Narasi

Kritik dan Kadar Literasi yang Rendah

Aktivitas mengkritik, pada hakikatnya tidak lepas dari kadar kemampuan seseorang di dalam berbahasa (berkomunikasi). Tertuang dalam aktivitas menyimak, menganalisis dan berkomentar. Kadar kemampuan ini saya sebut sebagai (rendah-tingginya) kadar literasi seseorang. Bagaimana seseorang akan mampu berbahasa yang baik, etis, objektif, reflektif, idealis dan konstruktif di dalam berkomentar. Itu juga bisa dipengaruhi oleh tingkat literasi yang dia miliki.

Karena kritikan tidak terlepas dari bahasa yang dia sampaikan. Analisis yang dia gunakan. Tipe komunikasi yang dia pakai. Pengamatan yang dia lakukan. Serta pertimbangan bahasa dan ide yang ingin diungkapkan pada saat melakukan kritikan. Semuanya terangkum dalam (kadar literasi) yang dimiliki dan menjadi barometer seseorang di dalam melakukan sebuah kritikan.

 Seperti halnya kemampuan berbahasa yang secara afektif, hanya  sekadar “berasumsi” menduga tanpa dasar metodologi yang kuat, hiperbolis,  memfitnah dan membenci secara personal, niscaya itu juga dipengaruhi oleh kadar literasi yang dimilikinya. Karena kadar literasi rendah, menutup keterbukaan pikiran untuk melihat sesuatu secara luas, reflektif dan konstruktif. Dia seperti melihat sesuatu dengan “kaca mata kuda”.

Tentu, kritikan dengan kadar literasi yang tinggi, niscaya dia tidak hanya sekadar berasumsi, memfitnah, memberi penilaian “baik dan buruk” apalagi membenci secara fisik atau mencaci secara personal. Dia akan mencari terlebih dahulu kebenaran-kebenaran suatu persoalan. Mencari titik kelemahan sekaligus mencari titik penyelesaian.

Karena, seseorang dengan kadar literasi yang tinggi, dia menggunakan kesadaran yang konstruktif, idealistic, mengemukakan pendapat dan kritikan yang tidak hanya hiperbolis atau hanya meninggikan satu pihak “politik argumentatif”. Pun juga tidak akan memberikan penilaian yang tidak “jujur secara ilmiah” atau tidak objektif secara kebenarannya. Karena orang tersebut akan berbicara terhadap sesuatu yang dia hanya ketahui dan pahami. Selepas itu, dia akan mencari, menyimak dan menguatkan kesadaran-kesadaran reflektif-nya untuk berkomentar ala-kadarnya agar tidak merugikan atau menyebabkan masalah.

Sedangkan kritikan dengan kadar literasi yang rendah, dia lebih condong eksklusif, mudah memberikan kesimpulan dan bahkan menyerang secara fisik. Dia tidak menyadari. Walau-pun dia sebetulnya tidak tahu apa-pun. Maka langkah paling mudah dia bisa lakukan adalah membuat komentar atau kritikan yang membenci.

Karena kemampuan di dalam melihat realitas, mereka hanya bisa pada taraf yang semacam itu. Dia akan mengemukakan kritikan atau komentar yang kadang tidak dipertimbangkan dengan baik. Serta akan melihat dengan “kaca-mata kuda” terhadap sesuatu. Bagaimana kesadaran subjektif dan tanpa melihat sisi kanan-kiri-belakang. Lalu fokus apa yang ada di hadapan mata dan mudah memberikan penilaian.

Kadar literasi yang rendah, kerap kali di dalam berkomentar atau melakukan aktivitas kritikan sifatnya sekadar jadi (pengikut). Artinya, dia tidak memiliki “kebebasan personal” dan “idealisme” dalam dirinya untuk berkomentar berdasarkan pemikiran dan pemahaman dirinya. Karena orang yang literasi-nya rendah, akan selalu menjadi pengikut. Di mana komentar paling banyak berpijak, di situ kebenaran akan diamininya.

Seperti halnya yang lumrah terjadi di ruang media sosial kita. Bagaimana arus komentar, kritikan dan bahkan argumentasi mengenai Presiden Joko Widodo yang menghimbau agar masyarakat aktif mengkritik pemerintah. Di sini, orang yang kadar literasinya rendah, akan mengikuti arus perkembangan komentar yang paling banyak (tidak teguh pendirian). Jika komentar atau kritikan terhadap presiden itu negatif, buruk sangka, menghasut atau mencaci secara personal. Niscaya orang yang tingkat literasi rendah juga akan berkomentar atau membuat kritikan yang sama.

Jadi dapat kita pahami bahwasanya kadar literasi itu sangat memengaruhi seseorang di dalam mengkritik atau berkomentar. Karena literasi yang tinggi, juga akan membangun ruang kemerdekaan secara idealisme berpikir untuk mengkritik. Akan lebih tampak objektif, konstruktif dan reflektif. Orang dengan tingkat literasi yang tinggi, tidak akan membangun wacana atau membuat dugaan-dugaan yang non-ilmiah. Karena dia akan paham, bahwa cara-cara yang semacam itu akan membawa dampak buruk.

This post was last modified on 19 Februari 2021 1:34 PM

Fathur Rohman

Photographer dan Wartawan di Arena UIN-SUKA Yogyakarta

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

8 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

2 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

2 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 minggu ago