Narasi

Mendidik Anak Cinta Damai

“Fokus pengembangan aspek agama dan moral adalah pada pembentukan perilaku yang mulia dan bermoral tinggi yang dapat dilakukan melalui penanaman nilai-nilai yang berkaitan dengan keimanan, rasa kemanusiaan, hidup bermasyarakat dan bernegara”.

(Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Taman Kanak-Kanak, 2011: 29)

 

HUT RI ke 73 tahun 2018 merupakan HUT yang istimewa bagi seluruh masyarakat Indonesia, karena pada tahun ini Indonesia menjadi tuan rumah contest akbar Asian Games 2018. Melalui ajang ini, Indonesia dapat menegaskan kembali bahwa falsafah negara Indonesia mengajarkan kepada setiap masyarakat untuk menjadi yang kaya hati, memiliki tata karma, cinta damai, menolak kekerasan, dan menghargai sesama manusia.

Perayaan HUT RI dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia dengan penuh suka cita, dari mulai Sabang sampau Marauke. Hal yang lumrah dilakukan oleh setiap komunitas masyarakat ialah parade, contest, dan ceremony. Dalam setiap parade atau pawai, biasanya para pesertanya membawa drumband atau hasil kreativitasnya sendiri yang berupa masjid, kubah, ka’bah, patung presiden, dan para pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan. Namun di tahun 2018 ini, ada fakta berbeda yang mengejutkan dan cenderung kontroversial. Anak-anak TK yang ikut serta dalam pawai di Probolinggo diberi seragam berwarna hitam lengkap dengan cadarnya, kemudian diberi aksesoris senjata replika.

Bukan hanya bangsa Indonesia yang terperangah dengan hal ini, namun media asing juga ikut kaget, sehingga nimbrung memberitakan dengan memberi judul “Kindergarten in Indonesia Dresses Children in ISIS-Style Outfits for Parade, Sparks Backlash”. Di paragrap kedua dalam artikel tersebut mengisyaratkan bahwa style pakaian demikian sudah dianggap sebagai seragam ISIS yang mempromosikan kekerasan. Kemudian media lain memberi berjudul “Indonesia: Kindergarten Dresses Children as Armed Jihadis for Parade”, yang di dalamnya tidak jauh beda dengan artikel pertama, namun di artikel ini secara tegas mengatakan bahwa pawai itu memperagakan jihadis anak-anak dengan senjata.

Mindset dunia mengenai seragam demikian dan sejata laras panjang memang selalu curiga kalau hal tersebut memiliki relasi dengan kelompok jihadis. Jadi dampak yang didapatkan Indonesia dari media asing ialah tidak lain pemberitaan yang memojokkan Indonesia.

Parade tersebut secara mindset sangat membahayakan para anak, karena mereka bisa menganggap bahwa perjuangan agama bisa dilaksanakan dengan cara mengangkat senjata alias dengan kekerasan. Tanpa disadari, hal demikian bisa membentuk mindset anak-anak, karena gurunya menginstruksikan demikian. Guru bagi anak-anak seperti orang tua sendiri yang instruksinya harus dituruti dan tentu dianggapnya baik.

Oleh karena itu, alangkah baiknya setiap acara yang berkaitan dengan pendidikan anak usia dini perlu dimusyawarahkan dengan pihak-pihak yang memiliki pengalaman lebih banyak.

Rekonstruksi Mindset Anak-Anak

Pasca pawai tersebut, guru sebaiknya cepat-cepat untuk merekonstruksi mindset anak anak. Guru perlu menginstal ulang software cinta damai kepada anak-anak untuk bisa mengembalikan mindsetnya seperti awal. Guru perlu bekerja keras membuat program-program untuk lebih memahamnkan para peserta didik mengenai perjuangan dengan jalan damai yang diajarkan oleh rasulullah dan para pahlawan Indonesia.

Jadi untuk merekonstruksi, guru perlu mengembangkan lagi dasar agama dan moral anak lebih lanjut. Guru perlu memperkuat program penanaman nilai-nilai yang berkaitan dengan keimanan, rasa kemanusiaan, hidup bermasyarakat dan bernegara. Anak-anak perlu dibiasakan untuk mengenal perjuangan rasulullah, para sahabat, para pahlawan Indonesia, dan orang tuanya yang selalu mengedepankan propaganda perdamaian sebagai kebutuhan bersama. Selain itu, anak usia dini juga perlu dimatangkan mengenai aspek kenegaraan, yang bisa diawali dengan pemahaman Pancasila dan kaitannya dengan Islam.

Dari kutipan juknis TK di awal tulisan ini, sebenarnya sudah ditegaskan bahwa awal kehidupan diinisiasi dari agama yaitu keimanan. Dari keimanan tersebut, peserta didik perlu dididik untuk memahamai nilai-nilai kemanusiaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan. Ketika nilai-nilai tersebut sudah menggantikan mindset yang ada, besar harapan peserta didik lebih mencintai agama, negara, dan setiap manusia, sehingga semakin besarlah cintanya terhadap perdamaian.

This post was last modified on 1 Oktober 2018 10:25 AM

Arief Rifkiawan Hamzah

Menyelesaikan pendidikan jenjang magister di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pernah nyantri di Ponpes Al-Hikmah 1 Benda, Sirampog, Brebes dan Ponpes Darul Falah Pare, Kediri. Saat ini ia sebagai Tutor di Universitas Terbuka.

Recent Posts

Masjid Rasa Kelenteng; Akulturasi Arsitektural Islam dan Tionghoa

Menarik untuk mengamati fenomena keberadaan masjid yang desain arsitekturnya mirip atau malah sama dengan kelenteng.…

2 bulan ago

Jatuh Bangun Konghucu Meraih Pengakuan

Hari Raya Imlek menjadi momentum untuk mendefinisikan kembali relasi harmonis antara umat Muslim dengan masyarakat…

2 bulan ago

Peran yang Tersisihkan : Kontribusi dan Peminggiran Etnis Tionghoa dalam Sejarah

Siapapun sepakat bahwa kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia tidak didominasi oleh satu kelompok berdasarkan…

2 bulan ago

Yang Diskriminatif adalah yang Jahiliyah

Islam melarang sikap diskriminasi, hal ini tercermin dalam firman Allah pada ayat ke-13 surat al-Hujurat:…

2 bulan ago

Memahami Makna QS. Al-Hujurat [49] 13, Menghilangkan Pola Pikir Sektarian dalam Kehidupan Berbangsa

Keberagaman merupakan salah satu realitas paling mendasar dalam kehidupan manusia. Allah SWT dengan tegas menyatakan…

2 bulan ago

Ketahanan Pangan dan Ketahanan Ideologi : Pilar Mereduksi Ekstremisme Kekerasan

Dalam visi Presiden Prabowo, ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas utama untuk mewujudkan kemandirian bangsa.…

2 bulan ago