Narasi

4 Pesan, Bagi Mereka yang Masih Ingin Meledakkan Diri

Di luaran sana, mungkin masih ada orang-orang yang menginginkan dirinya untuk meledakkan diri (melakukan bom bunuh diri). Dengan sebuah alasan yang sama, yaitu tentang jihad, memerangi orang kafir dan mati syahid.

Setidaknya ada 4 pesan yang perlu dipahami bagi mereka yang masih merasa bahwa tindakan bom bunuh diri itu kebenaran agama dan perintah-Nya. Sebagai jalan pertimbangan baginya, bahwa tindakan bom bunuh diri ini sebetulnya tidaklah benar, mutlak keliru, merugikan dirinya dan orang lain serta bermasalah secara agama.

Pertama, dengan meledakkan diri, kamu akan mati Su’ul Khotimah. Kematian yang paling tidak diinginkan oleh siapa-pun tentunya adalah mati dalam keadaan Su’ul Khotimah. Bahkan, orang dalam setiap shalatnya selalu berdoa untuk mati dalam keadaan Khusnul Khotimah yaitu mengakhiri hidupnya dengan kebaikan.

Dalam konteks bom bunuh diri, siapa-pun yang melakukan itu, maka dia akan masuk dalam kategori mati dalam keadaan buruk. Sebab, agama tidak pernah mengajarkan perilaku zhalim yang semacam itu. Dengan melenyapkan diri dengan sebuah bom dan berharap menyasar orang lain agar tewas dalam tindakan itu.

Kedua, dengan meledakkan diri, kamu akan menanggung dosa sosial. Hal yang tidak pernah terpikirkan kesesatan di balik ideologi teroris tentang bom bunuh diri adalah (dosa sosial). Islam merujuk ke dalam perilaku dosa yang tidak akan pernah diampuni oleh Allah SWT sebelum dirinya meminta maaf terhadap orang yang pernah ia lakukan kesalahan dosa.

Cobalah kita sadari, bagaimana cara meminta maaf atas perilaku bom bunuh diri yang menewaskan orang lain itu? Sedangkan pelaku bom bunuh diri juga telah meninggal dan menyisakan dosa sosial karena telah (menewaskan) orang lain. Artinya apa? ini adalah dosa yang permanen dan tidak akan pernah terlepas dari dosa yang semacam itu di akhirat.

Sebab, Al-Qur’an telah mengibaratkan “membunuh semua umat manusia” bagi mereka yang melakukan pembunuhan layaknya pelaku zhalim bom bunuh diri itu. Jelas, bagi siapa-pun yang melakukan itu, dosa sosial yang dimiliki akan terus menjadi saksi derita di akhirat yang tidak akan pernah putus. Sebab, dia telah mengakhiri dirinya sebelum memohon ampun atas dosa yang diperbuat dan yang menjadi korban telah meninggal. Sehingga ini adalah hukuman yang tidak akan pernah selesai.

Ketiga, Nabi telah peringatan azab neraka bagi pelaku bom bunuh diri. Ada sebuah hadits yang sebetulnya sangat menunjukkan betapa murka Nabi Muhammad SAW atas pelaku bunuh diri apalagi bom bunuh diri juga meniatkan untuk menewaskan orang lain.

Seperti Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh (HR. Bukhari-Muslim) “Siapa yang menjatuhkan dirinya dari Gunung hingga mati, maka di neraka jahanam  dia akan menjatuhkan dirinya dan kekal di dalamnya. Siapa yang meneguk racun hingga mati, maka racun itu akan diberikan kepadanya kemudian dia meminumnya di neraka jahanam. Siapa yang membunuh dirinya dengan senjata tajam, maka senjata itu akan diberikan di tangannya kemudian dia tusuk perutnya di neraka jahanam, hingga kekal selamanya”.

Keempat, Kematianmu dilupakan tanpa doa-doa melainkan penuh cacian, hinaan dan amarah banyak orang. Ketahuilah, bahwa orang yang melakukan bom bunuh diri itu tenggelam di dalam cacian, hinaan dan tanpa doa-doa untuknya. Ini adalah hukuman sosial yang akan didapat oleh para pelaku  bom bunuh diri selain hukuman di akhirat kelak.

Orang akan benci atas kematianmu ketika melakukan bom bunuh diri. Kematianmu tidaklah mulai melainkan penuh hina dan sehina hinanya. Ini adalah pesan-pesan penting bagi siapa-pun yang “rindu” melakukan kezhaliman layaknya bom bunuh diri itu. Cobalah pertimbangkan 4 hal tadi sebagai bukti penting kesesatan kelompok teroris dalam menjerumuskan umat ke dalam keburukan.

This post was last modified on 13 Desember 2022 3:59 PM

Sitti Faizah

Recent Posts

Di Tengah Gencar Ketahanan Pangan dan Energi, Jangan Lupakan Ketahanan Ideologi dan Literasi

Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…

1 bulan ago

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

2 bulan ago

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai…

3 bulan ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

3 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 bulan ago