Narasi

Urgensi Mawas Paham Radikal di Tengah Maraknya Gerakan Hijrah

Generasi milenial telah menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir. Generasi milenial adalah kelompok generasi yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996, yang hidup di era digital dengan akses tak terbatas ke informasi dan berbagai macam kemajuan teknologi yang berkembang pesat.

Fenomena menarik yang muncul di kalangan generasi milenial ini adalah hijrah, yaitu perpindahan dari kehidupan yang tidak religius menjadi lebih taat dalam beragama. Meskipun fenomena ini memiliki dampak positif, tetapi juga ada sejumlah problematika yang perlu diperhatikan dan diluruskan.

Pertama, salah satu masalah yang muncul dalam fenomena hijrah di kalangan generasi milenial adalah perubahan identitas. Banyak dari mereka yang tiba-tiba mengganti pola hidup dan nilai-nilai yang mereka anut.

Namun, perubahan identitas yang terlalu cepat dan ekstrem bisa menimbulkan konflik internal dan ketidakseimbangan psikologis. Beberapa generasi milenial mungkin merasa kehilangan identitas mereka yang lama dan sulit beradaptasi dengan identitas baru mereka. Ini bisa menyebabkan terjadinya kebingungan, ketidakseimbangan dan kecemasan yang berkepanjangan.

Ketidakseimbangan ini terjadi karena beberapa dari mereka mungkin terlalu fokus pada dimensi agama, sehingga mengabaikan aspek-aspek lain yang penting dalam kehidupan, seperti pendidikan, karir, dan hubungan sosial.

Ketidakseimbangan ini bisa merugikan mereka secara emosional, finansial, dan sosial. Oleh karena itu, bagaimana pun mereka perlu diingatkan bahwa menjalankan ajaran agama seharusnya tidak mengesampingkan tanggung jawab lain dalam kehidupan yang sama pentingnya.

Kedua, fanatisme agama. Hijrah di kalangan generasi milenial seringkali dikaitkan dengan peningkatan fanatisme agama. Beberapa dari mereka yang hijrah mungkin menjadi sangat militan dan tidak toleran terhadap pandangan dan kepercayaan yang berbeda dengan yang dianut mereka.

Ini tentu bisa menimbulkan konflik sosial dan memicu pertentangan di antara sesama anggota masyarakat yang berbeda-beda secara keyakinan dan keimanan. Fanatisme agama yang berlebihan juga dapat merusak hubungan antaragama yang harmonis dan menghambat proses integrasi sosial.

Sebab, beberapa dari mereka sering kali mengisolasi diri dari teman-teman dan keluarga yang tidak sejalan dengan keyakinan agama mereka yang baru. Hal ini dapat mengakibatkan kesenjangan sosial dan kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat dengan masyarakat luas. Oleh karena itu, penting bagi generasi milenial yang hijrah untuk tetap terbuka terhadap perbedaan dan berupaya membangun jaringan sosial yang inklusif.

Karena itu, banyaknya generasi yang ikut terlibat dalam gerakan hijrah itu harus mendapatkan pendidikan yang baik untuk memahami agama dengan benar dan mempraktikkan nilai-nilai agama secara seimbang. Tanpa panduan yang tepat, mereka rentan terhadap pengaruh ekstremisme.

Pendidikan agama yang menyeluruh, inklusif, dan berbasis pada pemahaman yang mendalam akan membantu mengatasi problem ini. Selain itu, keberadaan pembimbing juga dapat memberikan arahan dan nasihat yang bijak  untuk mencegah kesalahpahaman dan kesalahan interpretasi agama.

Fenomena hijrah di kalangan generasi milenial adalah hal yang menarik dan kompleks. Meskipun ada banyak manfaat dari perpindahan ini, tetapi juga terdapat sejumlah problematika yang perlu diperhatikan.

Perubahan identitas yang terlalu cepat, fanatisme agama yang berlebihan, kebutuhan pendidikan dan pembimbingan yang baik, tantangan integrasi sosial, serta ketidakseimbangan kehidupan menjadi beberapa masalah utama yang dihadapi oleh generasi milenial yang mengalami hijrah.

Sebab itu, penting bagi masyarakat dan lembaga pendidikan untuk memberikan perhatian khusus dan dukungan kepada generasi milenial dalam menjalani proses hijrah mereka, sehingga mereka dapat mengembangkan diri secara holistik dan membawa dampak positif bagi masyarakat.

This post was last modified on 20 Juli 2023 9:03 PM

W Arrifki

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago