Narasi

Jihad Perdamaian

Manusia pada dasarnya menginginkan perdamaian yang sesungguhnya, yakni perdamaian yang ada di dalam hati; surga. Dan Allah lah kedamaian itu, seperti halnya doa yang dilantunkan setiap muslim ketika selesai melaksanakan shalat.

اللهم أنت السلام ومنك السلام وإليك يعود السلام فحينا ربنا بالسلام وأدخلنا الجنة دارالسلام تباركت ربنا وتعاليت يا ذا الجلال و الإكرام.

Ya Allah, Engkau sumber keselamatan dan dari pada-Mulah datangnya keselamatan dan kepada-Mu kembalinya keselamatan. Maka hidupkanlah kami wahai Tuhan, dengan selamat sejahtera dan masukkanlah kami ke dalam surga negeri keselamatan. Maha banyak anugerah-Mu dan Maha Tinggi Engkau Wahai Tuhan yang memiliki keagungan dan kehormatan.

 

Kedamaian bersumber dari zat Allah itu sendiri, karenanya kedamaian pada manusia tidak datang dengan sendirinya. Kedamaian itu harus diperjuangkan, sebagaimana kedamaian di bumi yang harus diupayakan. Manusia mengupayakan terwujudnya kedamaian itu melalui jihad untuk menciptakan perdamaian itu. Inilah yang kalau boleh kita sebut sebagai Jihad Perdamaian.

Sebuah ungkapan Romawi Klasik mengatakan, “Bila engkau ingin hidup damai, bersiap-siaplah untuk berperang.” Ungkapan ini seolah-olah menggunakan peperangan sebagai acuan untuk mencapai perdamaian, padahal perang yang dimaksud adalah sebuah perjuangan yang sungguh-sungguh secara batin dilakukan demi memerangi hawa nafsu dan menghilangkan akhlak yang buruk.

Kedamaian memang harus diperjuangkan dengan jihad akbar, yaitu memperbaiki akhlak manusia.

Peperangan dalam diri manusia sungguh tidak mudah, karena ini menuntun kita untuk melatih diri agar disiplin waktu, konsisten dalam belajar dan bekerja untuk menghidupi keluarga. Termasuk pula peperangan batin dalam membangun rumah tangga yang sakinah, dan tentu saja pada gilirannya nanti harus ‘perang’ untuk mendidik anak-anak agar berbakti pada orang tua, agama dan negara.

Ini tidak mudah, namun harus dilakukan sebab peperangan ini dimaksudkan untuk mendamaikan diri dan istiqomah dalam membangun akhlak yang mulia. Tentang perjuangan membangun akhlak ini, Rasulullah pernah secara tegas mengatakan; “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan Akhlak manusia.”

Pada level yang lebih luas, membangun akhlak harus pula dilakukan dalam konteks masyarakat. Membangun akhlak yang baik di masyarakat adalah membangun juga rasa aman. Walau damai itu lebih luas artinya daripada sekedar kata ‘aman’. Naun yang pasti, dalam kondisi aman tidak ada kekerasan fisik; pada level ini manusia merasa aman melalui ketundukan pada kekuatan di luar diri. Sementara itu, damai menjadi keseimbangan, keselarasan dan keserasian hidup yang harmonis. Damai dalam kamus Oxford diartikan sebagai keadaan yang bebas dari peperangan dan kekerasan, suasananya tenang, dan penuh dengan keharmonisan dan persahabatan.

Menyeru pada perdamaian adalah sesuatu yang sangat mulia dan tinggi derajatnya di hadapan Allah. Menjadi penyeru perdamaian tidaklah mudah jika dibandingkan dengan provokator atau pengadu domba. Allah dalam Alquran menyebutkan.

فَلَا تَهِنُوا۟ وَتَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱلسَّلْمِ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ وَٱللَّهُ مَعَكُمْ وَلَن يَتِرَكُمْ أَعْمَٰلَكُمْ

“Jangan merasa lemah dan menyerulah kepada perdamaian (salam), karena kedudukanmu (yang menyeru damai) itu lebih tinggi. Allah beserta kamu. Dan Allah tidak menghilangkan amalanmu” (QS. 47: 35)

 

Ayat ini sangat jelas menyeru kepada perdamaian, yang mana hal itu disukai oleh Allah. Tuhan semesta Alam yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya ini juga berharap kaum muslim tidak lemah dalam mengajak kepada kebaikan dan perdamaian. Menyeru pada perdamaian memang tidak mudah, karena harus menjadi kuat; dibutuhkan energi ekstra untuk mengajak pada perdamaian.

Namun para duta perdamaian mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada penyeru peperangan. Dan dengan iradah Allah, para penyeru perdamaian akan sedikit demi sedikit diangkat derajatnya menjadi tinggi dan lebih baik.

Menyeru pada perdamaian dengan sungguh-sungguh adalah jihad. Karena jihad bukan hanya perang fisik, tapi perang batin, revolusi mental, jihad akbar untuk memperbaiki akhlak manusia. Jihad menuju perdamaian ini harus dilakukan baik di dalam golongan sendiri (umat Islam), maupun antar agama yang ada di Indonesia, dan bahkan dunia.

Masyarakat Indonesia harus bisa saling menasehati dan menyeru pada perdamaian agar tidak ada lagi kekerasan dan peristiwa-peristiwa buruk yang akan melukai sejarah bangsa. Muslim Indonesia bisa menjadi juru damai, penyeru perdamaian, pengamal Islam moderat yang mengajak warga negara untuk melangkah bersama membangun bangsa dan negara yang aman dan damai.

Islam Indonesia berpegang pada tradisi nusantara yang baik. Perjuangan memang tidak mudah, dan perjuangan untuk mengawal perdamaian di bumi pertiwi juga harus kuat dan keras. Karenanya semangat jihad dalam perdamaian patut digaungkan. Semoga semangat jihad untuk perdamaian ini akan membawa bangsa Indonesia terhindar dari perang saudara, peperangan dengan negara-negara sahabat, dan musibah-musibah akibat ulah tangan manusia. Mari kita bersungguh-sungguh menyeru pada perdamian.

This post was last modified on 2 Juni 2016 1:27 PM

Abdullah Sajad

Alumni Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan pemimpin Redaksi Pusat Studi Pesantren (PSP) Suarapesantren.net

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

8 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

2 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

2 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 minggu ago