Narasi

Meneladani Nabi: Sikapi Perbedaan Tanpa Kekerasan

Pernyataan Imam al-Khattabi beberapa abad silam terbukti ketepatannya, menurutnya perbedaan keyakinan merupakan hal yang berbahaya dan rentan terhadap konflik, terutama jika tidak disikapi secara dewasa dan arif bijaksana. Inilah yang terjadi di banyak daerah di negeri ini, kekerasan dan konflik yang disebabkan oleh perbedaan nyatanya belum ingin berhenti di negeri khatulistiwa ini.

Entahlah, apa sesungguhnya yang tengah dan bahkan terus terjadi pada bangsa ini. Kekerasan menjadi tren untuk menyikapi perbedaan. Jalan dialog seakan tiada lagi makna, padahal QS. al-Nahl: 125 memberi tiga langkah kreatif untuk menyeru pada jalan Allah SWT; melalui kebijaksanaan (bi al-hikmah), nasihat positif (al-mau’idhah al-hasanah) dan dialog elegan (jadilhum bi allati hiya ahsan).

Tidak ada anjuran, apalagi perintah, untuk melakukan kekerasan – lebih-lebih melalui jalan pembantaian keji – untuk menuju kebaikan. Dalam QS. al-Baqarah: 190 disebutkan, kekerasan hanya tepat ditimpakan pada pelaku kekerasan pula, dengan catatan wa la ta’tadu (tidak melampaui batasan). Kondisi ini biasanya terjadi dan dibenarkan dalam situasi peperangan dan tidak di luarnya.

Itulah kerahmatan Islam, dan itulah teladan Rasul. Lihat saja misalnya, bagaimana Muhammad SAW mereaksi Musailamah bin Habib al-Kadzdzab, pria keturunan Bani Hanifah di Yamamah, yang mendakwahkan dirinya sebagai nabi! Apakah beliau lantas membantainya secara beringas? Tidak.

Nyatanya, kemuliaan dan keagungan beliau tidak menghendaki kekerasan ditimpakan pada Musailamah maupun pengikutnya. Kepada seorang pengikut setianya beliau berkata: “Demi Allah, kalau tidak karena kerasulanku, sudah aku pukul dagumu.” (Tarikh al-Thabari, juz II, h. 199). Secara pribadi, sangat mungkin beliau marah dan geram. Namun sebagai rasul yang mengemban misi damai bagi alam, kemarahan dan kegeraman yang berpotensi kekerasan itu diredamnya. Geram tanpa memukul dan marah tanpa membantai. Inilah ajarannya yang adiluhung. Hatta kepada Fira’un yang nyata kekafirannya karena mengaku tuhan sekalipun, Musa dan Harun dititah bertutur kata dengan lemah lembut (Thaha: 43-44).

Kepada Musailamah sendiri, yang secara intelektual disokong mantan sahabat nabi Nahar al-Rajjal, Muhammad hanya berkirim surat. Isinya: “Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad Rasulullah untuk Musailamah al-Kadzdzab. Semoga keselamatan bagi orang yang mau menerima petunjuk Allah, amma ba’du. Bumi ini milik Allah yang diperuntukkan bagi hamba-Nya yang bertakwa.” Hanya itu, tanpa intimidasi, kekerasan, apalagi pembantaian secara keji. Inilah reaksi damai Nabi asli kepada nabi palsu.

Inilah yang diikuti para sahabatnya. Kendati geram dan marah, mereka tidak lantas main hakim sendiri atau membuat gerakan-gerakan di luar komando Muhammad. Ini berbeda dengan (sekelompok) umat Islam di negeri ini, yang gemar melangkah di luar jalur komando nabinya. Efeknya, tentu saja menegatifkan citra Islam sebagai agama damai dan rahmat semesta. Kita sendiri, yang akhirnya dirugikan.

Lantas, untuk merespon perbedaan yang ada, langkah apa yang sebaiknya dilakukan? Pertama, dialog dan musyawarah secara tuntas, dengan melibatkan semua elemen, tanpa kebencian dan prasangka negatif. Muhammad, adalah katsir al-musyawarah (orang yang banyak berdialog) atas persoalan apapun, termasuk dengan mereka yang menentangnya (Tafsir Jalalain, juz I, h. 64). Dari sinilah akan muncul kesepahaman dan kemufakatan, dengan penuh kedamaian.

Kedua, andaipun kita tidak sepakat dengan “sang liyan” atau “yang berbeda”, karena beberapa doktrinnya dinilai menyalahi mainstream, maka tunjukkanlah kekeliruannya dan sebarkan kepada masyarakat seluas-luasnya, tanpa unsur provokatif tentunya. Biarkan mereka menilai dan memilih mana yang harus diikuti. Inilah yang dinyatakan seorang sahabat Nabi, pamanda al-Ahnaf bin Qais, usai berdialog dengan Musailamah: “Dia tidak boleh diikuti penduduk. Dia lelaki pendusta yang munafik.” Ia hanya menghimbau umat untuk tidak menuruti keliruannya, tanpa mengiringinya dengan tindak kekerasan.

Ketiga, pandanglah mereka sebagai sesama keluarga Allah (‘iyal Allah) (Risalah al-Mu’awanah, h. 3), yang tidak boleh disakiti secara fisik dan psikologis. Dengan cara pandang ini, kita akan melihat mereka penuh kasih sayang. Jika kita menilai mereka salah, justru tugas kita lah untuk merangkul mereka dengan senyuman menuju kebenaran yang kita dakwahkan. Sebab, keramahan memunculkan simpati, sementara kekerasan melahirkan antipati. Inilah kekuatan sejati ajaran Islam.

Seumpama langkah-langkah ini tidak mempan, serahkan urusan dan akibatnya pada Allah SWT, lalu tinggalkanlah mereka secara teologis. Dan, tugas kita berdakwah telah selesai. Toh, Muhammad tidak lantas membantai Musailamah al-Kadzdzab karena keingkarannya, bukan? Wa Allah a’lam.

 

 

This post was last modified on 9 Mei 2016 11:03 AM

Nurul H Maarif

Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten dan Dosen di beberapa perguruan tinggi Banten

Recent Posts

Di Tengah Gencar Ketahanan Pangan dan Energi, Jangan Lupakan Ketahanan Ideologi dan Literasi

Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…

2 minggu ago

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

2 bulan ago

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai…

2 bulan ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

3 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 bulan ago