Budaya

Awas! Keram Otak Sebabkan Radikalisme dan Terorisme

Fenomena kekerasan dan teror yang marak dilingkungan masyarakat saat ini sudah sangat memprihatinkan. Kekerasanyang terjadi bahkan seperti sengaja dibungkus dengan isu keagamaan;melakukan kekerasan dengan dalih sebagai pelaksanaan perintah Tuhan, mengumbar istilah kafir,  thogut, dan terlalu mudah menganggap kelompok lain sesat. Semua itu dikemas laiknya tontonan yang disuguhkan kekhalayak ramai nyaris tanpa alat saring. Media bahkan digunakan sebagai alat efektif untuk menyebarkan ajaran-ajaran kekerasan yang –sekali lagi— dianggap perintah dari tuhan.

Bagi penganut paham ini, kemajuan teknologi, khususnya dalam bidang informasi dan teknologi, dimanfaatkan hanya untuk menyebar propaganda yang merusak tatanan peradaban dan kebudayaan masyarakat. Lihat saja bagaimana kelompok radikal ini justru bersuka cita atas berbagai aksi teror dan peledakan bom yang melukai orang banyak. Pekikan kegirangan langsung pecah manakala ada kabar bom meledak atau sekelompok teroris yang berhasil membunuh para sandera, mereka merespon peristiwa getir dengan takbir kemenangan. Tentu kita lantas bertanya, dimana otak mereka?

Karena bagi manusia yang otaknya masih berfungsi dengan baik, kejahatan tidak pernah bisa disebut sebagai kemenangan. Orang dengan otak yang masih baik juga akan mudah mengerti bahwa agama sangat melarang kekerasan, apapun namanya. Tuhan menganugerahi manusia dengan otak agar manusia dapat berpikir dan menggunakannya untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Otak pula yang menjadikan manusia sebagai makhluk tuhan yang paling baik, tapi apa jadinya jika otak yang diberikan tuhan itu justru mengalami keram?

Sebagai pusat dari sistem saraf, otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu, terdapat kaitan erat antara otak dan pemikiran.

Otak dan sel saraf di dalamnya dipercayai dapat mempengaruhi kognisi manusia. Pengetahuan mengenai otak memengaruhi perkembangan psikologi kognitif. Otak juga bertanggung jawab atas berbagai fungsi, seperti pengenalan, emosi. ingatan,  pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya (wikipedia).

Namun otak dapat pula mengalami keram, yakni ketika otak kaku, tegang, nyeri dan tidak relax, suhu otak panas atau otak membeku dan mengeras. Ciri ciri orang yang terjangkit keram otak adalah, emosional, penuh dendam, penuh dengan kebencian, penuh dengan amarah yang ditampilkan dengan perilaku merasa benar sendiri, gemar memfitnah, suka menghasut, mencaci, memaki, hobi mengkafirkan, dan bahkan dalam tingkat tertentu, seorang yang sudah parah terjangkit akan terlihat senang ketika melakukan kejahatan, misalnya dengan membunuh tawanannya kemudian diperlihatkan kepada khalayak ramai kekejaman dan kebengisan dari orang itu. Keram otak pada level tertitinggi akan membesar menjadi kanker otak, dan jika sudah seperti ini otak sudah tidak berfungsi.

Karena otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh badan dan pemikiran, otak yang jernih atau yang berfungsi dengan baik akan menampilkan perilaku yang baik. Yakni perilaku yang menjunjung tinggi nila-nilai kemanusiaan, kejujuran, kasih sayang, kepedulian terhadap sesama, dll. Namun ketika pusat pengatur (otak) sudah mengalami keram, maka seorang akan mengalami kerusakan cara berpikir, keras kepala dan merasa benar sendiri.

Munculnya radikalisme dan terorisme bisa jadi merupakan bentuk nyata dari keram otak. Di mana orang sudah tidak bisa lagi berpikir secara jernih, bagaimana mau berpikir sementara otak sudah keram? Jika diberi pemahaman yang benar justru akan menganggap itu bid’ah, produk kafir, dst, otak kian hari dipenuhi dengan prasangka buruk dan amarah.

Keram otak bisa menjangkit siapa saja, karenanya mari bersama merawat otak, dengan nilai kasih sayang, kepedulian terhadap sesama manusia, menghargai perbedaan, berpikir terbuka dan toleran, serta menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan. Dengan begitu otak kita akan senantiasa sehat dan tidak akan mengalami keram.

.

.

Haidar Malaka

Share
Published by
Haidar Malaka

Recent Posts

Menemukan Tuhan dalam Kecerdasan Buatan

Pergeseran budaya digital telah mendorong Kecerdasan Buatan (AI) ke garda depan wacana global, dan kini…

7 jam ago

Post-Truth dan Ilusi Kebenaran Versi AI; Awas Radikalisasi di Media Sosial!

Era digital menghadirkan perubahan besar dalam cara manusia memandang, menyebarkan, dan menerima informasi. Media sosial…

7 jam ago

Menjadikan AI sebagai Senjata Kontra Radikalisasi

Di era digital seperti saat ini, peran media sosial dan teknologi informasi semakin mendalam dalam…

7 jam ago

Prebunking vs Propaganda: Cara Efektif Membendung Radikalisme Digital

Di era digital, arus informasi bergerak begitu cepat hingga sulit dibedakan mana yang fakta dan…

1 hari ago

Tantangan Generasi Muda di Balik Kecanggihan AI

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa dampak signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. Pengaruhnya…

1 hari ago

Belajar dari Tradisi Islam dalam Merawat Nalar Kritis terhadap AI

Tak ada yang dapat menyangkal bahwa kecerdasan buatan, atau AI, telah menjadi salah satu anugerah…

1 hari ago