Categories: Editorial

Teori Konspirasi Bom Thamrin: Sebuah Gerakan Situs Radikal

Beberapa hari paska serangan teroris di Jakarta, sejumlah media atau situs radikal memuat berbagai analisa soal peristiwa itu. Yang paling menonjol adalah utak-atik-gatuk soal tuduhan adanya konspirasi dalam kejadian itu. Memang bukan hanya media atau situs radikal saja yang memuat analisa itu, media nasional mainstream pun melakukan hal sama.

Hanya bedanya, media nasional mainstream melakukan cover both sides dengan menurunkan artikel secara utuh sejak peristiwa terjadi dan bantahan pihak aparat keamanan terkait tudingan rekayasa, sementara media dan situs radikal tidak. Kalau tidak percaya, anda boleh cek di situs-situs radikal bahwa mereka tidak memberitakan dengan cepat peristiwa teror tersebut dan terkesan cuek dengan aksi teror. Tapi lucunya, ketika lepas beberapa hari lha kok tiba-tiba mereka menganalisa kejanggalan peristiwa itu. Itu pasti ada muatan tertentu!

Dalam dunia jurnalistik, tindakan yang dilakukan oleh situs radikal tersebut adalah dosa besar. Misalnya, saat terjadi peristiwa perampokan anda tidak memuat kejadian berapa korban ataupun apa saja yang yang dirampok. Namun saat penangkapan anda justru meliputnya bahkan memberi analisa pembelaan atas si perampok. Maka pada saat itu anda patut dicurigai sebagai kawan perampok jika anda malah membela atau seakan menuding ada rekayasa. Jikapun anda tidak melakukan pembelaan, tetap saja muncul pertanyaan jangan-jangan anda baru meliput sekarang karena si perampok adalah musuh anda atau atas pesanan siapa anda memberitakan?! Ini logika sederhana yang dikenal dalam dunia jurnalilstik.

Nah, bagi situs dan media radikal yang tiba-tiba tanpa kesimbangan informasi, ujug-ujug sok tahu dan menganalisa peristiwa aksi teror kaum thogut (pengikut setan) di Thamrin itulah yang patut dicurigai. Konspirasi apa yang sedang dimainkan kaum radikal pengikut setan itu. Jangan-jangan mereka sedang ingin membela antek-antek lapangannya yang sedang ber-amaliyah membunuh warga sipil? Bisa jadi!!!

Atau bisa saja pembelaan terhadap teroris dengan menyebut ada rekayasa dan konspirasi dari aparat keamanan hanyalah upaya mendeskreditkan dan mendelegitimasi peran negara dalam melindungi warganya. Menjatuhkan marwah negara dilakukan untuk kemudian dicecoki dengan ideologi radikal yang mereka usung. Na’udzu billah min dzalik!!! Semoga bangsa ini diselamatkan dari fitnah kelompok radikal.

Saya sendiri juga merasa aneh kepada radikal ini. Di saat darah para korban belum kering mereka yang selalu memamerkan slogan agama justru bicara ngawur. Kaum radikal seakan sedang menabur garam di luka yang terkoak berdarah-darah itu. Padahal, mayoritas bangsa Indonesia yang masih memiliki kewarasan nurani dan akal mencoba menghibur para korban dan masyarakat luas denngan berbagai gerakan sosial seperti gerakan #kamitidaktakut.

Istilah kami tidak takut bukan jargon tanpa makna. Ini adalah jargon bersama bangsa yang ingin menyatakan bebas dari tipu daya setan terkutuk berupa teroris dan radikal. Dengan jargon itu pula, bangsa ini ingin memberi pesan bahwa ideologi radikal berupa kekerasan yang digembar-gemborkan itu tidak akan diikuti dan tidak sejalan dengan nurani bangsa yang waras.

Secara teknis, memang apa yang salah dengan kehadiran cepat aparat keamanan di lokasi kejadian? Bukankah wilayah itu memang ring 1 pengamanan di negara ini? Itu artinya, sehari-hari memang aparat keamanan bertebaran di sana, meski tidak memakai seragam. Kalau anda tidak percaya, coba saja anda berdemostrasi di Bundaran HI tanpa izin. Tak berselang lama –paling semenit dua menit- akan ada aparat yang menghampiri anda. Kalau anda buat rusuh di sana aparat dari polda yang jaraknya hanya sekitar 5 Kilometer pasti akan datang kurang dari 10 menit. Masih gak percaya coba saja..

Ini kan logika yang sangat aneh sekali, aparat terlambat datang dibilang tidak profesional dan amatiran. Aparat bertindak gesit dengan mengerahkan kekuatan penuh dianggap konspirasi. Lebih nista lagi, kok bisa-bisanya aparat keamanan negara yang justru dituding dibalik layar permainan berdarah ini. Sekali lagi maksudnya apa? Ingin mendelegitimasi negara dan mengganti dengan ideologi radikal?! Atau ingin menghancurkan soliditas masyarakat Indonesia yang menolak ideologi radikal dan teroris?! Kalau itu memang yang kalian inginkan, maaf anda sedang mimpi di siang hari robek!

This post was last modified on 21 Januari 2016 2:14 PM

PMD

Admin situs ini adalah para reporter internal yang tergabung di dalam Pusat Media Damai BNPT (PMD). Seluruh artikel yang terdapat di situs ini dikelola dan dikembangkan oleh PMD.

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

2 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago