Categories: Narasi

ISIS, ISIL dan IS: Banyak Nama Satu Topeng

Nama ISIS, merujuk pada kelompok radikal teroris yang mengklaim menegakkan syariat Islam dan dipimpin seorang khalifah, semakin sering muncul di berbagai pemberitaan media. Rentetan aksi brutal dan sadis yang mereka pertontonkan adalah magnet bagi para pemburu berita, belum lagi agitasi yang seolah tak pernah henti mereka umbar, menjadikan ISIS sebagai kelompok radikal terpopuler saat ini.

Namun belakangan ISIS muncul dengan nama lain, entah itu nama yang mereka pilih sendiri atau nama yang diberikan oleh orang lain. selain nama ISIS, yang merupakan singkatan berbahasa inggris untuk Islamic State of Iraq and syria, muncul pula nama ISIL dan IS. ISIL adalah singkatan dari Islamic State of Iraq and the Levant, sementara IS adalah singkatan dari Islamic State. nah, apakah kelompok pimpinan abu bakar al-baghdady ini sekedar melakukan ¬re-branding dengan mengusung nama baru, atau justru ada agenda lain dari perubahan nama tersebut?

Jika menengok pada sejarahnya, kelompok militan ini pertama kali didirikan oleh Abu Musab al-Zarqawi pada tahun 1999. Saat itu ia menamakan kelompok bentukannya dengan nama Jama’at al-Tawhid wal-Jihad. Kelompok ini kemudian lebih dikenal sebagai “Al Qaeda” di Irak setelah bergabung dengan jaringan Osama bin Laden. Sejak saat itu kelompok ini telah secara bergantian dipimpin oleh banyak orang, hingga akhirnya Abu Bakar al-Baghdady, pemimpinnya saat ini, mendeklariskan pendirian negara Islam di Irak dan Syiria pada tanggal 29 Juni 2014.

Di dunia Arab, kelompok ini dikenal dengan nama Al-Dawla Al-Islamiya fi al-Iraq wa al-Sham, atau negara Islam di Irak dan Sham. Kata “Sham” merujuk pada sebuah wilayah yang terbentang mulai wilayah selatan Turki, melewati Syria hingga Mesir, termasuk di dalamnya adalah Lebanon, Israel, Palestina dan Yordania. Sejak pendiriannya, kelompok ini telah mendeklarasikan pemberlakuan hukum Islam di wilayah tersebut.

Dalam bahasa Inggris, terjemahan paling pas untuk kata “Sham” adalah “levant”. Oleh karenanya banyak pakar dan politisi, termasuk Barrack Obama dan Cameron, menyebut kelompok di atas dengan nama ISIL. Jika benar bahwa “ISIS” sejatinya adalah “ISIL”, yang berarti mereka bukan hanya akan ‘mencaplok’ negara Irak dan Syiria saja, tetapi juga seluruh wilayah Sham, maka kita patut waspada, karena kelompok ini ternyata lebih berbahaya dari yang kita kira.
Lalu bagaimana dnegan nama IS atau Islamic State? ketika kelompok ini sudah tidak lagi menyebut nama negara tertentu yang dijadikan sebagai wilayah jajajahannya, kita juga perlu waspada, karena bisa saja, tidak menyebut nama negara tertentu karena mereka ingin memaksakan pemberlakukan syariat Islam di seluruh negara.
Menanggapi hal ini, media-media di Inggris mulai ramai-ramai menuntut perdana mentri mereka, David Cameron, untuk tidak lagi menyebut mereka dengan nama “Islamic State of…”, karena hal itu sama saja dengan melegitimasi tindakan mereka sebagai tindakan yang ‘islami’, sebagai gantinya, mereka menyerukan agar kelompok ini disebut dengan nama “Un-Islamic state…”.

Sementara itu, seorang perempuan AS bernama Isis Martinez telah melayangkan petisi ke berbagai media pemberitaan untuk tidak lagi menggunakan kata ISIS untuk menunjuk kelompok teroris tersebut, ia keberatan selain karena ISIS adalah terjemahan bahasa Inggris yang salah dari Al-Dawla Al-Islamiya fi al-Iraq wa al-Sham, kata ISIS adalah juga nama depannya.

This post was last modified on 16 Juni 2015 2:01 PM

Imam Malik

Adalah seorang akademisi dan aktifis untuk isu perdamaian dan dialog antara iman. ia mulai aktif melakukan kampanye perdamaian sejak tahun 2003, ketika ia masih menjadi mahasiswa di Center for Religious and Sross-cultural Studies, UGM. Ia juga pernah menjadi koordinator untuk south east Asia Youth Coordination di Thailand pada 2006 untuk isu new media and youth. ia sempat pula menjadi manajer untuk program perdamaian dan tekhnologi di Wahid Institute, Jakarta. saat ini ia adalah direktur untuk center for religious studies and nationalism di Surya University. ia melakukan penelitian dan kerjasama untuk menangkal terorisme bersama dengan BNPT.

Recent Posts

Di Tengah Gencar Ketahanan Pangan dan Energi, Jangan Lupakan Ketahanan Ideologi dan Literasi

Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…

1 minggu ago

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

1 bulan ago

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai…

2 bulan ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

3 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 bulan ago