Categories: Kebangsaan

Ajaran Kejahatan Tidak Laku di Indonesia

Kesempitan pola pikir kelompok radikal yang mengira bisa menampilkan Islam melalui rentetan kekerasan seperti peledakan bom di Sarinah kemarin menuai kemarahan publik, bagaimana tidak, serangan yang dilakukan di siang hari itu telah menganggu ketenangan masyarakat. Hal ini juga berimbas langsung pada sikap masyarakat yang semakin muak dengan berbagai teror yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pemuja kekerasan itu. Kejadian ini juga sekaligus mematahkan mimpi mereka untuk mendirikan negara –yang katanya—Islam, karena justru dengan deretan kekejian yang mereka lakukan itu, masyarakat bukan saja tidak tertarik dengan bualan mereka, tetapi juga semakin memusuhi perilaku jahat yang mereka anggap jihad.

Kelompok radikal itu tentu lupa bahwa masyarakat kita sudah cerdas, sehingga tidak akan mudah terpengaruh oleh hasutan-hasutan kebencian yang mereka lancarkan. Masyarakat sudah semakin mengerti bahwa perilaku menteror, merusak, dan membunuh bukan bagian dari Islam. Alih-alih tertarik dengan propaganda jahat kelompok radikal, rasa benci dan marah yang bercampur aduk di tengah masyarakat justru membangkitkan semangat untuk melawan. Kejadian teror justru menimbulkan rasa kebersamaan, semacam rasa senasib sepenanggungan sebagai sesama anak bangsa. Karenanya masyarakat tidak memiliki ketakutan, justru masyarakat semakin memiliki kekuatan untuk menjaga dan membangun Indonesia.

Meski demikian, kejadian kemarin juga menunjukkan bahwa perilaku para teroris sudah tidak lagi mengenal ruang dan waktu, mereka bahkan tidak memiliki target musuh yang jelas; siapa saja yang tidak mereka senangi bisa langsung mereka habisi. Hal inilah yang menimbulkan keinginan untuk secara setentak melakukan perlawanan terhadap kelompok penebar kerusakan tersebut, terlebih klaim mereka tentang pelaksanaan perintah tuhan terbukti hanya sebuah bualan.

Islam selalu mengajarkan toleransi yang tinggi, berbuat baik kepada setiap makhluk, serta melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, yakni melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Perbuatan para teroris justru sebaliknya, mereka melakukan keburukan dan meninggalkan kebaikan. Karenanya terorisme jelas bertentangan dengan Islam.

Dengan fakta ini semakin jelas bahwa melawan terorisme merupakan salah satu wujud nyata dari jihad yang sesungguhnya, karena dengan memberikan perlawanan terhadap perilaku yang menyimpang merupakan sebuah keharusan. Dengan kondisi masyarakat Indonesia yang begitu cerdas dan kuat, tentu kita memiliki cara tersendiri dalam menghadapi para pengacau ini. Sejarah telah menunjukkan bahwa kita bukan bangsa yang gegabah, kita selalu menempatkan musyawarah mufakat sebagai landasan utama sebelum mengambil keputusan. Karenanya urusan menjaga negeri dari ancaman perusakan bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan.

Mari melawan terorisme dengan tetap menjaga keamanan dan kenyamanan bersama. Serahkan bagian penegakan hukum kepada pihak berwajib, namun menjaga sanak saudara dan tetangga dari pengaruh radikalisme dan terorisme bisa kita lakukan sejak dini. Salah satunya dengan menjaga kehangatan hubungan baik yang kita miliki, dengan begitu kita sudah turut memastikan bahwa negeri ini indah dan tidak seharusnya dibuat susah.

Gagalnya aksi teror di Sarinah Jakarta tempo hari juga merupakan sebuah pembelajaran nyata betapa kejahatan tidak akan pernah bisa menang. Kejayaan yang diraih melalui kejahatan tidak akan pernah bisa terwujud, karena kejahatan hanya bersumber pada setan. Semoga kita semua selalu berada di bawah perlindungan tuhan agar tetap bisa berbuat kebaikan, amin.

Brigjen Pol Drs. H. Herwan Chaidir

Direktur perlindungan BNPT, Lulusan Akabri Kepolisian angkatan 1987, PTIK angkatan 31 Thn 1994-1996, Sespimpol angkatan 40 tahun 2004, Lemhannas RI angkatan 47 tahun 2012.

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago