Categories: Keagamaan

Karena Jihad Tidak Boleh Jahat

Secara bahasa, kata “jihad” merupakan serapan dari bahasa Arab juhd atau jahd, keduanya memiliki arti berbeda, yakni kemampuan dan letih. Meski demikian ada pula yang berpendapat bahwa keduanya adalah sama; sama-sama merujuk pada makna kemampuan dan bersunggung-sungguh. Karenanya makna terbaik untuk frasa Jihad fil sabilillah adalah berusaha secara sungguh-sungguh untuk mengerahkan segala kemampuan agar tetap berada di jalan Allah.

Seharusnya pengertian ini sudah cukup untuk menjelaskan bahwa Jihad berarti tetap berpegang teguh pada ketentuan Allah yang menghendaki agar manusia dapat saling belajar dan saling melengkapi. Namun kenyataannya, ada saja kalangan yang mungkin menganggap agama ini kurang ‘seru’ jika tidak ada adegan perang-perangannya, karenanya istilah jihad kemudian diartikan dalam banyak rupa.

Tafsiran yang paling sering digunakan untuk memelintir makna jihad adalah dengan menyamakan Jihad dengan qital (perang). Ayat yang paling sering digunakan untuk membenarkan anggapan bahwa jihad adalah perang yakni ayat tentang jihad melawan orang kafir dan orang munafik, seperti yang terdapat pada QS 9:73 dan 66:9. Sebagian ulama memang menafsirkan makna jihad dalam ayat tersebut mengacu pada perang fisik, namun perlu juga untuk diperhatikan bahwa perintah untuk melakukan perang ini lantaran serangan bertubi-tubi yang dilakukan oleh orang musyrik Mekah dan Yahudi Madinah.

Terkait dengan hal di atas, Jawdat Said menegaskan bahwa jihad dengan mengerahkan perang fisik seperti di atas dimaksudkan hanya untuk melawan kezaliman, bukan untuk menyebarkan ajaran Islam. Pendapat ini diperkuat dengan fakta bahwa usai perang Badar, Rasul buru-buru mengingatkan kaum muslimin bahwa perang fisik hanyalah bagian dari jihad yang kecil (al-jihadul al-asghar). Sementara jihad besar atau yang utama adalah jihad melawan hawa nafsu. Rasul bersabda, “Kami pulang dari Jihad kecil menuju Jihad besar,” yakni jihad melawan nafsu (jihad al-nafs).

Said kemudian menambahkan bahwa jihad kecil –yang menggunakan perang fisik—bersifat temporal, spasial, dan sementara alias tidak permanen. Jihad yang permanen adalah jihad besar, yakni berupaya untuk mengalahkan hawa nafsu. Karenanya pemaknaan terhadap jihad tidak boleh terus-terusan sempit, yakni dengan mengartikan jihad sebagai murni pengerahan kekuatan untuk berperang, karena jihad yang ‘begituan’ hanyalah bagian dari jihad yang kecil, yang sifatnya sementara dan spasial.

Karenanya jihad tidak boleh jahat, sederhananya; jihad adalah perintah agama, sementara jahat adalah musuh agama. Keduanya tidak bisa ditumpang-tindihkan.

Kasus teror di Thamrin beberapa waktu yang lalu merupakan salah satu ‘pelanggaran’ terhadap pemaknaan jihad, karena sekali lagi, jihad tidak boleh dilakukan dengan cara-cara dan tujuan jahat. Sekalipun simbol agama yang digunakan, namun jika tujuannya untuk menyengsarakan, tentu hal itu tidak dapat dibenarkan.

Khoirul Anam

Alumni Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS), UGM Yogyakarta. Pernah nyantri di Ponpes Salafiyah Syafiyah, Sukorejo, Situbondo, Jatim dan Ponpes al Asyariah, kalibeber, Wonosobo, Jateng. Aktif menulis untuk tema perdamaian, deradikalisasi, dan agama. Tinggal di @anam_tujuh

Recent Posts

Mengenali Tanda Awal Paparan Ekstremisme Digital: Keluarga Wajib Hadir!

Seorang anak yang biasanya terbuka tiba-tiba enggan bercerita. Ia semakin tertutup tentang teman-teman daringnya, sering…

8 jam ago

Parental Gaming: Revolusi Pengasuhan di Tengah Ancaman Radikalisasi Gim Daring

Sebagai ibu dari seorang putri berusia 10 tahun, saya kerap tergagap-gagap mengikuti perkembangannya. Misalnya, ketika…

8 jam ago

Belajar dari Anak yang Terpapar

Pukul sebelas malam, lampu kamar anak masih menyala. Orang tuanya mengira ia sedang mengerjakan tugas.…

8 jam ago

Jangan Hanya Awasi Layarnya, Mari Lindungi Anak dari Grooming dan Radikalisasi Online

Anak-anak hari ini tumbuh di dunia yang berbeda dari dunia yang dikenal orang tua mereka.…

1 hari ago

Anatomi Digital Grooming: Kenali Enam Langkah Rekrutmen Ekstremis di Gim Daring

Bagi sebagian besar orang tua, pemandangan anak sedang bermain gim daring barangkali tidak asing. Bermain…

1 hari ago

Dari Teman Mabar ke Ruang Ekstremisme: Modus Digital Grooming dalam Perekrutan Anak

Bayangkan seorang anak yang sedang bermain gim daring. Ia bertemu pemain lain yang ramah, sering…

1 hari ago