Narasi

Ciptakan Belantara Maya Aman dan Nyaman, Sebarkan Virus-Virus Nasionalisme

Kebijaksanaan dalam mengakses dunia maya merupakan langkah penting untuk melawan hoax, ujaran kebencian, fitnah, adu domba, rasisme dan hal-hal negatif lainnya. Karena belantara dunia maya adalah dunia vulgar. Orang bebas mengekspresikan perasaaan dan pikirannya, tanpa takut mengganggu kebebasan orang lain.

Baru habis jalan-jalan nulis di medsos, diputus pacar nulis di medsos, ditipu orang nulis di medsos, benci dengan seseorang sindir di medsos, beda pilihan politik bertengkar di medsos. Belum lagi konten-konten lain yang negatif hingga bermuatan SARA. Alangkah vulgarnya belantara maya. Tidak hanya yang baik-baik saja, tetapi sampai hal-hal yang negatif dan merugikan semua ada di sana.

Berdasarkan data yang dilansir Kompas.com, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan bila populasi penduduk Indonesia saat ini mencapai 262 juta orang. Lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta orang telah terhubung jaringan internet sepanjang 2017.

Beranjak dari data tersebut seyogianya kita dapat mafhum kalau dunia maya atau internet telah menjadi ruang sosial bagi masyarakat Indonesia. Ruang tidak hanya berinteraksi antara netizen satu dengan lainnya. Melainkan juga mengakses informasi, membeli barang, memesan transportasi, berbisnis, berkarya, hingga aktualisasi diri sekarang juga sudah melalui dunia maya.

Internet tidak hanya menjadi tempat persinggahan sementara bagi netizen, tetapi juga menjadi rumah kedua. Sebab, kegiatan apapun sekarang banyak yang dilakukan lewat dunia maya. Dunia maya sekarang sudah menjadi gaya hidup masyarakat.

Tetapi hal yang perlu kita waspadai selain kita sendiri berhati-hati dan bijak dalam menggunakan internet atau mengakses dunia maya yakni pengawasan terhadap anak-anak kita. Sebab masih menurut data dari Kompas.com bahwa remaja usia 13 hingga 18 tahun yang mengakses dunia maya sebesar 16,68 persen. Sedangkan yang berusia 19 hingga 34 tahun sebanyak 49,52 persen. Sebesar 29,55 persen pengguna internet berusia 35 hingga 54 tahun. Dan terakhir, orang tua di atas 54 tahun sebanyak 4,24 persen yang memanfaatkan internet

Anak-anak atau remaja usia 13 hingga 18 tahun menempati posisi ketiga dari banyaknya penggunaan internet di Indonesia. Ini dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua untuk senantiasa mengingatkan dan mengawasi anak-anak atau remaja perihal pemakaian internet atau dunia maya. Dunia maya merupakan belantara tanpa batas dan vulgar. Berisi fasilitas dan konten-kinten yang beragam. Dari mulai yang positif hingga negatif. Tidak sedikit konten-konten yang berbau sentimen SARA dan sarat nilai yang tidak mendidik.

Sebarkan Nasionalisme

Marilah kita menggalakkan dan menghiasi dunia maya dengan nilai-nilai nasionalisme. Menyebarkan virus-virus nasionalisme di belantara maya. Nilai-nilai nasionalisme ini digemakan di dunia maya untuk melawan konten-konten negatif dan tidak mendidik seperti sentimen SARA, kriminalitas dan perpecahan. Mengapa konten-konten dan gerakan yang berbau sentimen SARA, kriminalitas dan perpecahan perlu dilawan? Agar belantara maya tidak dijadikan sarang bagi konten-konten dan gerakan negatif.

Mengisi dunia maya dengan nasionlisme ada beragam cara. Yang jadi Youtuber, seyogianya menyelipkan nilai-nilai nasionalisme dalam kontennya, begitupun para blogger dan para trendsetter di dunia maya. Hingga cara yang paling minimal yakni para netizen menyebarkan nilai-nilai nasionalisme di tiap status atau cuitan medsosnya. Minimal tidak ngomongin orang, tidak menyebarkan ujaran kebencian, hoax, tidak mudah terhasut oleh propaganda dan adu domba.

Nilai-nilai nasionalisme tidak hanya penting untuk digemakan di dunia maya tetapi harus dan wajib. Sebab dunia maya juga layaknya dunia nyata yang menjadi lingkungan dan tempat tinggal bersama. Jika lingkungan dan tempat tinggal itu bersih dan aman tentu yang tinggal akan nyaman. Sebaliknya bila tempat tinggal atau lingkungan kita tidak bersih dan tidak aman tentu kita yang tinggal tidak akan pernah merasa nyaman. So, marilah hiasi dan isi belantara dunia maya dengan konten-komten positif dan perdamaian termasuk menyelipkan nilai-nilai nasionalisme di dalamnya.

Ahmad Solkan

penulis saat ini sedang kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Aktif di LPM Paradigma UIN Sunan Kalijaga.

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago