainan keyakinan (agama), yang sesama agama pun juga dipaksa untuk mengikuti ideologi yang guru anut. Harus disadari bahwa agama mungkin sama, tetapi ideologi bisa berbeda. Harusnya, sebagai seorang pendidik, guru harus bersikap terbuka.

Kedua, ketidakpuasan siswa terhadap informasi di sekolah. Siswa yang rasa ingin tahunya tinggi pasti tidak sedikit. Sementara itu, pelajaran agama di sekolah sangat terbatas. Dalam keadaan seperti ini, siswa model ini akan berpaling ke internet.

Sebagaimana diketahui pula bahwa, dunia atau informasi yang ada di internet sangat melimpah bahkan nilai-nilai intoleransi bisa didapat dengan mudah. Jika informasi yang didapat siswa di internet salah, maka akan berpengaruh terhadap pola pikir dan tindakan siswa tersebut. Di sinilah laku intoleran bisa muncul.

Ketiga, sekolah belum ada satu skema khusus untuk melatih sikap toleransi antar siswa. Kebanyakan suatu lembaga pendidikan diisi oleh satu ideologi tertentu saja. Jika ada ideologi atau agama lain, maka yang lain itu akan menjadi minoritas sehingga harus mengikuti yang mayoritas. Di sini penghargaan dan pengakuan terhadap perbedaan masih minim.

Penanaman Nilai Toleransi dalam Pembelajaran dan Keteladanan

Kasus intoleransi yang marak dalam beberapa tahun terakhir menyadarkan kepada kita semua akan pentingya penanaman nilai-nilai toleransi dalam pembelajaran dan keteladanan di sekolah harus digalakkan (kembali).

Dalam bingkai di atas, sekolah harus mengambil langkah strategis. Artinya, kebijakan sekolah menjadi salah satu cara yang paling efektif dalam menanamkan sekaligus mempromosikan toleransi kepada siswa dan masyarakat pada umumnya.

Penanaman toleransi pada siswa tidak terbatas pada mata pelajaran belaka, namun harus disampaian dengan elegan dan kreatif, seperti melalui poster dan budaya sehari-hari. Kegiatan berbasis budaya sekolah juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan peserta didik sehingga akan mendorong suasana sekolah yang penuh kejujuran, kedisiplinan, penghormatan, toleransi dan sebagainya.

Keteladanan dari guru dan segenap stakeholder lembaga pendidikan juga sangat penting dalam rangka membentuk sikap toleran siswa serta mempromosikan toleransi. Menurut Slamet (2003:99),tugas utama guru adalah:

Pertama, mendidik siswa dengan menitik beratkan kepada memberikan arahan dan motivasi pencapaian tujuan. Kedua, memberikan fasilitas dalam mencapai tujuan melalui pengalaman belajar yang memadai. Ketiga, memberikan keteladanan kepada siswa berperilaku yang baik dalam hidup dan kehidupan.

Tugas yang terakhir inilah yang seringkali terabaikan. Gurus harus memberikan teladan, terutama berkaitan dengan sikap yang toleran. Keteladanan ini juga harus diintegrasikan dalam pelaksanaan pembelajaran. Inilah yang dinamakan sebagai mendesain sekolah ramah perbedaan. Jika semua sudah dijalankan, maka tugas sekolah selanjutnya adalah mempromosikan nilai-nilai toleransi kepada masyarakat luas. Sekolah tidak hanya bertugas melembagakan nilai toleransi, melainkan juga harus menjadi pioner dan penggerak masyarakat untuk bersikap toleran dalam kehidupan sehari-hari.

This post was last modified on 10 Februari 2021 2:15 PM

Fauziyah S

Aktif bergerak di bidang sosial dan isu-isu perempuan serta perdamaian, tinggal di Semarang, Jawa Tengah.

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago