Narasi

Agama Ramah Anak, Agama yang Menyenangkan

Saya punya anak baru berusia satu tahun. Senang rasanya melihat tumbuh kembangnya. Kecakapan dan ketangkasan seorang anak diawali pada masa keemasannya, yakni masa-masa kecilnya. Dimana ia hidup di lingkungan keluarga dan juga sekolah nantinya.

Masa anak-anak harus diisi kegiatan yang mendidik serta menyenangkan. Anak-anak dalam masa perkembanganya, berdasarkan ahli psikologi anak, ia tidak boleh dibentak, dilarang, dan juga mendengarkan kata-kata kasar. Karena anak-anak suka meniru dan juga dengan gampang mengingat.

Memori anak-anak masih kosong, ia akan meniru dari orang tuanya, keluarganya, suadaranya, lingkungannya, dan juga dari sekolahnya. Anak-anak juga responsif, suka bertanya. Itu wajar karena rasa ingin tau, dan dorongan minat belajarnya sangat tinggi.

Soal pengetahuan agama juga perlu diperhatikan. Karena anak-anak suka dengan hal-hal yang menyenangkan maka berikan pembelajaran agama yang menyenangkan pula. Kisah yang inspiratif misalnya pejuang Islam yang toleran dan suka menolong.

Anak-anak gampang menirukan dari apa yang didengar dan juga dilihat. Maka hati-hati ketika berkata dan bersikap di depan anak. Jika itu perilaku buruk maka hindari berada di sekitar anak, atau jauhkan anak-anak dari kegiatan yang merusak perilakunya nanti.

Demikian pula soal agama, anak-anak jangan diajarkan pengertian keagamaan yang berat. Berikan yang sederhana dan menyenangkan. Misalnya, tentang Nabi Muhammad, ia adalah sosok yang suka menolong, peduli kepada teman, meskipun dari golongan manapun.

Cerita dan kisah yang menyenangkan akan menginspirasi perilaku anak. Jika anak-anak diberikan pendidikan keagamaan yang kasar justru akan merusak masa depan perilakunya. Hindari mengajarkan anak-anak soal hukum dan menghukumi.

Jangan tanamkan anak-anak berpikiran agama yang sempit. Bisa jadi anak anda akan justru berbalik menyerang anda sendiri. Bibit-bibit radikalisme itu bisa saja dimulai dari masa anak-anak. Anak-anak mendapatkan pendidikan agama yang sempit, ini salah itu salah.

Bahaya jika sejak kecil anak-anak mendapatkan pemahaman keagamaan yang berbau kecaman. Anak-anak akan takut beragama. Mereka akan berpikir beragama itu menakutkan, salah sedikit berdosa, masuk neraka.

Jauhkan anak-anak dari pengaruh paham-paham yang mengandung bibit terorisme. Terorisme bukan sekedar bom, dan perusakan. Terorisme bermula juga dari ancaman. Teror berawal dari saling tuduh, saling menyalahkan.

Jangan ajarkan anak-anak suka mengancam. Jangan pula suka mengancam anak. Mengancam itu bibit-bibit teroris. Ajarkan kepadanya hal-hal menyenangkan.

Untuk itu, harus diciptakan lingkungan agama yang ramah anak. Lingkungan agama yang mendidik dan membentuk perilaku anak menjadi pribadi yang menyenangkan. Lingkungan seperti itu akan memberikan pembelajaran bahwa agama itu menyenangkan bukan sebaliknya.

Perilaku anak kelak ketika dewasa tergantuk pada pendidikan dan lingkungannya. Jika cara mendidiknya kasar, tidak menyenangkan, suka menyalahkan, hasilnya di masa depan perilakunya akan seperti itu. Jadi ajarkan kepada anak-anak agama yang ramah, agama yang menyenangkan.

Anak-anak adalah generasi masa depan. Agama juga punya masa depan. Jika anak-anak sejak kecil diajarkan agama yang suka berperang, maka kelak ia suka berperang. Namun jika anak diberikan pendidikan agama yang menyenangkan, mencintai perdamaian, sudah pasti ia akan menciptakan pedamaian.

Jika anak-anak diajarkan agama yang suka menyalahkan maka kelak ia akan suka mengkafirkan. Namun jika anak-anak diajarkan sikap yang ramah, maka ia kelak akan menciptakan kerukunan.

Sekali lagi, agama itu menyenangkan. Jadi berikan anak-anak ajaran agama yang menyenangkan. Biar kelak ketika dewasa ia mengajarkan dan mendakwahkan agama juga dengan cara yang menyenangkan.

Febri Hijroh Mukhlis

Alumni pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pendiri Yayasan Umm al-Bilaad

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago