Narasi

Solidaritas Tanpa Kebencian: Menjaga Persatuan di Tengah Gejolak Global

Di era global yang saling terhubung, peristiwa di belahan dunia lain bisa dengan cepat menyulut emosi publik dalam negeri. Terlebih bila peristiwa itu menyangkut saudara seiman yang menjadi korban konflik, penjajahan, atau kekerasan kemanusiaan. Rasa empati pun wajar muncul: kita bersedih, marah, dan ingin bertindak. Namun, perlu diingat bahwa solidaritas terhadap penderitaan sesama tidak boleh menggerus akal sehat dan merusak tatanan sosial kita sendiri.

Sayangnya, tidak sedikit yang keliru dalam menerjemahkan solidaritas ini. Di media sosial, kita kerap melihat narasi kemarahan yang tidak hanya ditujukan pada pelaku konflik luar negeri, tetapi merembet menjadi ujaran kebencian kepada kelompok berbeda di dalam negeri. Bahkan, dalam sejumlah kasus, kemarahan ini berubah menjadi aksi kekerasan yang menyasar rumah ibadah, simbol kebudayaan, atau institusi negara yang dianggap tidak cukup vokal membela umat Islam di luar negeri.

Situasi semacam ini sangat berbahaya. Kita sedang membiarkan penderitaan di luar negeri menjadi bahan bakar perpecahan di dalam negeri. Yang lebih mengkhawatirkan, narasi-narasi ini sering kali ditunggangi kelompok tertentu yang punya agenda politik atau ideologis. Mereka mengkapitalisasi empati publik untuk menyebar kebencian dan mengusik kerukunan.

Solidaritas Itu Tanggung Jawab, Bukan Pelampiasan

Solidaritas sejati terhadap penderitaan umat tidak lahir dari amarah yang meledak-ledak, melainkan dari kesadaran moral untuk membantu tanpa merusak. Ada banyak cara elegan untuk mengekspresikan solidaritas: menggalang donasi, menyuarakan dukungan secara damai, membangun kesadaran publik melalui diskusi, atau mendorong diplomasi kemanusiaan di tingkat negara.

Melampiaskan solidaritas dalam bentuk kebencian, bahkan kekerasan, justru mencederai esensi ajaran Islam itu sendiri. Islam tidak pernah mengajarkan untuk membalas kezaliman dengan kezaliman yang lain, apalagi terhadap sesama warga yang tak bersalah. Nabi Muhammad SAW sendiri dalam banyak kesempatan menegaskan pentingnya menjaga perdamaian, keadilan, dan menghindari fitnah yang bisa merusak persaudaraan.

Kita harus bisa membedakan antara musuh dalam konflik global dengan tetangga kita yang berbeda agama atau keyakinan. Jangan sampai emosi terhadap konflik di luar membuat kita kehilangan nurani dan membiarkan permusuhan tumbuh di rumah sendiri.

Narasi Global dan Ancaman Disintegrasi

Kita tidak bisa menutup mata bahwa banyak peristiwa global telah digunakan oleh aktor-aktor tertentu untuk menyebarkan ideologi transnasional yang berbahaya. Mereka menjual narasi bahwa seluruh dunia Islam sedang diperangi, dan bahwa satu-satunya cara membela adalah dengan memusuhi siapa pun yang dianggap “bersekongkol” dengan musuh. Ini adalah jebakan identitas yang destruktif.

Indonesia, dengan keberagaman suku, agama, dan budaya, sangat rentan jika narasi-narasi sempit ini dibiarkan tumbuh. Apalagi jika dibalut dengan ayat-ayat suci atau simbol-simbol keagamaan, yang membuat publik sulit membedakan antara agama dan agenda politik kelompok tertentu.

Kita harus waspada. Persatuan Indonesia adalah warisan besar yang harus dijaga. Jangan biarkan peristiwa di luar negeri menjadi pemantik retaknya fondasi kebangsaan yang telah dibangun dengan darah dan air mata.

Empati adalah kekuatan, jika diarahkan dengan benar. Ia bisa menjadi penggerak perubahan sosial yang damai, sumber energi solidaritas lintas batas, dan pengingat bahwa kemanusiaan melampaui sekat negara dan agama. Tapi empati juga bisa menjadi alat perusak jika diseret dalam arus propaganda dan kebencian.

Mari belajar menjadi umat yang peduli, tanpa kehilangan nalar. Mari menjadi bangsa yang bersuara untuk keadilan global, tanpa merobek-robek perdamaian di dalam negeri. Solidaritas bukan berarti permusuhan. Kepedulian tidak harus berarti perpecahan.

Indonesia membutuhkan warga yang mampu menangis untuk Palestina, Myanmar, atau Suriah—tetapi tetap tersenyum kepada tetangganya yang berbeda iman. Di sanalah letak keunggulan moral kita sebagai bangsa dan umat beragama.

This post was last modified on 12 Juli 2025 9:23 AM

mawaddah

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

9 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

2 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

2 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago