Narasi

Jangan Benturkan Pancasila dengan Al-Qur’an!

Sekarang banyak ormas, kelompok dan perorangan yang mengiring opini anti Pancasila. Ormas HTI dulu pernah terang-terangan mau mendirikan khilafah Islamiyah di Indonesia. Sekarang ormas FPI selalu mengaungkan NKRI bersyariah. Tujuan ormas ini adalah ingin menjadikan Indonesia negara Islam. Untuk mewujudkan itu semua, maka dilakukan pengiringan opini anti Pancasila di tengah masyarakat. Hal ini membahayakan Indonesia!.

Masyarakat harus tahu model-model pengiringan opini anti Pancasila dan anti Indonesia. Misalnya mereka pakai kalimat-kalimat logika sederhana. Contohnya; Bagus mana Pancasila dengan Al-Qur’an? Bagus mana negara Islam apa negara kafir? Dua kalimat pengiringan opini pasti akan mudah mempengaruhi seseorang untuk anti Pancasila dan anti Indonesia.

Kalau pilihannya bagus mana Pancasila dan Al-Qur’an? Tentu masyarakat jawabannya bagus Al-Qur’an. Inilah wujud pembenturan Al-Qur’an dan Pancasila. Padahal Pancasila sendiri juga mengandung unsur nilai Al-Qur’an. Al-Qur’an itu dari Allah lalu diturunkan kepada Nabi Muhammad lewat Malaikat Jibril, tentu tidak diragukan lagi keistimewaan dan kemuliaanya. Pancasila sebenarnya juga dari Allah, penyusun Pancasila mengambil unsur nilai dari Al-Qur’an itu berkat rahmat Allah. Sebab manusia tidak bisa berpikir apa-apa kecuali kehendak Allah.

Pancasila dan UUD 1945 menjadi dasar negara Indonesia itu kehendak Allah. Kita jangan mudah dibentur-benturkan antara Pancasila dan Al-Qur’an. Kalau kita anti Pancasila bearti kita juga anti nilai-nilai Al-Qur’an. Maukah kalian anti Al-Qur’an? Tentu sebagai Muslim tidak mau. Berpikirlah kritis tetapi juga harus tuntas secara pengetahuan keilmuan. Lima sila itu kalau kita runut nilainya termuat dalam Al-Qur’an, ini buktinya!.

Sila Pertama: ‘Ketuhanan yang maha Esa’ itu diambil dari inti sari surat Al-Ikhlas. Arti surat Al-Ikhlas ayat 1-4 yaitu; “1. Katakanlah; ‘Dia-lah Allah, yang Maha Esa, 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia’.” Konsep ketuhanan dalam Pancasila sudah jelas bahwa diambil dari surat Al-Ikhlas.

Sila Kedua: ‘Kemanusiaan yang adil dan beradab’ diambil dari inti sari Surat An-Nisa ayat 135. Terjemahan ayat ini yaitu; “Wahai orang-orang yang beriman. Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu-bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Maha Teliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan”.

Sila Ketiga: ‘Persatuan Indonesia’ diambil dari Al-Qur’an surat Al-Hujarat ayat 13. Terjemahanya yaitu: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Dasar inilah para pendiri menjadikan Indonesia sebagai negara bangsa, bukan negara Islam. Apakah masih ragu dengan konsep kenegaraan Indonesia?.

Sila Keempat: ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan’ sila ini diambil dari nilai Al-Qur’an surat As-Syuro ayat 38. Terjemahan ayat ini yaitu: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabb-Nya, dan mendirikan sholat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki, yang Kami berikan kepada mereka”. Jadi, konsep musyawarah untuk mufakat dalam negeri ini berdasarkan ayat ini.

Sila Kelima: ‘Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’ sila ini juga diambil dari Al-Qur’an. Sila Kelima ini bersumber dari nilai Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 90. Terjemahan ayat ini yaitu: “Sesungguhnya Allah menyuruh (manusia) berlaku adil dan berbuat kebaikan, memberi (sedekah) kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu (manusia), agar kamu dapat mengambil pelajaran”. Konsep keadilan sosial negara Indonesia juga merunut pada Al-Qur’an.

Jadi, Pancasila jelas bersumber dari Al-Qur’an, hanya saja narasinya tidak sama persis sama Al-Qur’an. Kalau masih ada yang anti Pancasila sejatinya meraka sebenarnya anti Al-Qur’an. Meraka yang anti Pancasila selalu mengaungkan: ‘Kembali ke Al-Qur’an dan Hadist’. Gaugannya ini hanya digunakan untuk mengiring opini anti Pancasila. Sejatinya Al-Qur’an itu perlu aplikasi dalam hidup. Al-Qur’an bukan sekedar dikampayekan saja.

Pancasila dibuat redaksinya sedemikian rupa demi tegaknya NKRI. NKRI ini negara kesepakatan. Sebab NKRI ini berpenghuni umat Allah yang berbangsa-bangsa, bersuku-suku sesuai kehendak Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hujarat ayat 13. Kita harus menerima dan mensyukuri kehendak Allah. Menjadi Muslim dan Indonesia tidak usah ragu dengan Pancasila. Pembenturan Al-Qur’an dan Pancasila itu trik musuh untuk menghancurkan Indonesia.

This post was last modified on 6 Desember 2019 2:50 PM

Voni Adita Ameliana

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago