Narasi

Ideologi Transnasional dan Khittah Indonesia 1945

“Dalam upaya memperbaiki kehidupan berbangsa di tengah kegalauan globalisasi ini, kita harus kembali membangun karakter dan jati diri bangsa ini, kembali ke khittah Indonesia 1945.  Yaitu kembali ke semangat Proklamasi, kembali kepada nilai-nilai Pancasila dan berpegang pada amanat pembukaan UUD 1945. Ini semua untuk menciptakan Negara yang berdaulat, adil dan makmur”

Pernyataan ini ditegaskan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj dalam Munas Alim Ulama’ NU di Cirebon, 2012. Kang Said, panggilan akrabnya, melihat tantangan globalisasi, termasuk ideologi transnasional, seringkali mengabaikan, bahkan mau meruntuhkan, khittah Indonesia 1945. Padahal, NKRI yang berdiri tegak ini adalah hasil kesepakatan tahun 1945. Makanya, semua elemen bangsa harus kembali kepada khittah Indonesia 1945, di mana semua bentuk kemajemukan dan kebinekaan menjadi satu kesatuan dalam gerakan NKRI.

Kang Said juga menegaskan bahwa NU dalam kesejarahannya menorehkan banyak catatan, terlebih dalam berdirinya NKRI. Bukan saja keterlibatan kultural, NU sangat intensif keterlibatannya dalam merumuskan arah dan gerak negara ini. Hasyim Asy’ari, Wahid Hasyim, dan Abdurrahman Wahid mungkin menjadi trisula NU, baik secara geneologis maupun ideologis, yang mencatatkan gerak perjuangan NU untuk “NKRI harga mati”. Trisula NU tersebut tentu saja tidak sendirian, karena mereka dikerubungi ribuan kiai, ribuan pesantren, jutaan santri dan jamaah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Khittah Indonesia 1945

Menggelorakan khittah Indonesia 1945 ini berangkat dari pengalaman berbangsa dan bernegara kita ketika mengalami krisis dan kemerosotan di tengah goncangan ideologi transnasional yang makin mengancam ideologi negara. Ideologi transnasional bukan saja mengibarkan bendera yang sangat menghina merah putih, tetapi juga telah “meracuni” anak-anak muda bangsa dengan ide-ide khilafah.

Bukan saja ide dalam berfikir, tetapi juga dalam aliansi gerakan, sampai menguasai dan mengganti NKRI. Jelas sangat berbahaya, karena NKRI ini warisan pendiri bangsa yang sudah berjuang tulus untuk anak cucunya. Sementara ide khilafah yang digelorakan justru terbukti menghancurkan tatanan peradaban di berbagai negara lainnya. Mana mungkin anak cucu bangsa ini diwarisi ide khilafah yang menghancurkan? Sementara Pancasila sudah terbukti memberikan maslahah bagi kesatuan bangsa dan negara tercinta ini. Sungguh, ideologi transnasional telah menjadi ancaman sangat serius bagi masa depan NKRI.

Dalam hasil Munas Alim Ulama NU di Cirebon tahun 2012 itu, kembali ke khittah Indonesia 1945 merupakan kembali ke jati diri bangsa ini yang diwarnai dengan semangat kemerdekaan, menciptakan keadilan dan kesejahteraan serta membangun kedaulatan nasional yang lepas dari segala macam bentuk penjajahan. Kembali ke khitah Indonesia 1945 berarti kembali ke semangat Proklamasi, nilai-nilai Pancasila, semangat Pembukaan Undang-Undang  Dasar 1945, serta kembali pada nilai luhur UUD 1945, yang berdasarkan pada nilai ketuhanan, kemusiaan, persatuan, kekeluargaan, permusyawaratan serta perjuangan keadilan.

Khittah Indonesia 1945 merupakan keseluruhan cita-cita bangsa ini yang berproses sejak jaman Kebangkitan Nasional yang kemudian dirumuskan menjadi dasar Negara Pancasila, dicetuskan melalui Proklamasi Kemerdekaan, dirumuskan menjadi Pembukaan UUD serta dirinci ke dalam batang tubuh UUD 1945 secara tuntas dan menyeluruh.

Khiitah Indonesia 1945 menegaskan kembali Pancasila sebagai ideologi negara, barang siapa mengganggu atau menentangnya  harus segera dicegah, karena ini musuh negara. NU juga mendesak agar dalam UUD itu ada pasal yang menegaskan bahwa Mukadimah UUD 1945 yang telah ada itu sama sekali tidak boleh di ubah atau amandemen, karena Mukadimah tersebut menjadi pedoman yang memuat filososi serta arah perjuangan bangsa ini.

Indonesia Masa Depan

“Nilai dasar demokrasi adalah memanusiakan manusia dan mengaturnya, agar pola hubungan antar manusia itu dapat saling menghormati perbedaan, dan mampu bekerjasama sehingga menciptakan kesejahteraan bersama,” demikian yang selalu ditegaskan KH Wahab Hasbullah, Pahlawan Nasional dan juga penggerak berdirinya NU. Kiai Wahab mengaktualisasikan gagasannya dari gurunya, KH Hasyim Asy’ari yang selalu menegaskan bahwa agama harus menjadi inspirasi dan basis etik dalam membangunj demokrasi. Sinergi agama dan nasionalisme dalam membangun Indonesia, bagi Kiai Hasyim, akan menjadikan Indonesia masa depan sebagai negara yang bermartabat.

Basis agama yang sinergis dengan nasionalisme ini harus menjadi tonggak utama dalam mengawal Khittah Indonesia 1945. Pertama, selalu berani mempertaruhkan dirinya demi tegaknya NKRI harga mati. Siapapun yang merongrong NKRI, maka kita harus siap berada di barisan paling depan untuk membela NKRI. Apapun yang dikerjakan, maka harus berorientasi menjaga dan menegakkan NKRI. Disinilah, bagi Kiai Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU (1999-2014) sebenarnya kita harus menjalankan politik tingkat tinggi, yakni politik kebangsaan, politik kerakyatan dan etika politik. Dengan politik tingkat tinggi, kita akan tetap terdepan dalam menjaga NKRI.

Kedua, harus selalu berdiri di depan dalam menegakkan kemandirian bangsa. Kemandirian harus menjadi salah satu tonggak kemandirian bangsa ini. Kalau bangsa ini berani tegak mandiri, maka kedaulatan bangsa tak bisa diganggu gugat. Ideologi transnasional harus dijauhkan, karena merusak tatanan kemandirian bangsa. Ketiga, mengembangkan kader anak bangsa yang berkarakter. Menyiapkan generasi bangsa yang berkarakter dan berintegritas, karena dari sosok yang berakarkter dan berintegritas, maka agenda bangsa masa depan bisa direalisasikan. Peran lembaga pendidikan, pendidikan keagamaan, dan pendidikan kebangsaan, mutlak harus segera diperkuat dari semua lini, khususnya dimulai dari pelosok desa.

Semangat perjuangan inilah yang harus digelorakan bersama, sehingga Khittah Indonesia 1945 bisa dijalankan dengan baik dan bermartabat dan ideologi transnasional bisa segera menyingkir dalam NKRI. Anak-anak muda bangsa ini harus semakin teguh sebagai pelopor khittah Indonesia 1945, karena masa depan bangsa ada di tangan mereka.

 

Muhammadun

Pengurus Takmir Masjid Zahrotun Wonocatur Banguntapan Bantul. Pernah belajar di Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari, Yogyakarta.

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago