Narasi

Hoax itu Bersumber dari Iblis

Dalam kisah kosmis yang diceritakan dalam al-Qur’an, dijelaskan bahwa Iblis menjadi musuh yang nyata dalam diri manusia. Deklarasi permusuhan itu terjadi saat Allah memerintahkan Iblis sujud kepada Adam, tetapi Iblis menolak. Penolakan Iblis itu dengan rasionalisasi bahwa dirinya lebih baik daripada Adam, karena dirinya diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari tanah. Semenjak itulah Iblis diusir dari surga oleh Allah, tetapi sebelum diusir Iblis bersumpah bahwa ia akan terus menyesatkan dan menggoda Adam dan anak cucunya.

Maka ketika momentumnya tiba, misi dijalankan oleh Iblis yaitu dengan membujuk dan mengatakan kepada Adam, bahwa ia bisa menunjukkan pohon keabadian (syajarat al-khuld) dan kekuasaan (mulk) yang tidak bakal sirna. Jelas di situ sebelumnya Allah sudah melarang Adam dan istrinya untuk tidak mendekati apalagi memakan buah kebadian itu. Perlahan namun pasti ternyata Adam dan istrinya terbujuk dan memakan buah terlarang itu, sehingga Adam terusir dari surga. Adam dan istrinya percaya dengan berita bohong (hoax) yang dipropagandakan Iblis kepadanya. Karena sejatiya pohon keabadian dan kekuasaan yang tidak bakal sirna itu hanya milik Allah. Sehingga ketika Adam percaya dengan narasi propaganda Iblis di atas, otomatis Adam ingin merebut kekuasaan Allah, yang tentu itu merupakan pelanggaran besar (dosa besar).

Nah ternyata misi Iblis itu sampai sekarang terus berlangsung dengan masif dan tersetruktur. Tentu lewat tangan panjang Iblis yaitu manusia yang hobi akan menyebarkan berita hoax. Dengan kemajuan dunia maya semakin menjadikan gampang dalam menjalankan misinya itu. Jelas berita hoax hanya akan membuat bangsa terpecah belah, dan merusak sendi-sendi kemanusiaan.

Pemuda Cerdas Lawan Hoax  

Di sini peran pemuda sangat signifikan dalam membendung dan melawan hoax. Karena mayoritas pengguna media sosial adalah pemuda. Di dunia maya pemuda harus kritis dan berpikir mendalam setiap berselancar di dunia maya. Serta dibiasakan budaya membaca yang tinggi, itu semua untuk menangkal hoax. Menurut sejumlah riset, tingkat illiteracy masyarakat Indonesia memang sangat tinggi. Maksudnya adalah budaya membaca masyarakat kita rendah. Rendahnya tradisi literacy dan minimnya “budaya baca” ini akan berpengaruh pada pemikiran dan perilaku seseorang dan masyarakat. Menurut sejumlah ahli seperti John Miller, President Central Connecticut State University, masyarakat yang tidak mempraktekan atau membudayakan “tradisi membaca” cenderung akan berpikiran kotor dan berburuk sangka, bertindak buruk, brutal dan kasar, serta represif dan arogan terhadap orang lain.

Sehingga sudah menjadi keharusan bagi masyarakat kita, khususnya pemuda untuk bersikap cerdas di dunia maya. Dengan cara menumbuhkan tradisi literasi, otomatis pemuda kita akan memiliki horizon pemahaman secara mendalam dan komprehensif.

Dalam mencari solusi penyebaran radikalisme di dunia maya, menurut Kapolri, Tito Karnavian, disiplin ilmu komunikasi bisa menjadi pisau analisis yang signifikan jika melihat transfer ideologi sebagai akar masalahnya. Maka ada lima unsur yang terlibat dalam transfer ideologi antara lain: pertama, pengirim informasi. Kedua, konten informasi. Ketiga, penerima. Keempat, media. Kelima, konteks sosialnya. (kompas.com 20 Januari 2017)

Dengan demikian ada lima cara untuk mencegah proses radikalisasi: Pertama, menetralisir orang-orang yang berpotensi menjadi sender atau orang yang melakukan perekrutan. Kedua, melemahkan ideologi radikal yang mereka sebarkan dengan cara membuat ideologi tandingan yang bersifat moderat. Ketiga, menyebarkan ideologi tandingan moderat tadi ke masyarakat yang rentan menjadi sasaran radikalisasi. Keempat, dengan selalu mengawasi media yang menjadi sarana penyebaran paham radikalisme. Kelima, memahami konteks sosial yang ada di setiap lapisan masyarakat.

Tentu kita tidak ingin menjadi silent majority, kita mayoritas harus berperan dan masif melawan hoax di dunia maya. Jangan biarkan kelompok radikalisme menguasai dunia maya, karena mereka hanya akan menciptakan permusuhan dan radikalisme salah satunya lewat hoax sesuai yang dicetuskan oleh Iblis. Jadi sudah jelas dan nyata, bahwa hoax pertama kali itu dipraktikan oleh Iblis untuk menjerumuskan Adam.

Apakah kita sebagai anak cucu Adam akan mengulanginya, dan menjadi kaki tangan Iblis? Tentu tidak, semoga kita dijauhkan dari fitnah hoax. Mari kita semua sadar dengan menjadikan momentum ini sebagai refleksi bersama, bahwa hoax merupakan tindakan jahat dan tidak berkemanusiaan.

Lukman Hakim

Penulis adalah Peneliti di Sakha Foundation, dan aktif di gerakan perdamaian lintas agama Yogyakarta serta Duta Damai Yogya.

Recent Posts

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

2 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

2 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

7 hari ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

7 hari ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 minggu ago

Peta Jalan Penanggulangan Terorisme-Jurnal Jalan Damai Vol. 1. No. 10 Desember 2025

Salam Damai, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya Jurnal…

4 minggu ago