Narasi

Kemerdekaan dan Perayaan Kebhinnekaan

Ada yang unik dalam perayaan upacara peringatan kemerdekaan ke-72 RI di Istana Negara beberapa hari kemarin. Jika biasanya Presiden RI dan tamu undangan menggunakan pakaian formal berupa setelan jas, tetapi kali ini mereka menggunakan pakaian adat yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Presiden Jokowi terlihat menggunakan busana adat Banjar dan pasangannya memakai busana adat Minang. Menteri Hukum dan HAM, Yasona Laoly, mengenakan pakaian adat Nias, Ketua DPD RI –Oesman Sapta Odang-mengenakan pakaian adat Minang, istri Kapolri mengenakan pakaian adat Papua, dsb. Mengutip kompas.com, pesan yang ingin disampaikan oleh Presiden RI dari peristiwa tersebut bahwa Indonesia adalah masyarakat yang majemuk dan juga beragam. Termasuk suku dan agama daerah. Sehari sebelumnya, Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla juga menggunakan pakaian adat saat menyampaikan pidato kenegaraan dalam sidang tahunan MPR RI.

Penegasan keberagaman ini adalah hal yang patut untuk diapresiasi. Bahkan perlu untuk terus-menerus ditanamkan dalam dada seluruh rakyat Indonesia. Sehingga bisa menumbuhkan insan Indonesia yang menghargai pluralitas dan bisa hidup berdampingan. Sebab realitas Indonesia sebagai negara yang sangat majemuk tidak bisa disangsikan lagi. Dari ujung barat hingga ujung timur, berserakan identitas yang sangat beragam. Begitu pun dari ujung utara hingga selatan, serpihan-serpihan mutiara keberagaman terpancar dengan sangat indah. Maka sangat naif jika kemajemukan tersebut dinegasikan bahkan dicoba untuk dihilangkan.

Seperti pada contoh pakaian adat di atas. Pakaian adat Aceh sangat berbeda dengan pakaian adat Papua. Yang satu tertutup, sementara satunya lagi terbuka. Begitu juga pakaian adat Minang yang berwarna cerah, berbeda dengan pakaian adat Jawa yang cenderung gelap. Tidak bisa kita menganggap pakaian adat satu daerah lebih baik atau lebih berkualitas dibanding pakaian adat lainnya. Maka perlu dikembangkan sikap toleransi untuk menerima perbedaan. Pakaian adat hanyalah contoh perbedaan yang berhubungan dengan aspek visual dan bersifat fisik. Selain itu, ada lebih banyak perbedaan yang tidak berwujud. Seperti pandangan hidup, kepercayaan, agama, dsb. Sehingga kita perlu lebih banyak membuka diri atas perbedaan.

Ironisnya, masih banyak anak-anak bangsa ini yang abai dengan urgensi keberagaman. Hidupnya sekedar disibukan untuk kepentingan diri sendiri atau kelompoknya. Bahkan sering timbul upaya untuk memaksakan nilai-nilai yang dianggapnya benar kepada pihak lain. Padahal apa yang dipandang sebagai kebenaran boleh jadi merupakan kesalahan. Sebaliknya, apa yang dianggap sebagai suatu kesalahan belum tentu hakekatnya salah. Sebab setiap manusia memiliki persepsi yang berbeda. Nah, jangan sampai memaksakan persepsi satu kelompok kepada kelompok lainnya. Sebab bisa menimbulkan benturan. Untuk mengatasinya, perlu dilakukan dialog sekaligus meredam ego masing-masing pihak. Sehingga tercipta keseimbangan yang saling menguntungkan.

Maka momentum perayaan kemerdekaan RI harus menjadi batu loncatan untuk menggelorakan persatuan. Dengan persatuan, maka cita-cita bangsa ini akan mudah untuk dicapai. Soekarno pernah menyampaikan bahwa kemerdekaan, polietieke onafhankelijkheid, political independence, adalah satu jembatan emas yang di seberangnya terdapat masyarakat yang akan disempurnakan. Ungkapan Soekarno ini memberi makna masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dilakukan untuk menjadikan masyarakat hidup adil dan makmur. Dan itu menjadi tanggung jawab kita bersama.

Maka, mari kita mulai menatap masa depan Indonesia yang damai dan sentosa. Tidak perlu lagi saling serang dan saling tikam antar sesama anak Ibu Pertiwi. Bersama-sama mengubur masa lalu yang kelam dan menjaga negara ini tetap padu. Kita bisa belajar banyak dari Umar Patek alias Hisyam bin Alizein. Gembong peristiwa Bom Bali I tersebut kini telah menunjukan komitmennya untuk menjaga NKRI. Seperti diinformasikan melalui siaran pers BNPT, Umar Patek menjadi petugas pengibar bendera pada upacara kemerdekaan yang digelar Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Surabaya di Porong, Sidoarjo. Peristiwa ini, selain menunjukan kesuksesan upaya deradikalisasi, juga memberi pesan siapapun bisa berubah dan berkontribusi untuk negara ini. Jika komitmen seperti ini telah mengalir dalam darah setiap warga negara Indonesia, niscaya kita akan terus melesat menjadi bangsa yang besar dan bermartabat.

Rachmanto M.A

Penulis menyelesaikan studi master di Center for Religious and Cross-cultural Studies, Sekolah Pascasarjana UGM. Jenjang S1 pada Fakultas Filsafat UGM. Bekerja sebagai peneliti.

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

19 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago