Narasi

Makna Jumat Agung dan Relevansinya dalam Mengakhiri Penjajahan di Palestina

Jumat Agung, yang diperingati oleh umat Kristiani sebagai hari wafatnya Yesus Kristus di kayu salib, bukan sekadar momentum keagamaan yang sarat ritual dan simbolisme. Lebih dari itu, Jumat Agung mengandung nilai-nilai mendalam tentang penderitaan, pengorbanan, keadilan, dan harapan akan kebangkitan dari penindasan yang menimpa umat manusia.

 

Di tengah dunia yang masih diliputi ketidakadilan dan penjajahan, seperti yang dialami oleh rakyat Palestina, makna Jumat Agung menjadi sangat relevan. Penderitaan Yesus yang tak bersalah di tangan kekuasaan yang menindas mencerminkan penderitaan rakyat Palestina yang selama puluhan tahun hidup di bawah bayang-bayang kekerasan dan pengusiran.

 

Maka dari itu, memperingati Jumat Agung tidak hanya berarti mengenang kisah spiritual masa lalu, tetapi juga harus menjadi panggilan moral bagi seluruh umat manusia, khususnya komunitas global yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan untuk berdiri bersama Palestina dan mendesak diakhirinya segala bentuk penjajahan.

 

Yesus Kristus, dalam narasi Injil, adalah simbol dari mereka yang tertindas namun tetap memilih jalan kasih dan pengampunan. Ia menjadi lambang dari suara-suara yang dibungkam oleh kekuasaan yang korup, dari rakyat jelata yang dipinggirkan oleh sistem yang tak adil, dan dari mereka yang tetap teguh dalam iman meskipun dikhianati oleh kekuasaan politik.

 

Dalam konteks modern, rakyat Palestina adalah perpanjangan dari penderitaan itu. Mereka hidup dalam situasi yang mengabaikan hak asasi manusia, mengalami perampasan tanah, pembatasan gerak, pemisahan keluarga, dan bombardir tanpa ampun, yang seringkali berlangsung secara keji namun luput dari perhatian masyarakat internasional.

 

Relevansi Jumat Agung terletak pada panggilan untuk tidak tinggal diam terhadap ketidakadilan, sebagaimana Yesus tidak menyerah pada ketakutan meskipun mengetahui bahwa ia akan disalibkan. Ia tetap bersuara, tetap mencintai, dan tetap berpegang teguh pada kebenaran meskipun kebenaran itu harus dibayar mahal dengan penderitaan menyakitkan.

 

Jika Yesus wafat di kayu salib untuk menebus dosa dan membawa pengharapan akan kehidupan yang baru, maka semangat itu seharusnya menginspirasi manusia zaman ini untuk ikut memperjuangkan kebebasan bagi mereka yang masih disalib oleh kekuasaan yang menindas. Rakyat Palestina hari ini berada di bawah “salib” modern berupa tembok pemisah, pos pemeriksaan militer, embargo ekonomi, dan kamp pengungsian yang mengerikan.

 

Bagi umat Kristiani, Jumat Agung adalah ajakan untuk merenung dan bertindak. Merenungi bagaimana kekuasaan bisa begitu kejam terhadap yang tak bersalah, dan bertindak untuk tidak mengulangi kesalahan itu di zaman ini. Diam terhadap penjajahan berarti turut mengukuhkan sistem ketidakadilan yang pernah menyalibkan Kristus. Ini bukan hanya tentang Palestina semata, melainkan tentang seluruh umat manusia yang sedang diuji: apakah kita masih punya empati? Apakah kita masih peduli terhadap luka yang dialami saudara kita?

 

Jumat Agung seharusnya menjadi pemantik bagi umat Kristen dan non-Kristen di seluruh dunia untuk memperkuat solidaritas global terhadap Palestina. Ketika Yesus berkata, “Apa yang kamu lakukan terhadap sesamamu yang paling hina, kamu telah melakukannya untuk-Ku,” maka jelas bahwa setiap tindak kasih, setiap suara yang menentang kezaliman, dan setiap dukungan terhadap kemerdekaan Palestina adalah bentuk penghormatan terhadap ajaran Kristus sendiri. Ini adalah bentuk iman yang aktif, bukan hanya ritual yang pasif.

 

Jumat Agung bukan hanya hari berkabung, tetapi juga hari pengharapan. Di balik darah dan luka, ada kemenangan cinta atas kebencian, keadilan atas tirani, dan kehidupan atas kematian. Dalam semangat itu, dunia harus terus menggaungkan bahwa tidak akan pernah ada kedamaian sejati selama penjajahan masih ada. Palestina bukan sekadar isu politik, tapi luka kemanusiaan yang menuntut penyembuhan dari oleh kita semua sebagai sesama.

 

Dan seperti salib yang pernah menjadi simbol kematian namun kini menjadi tanda kasih dan kemenangan, perjuangan rakyat Palestina pun suatu hari akan berbuah kebebasan yang menjadi saksi bahwa penderitaan tidak pernah sia-sia ketika diperjuangkan dengan harapan. Jumat Agung mengajarkan kita bahwa dari penderitaan yang terdalam, bisa tumbuh kehidupan yang penuh makna—dan itulah yang dunia harapkan dari kita untuk rakyat Palestina.

susi rukmini

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

12 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

2 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago