Setelah perhelatan muktamar dua ormas terbesar di Indonesia –NU dan Muhammadiyah– selesai dilaksanakan, kini masyarakat menanti buah nyata dari diskusi dan keputusan-keputusan besar yang dihasilkan selama muktamar digelar. Dua tema besar yang diangkat selama muktamar (Muhammadiyah dengan “Islam Berkemajuan” serta NU yang menjunjung tinggi Islam Nusantara) tentu tidak bisa dianggap sebagai isapan jempol belaka, karena keputusan untuk menggunakan tema di atas merupakan sebuah cerminan bahwa para pemuka agama memang tidak hanya berkutat pada urusan surga dan neraka saja, tetapi juga turut urun rembuk dalam urusan bangsa.
Saat ini negeri kita sedang bersiap menyambut datangnya hari peringatan kemerdekaan yang telah berhasil direbut oleh para pejuang sejak 70 tahun silam. Kemerdekaan tersebut tidak hanya berarti minggatnya para penjajah dari tanah air indonesia, lebih dari itu kemerdekaan ini adalah pancang awal bagi kebebasan dan kesejahteraan bangsa yang telah diperjuangkan sekian lama.
Dalam sejarahnya, ulama tercatat sebagai salah satu pilar bangsa yang turut berjuang mengusir penjajah dalam mewujudkan kemerdekaan bagi segenap masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya, ulama terbukti masih terus menyumbangkan peran penting yang mampu menghindarkan bangsa dari situasi-situasi genting.
Gelaran muktamar yang baru saja berakhir beberapa waktu lalu merupakan salah satu bukti nyata betapa segala hal terkait dengan bangsa pasti akan langsung menjadi urusan bersama, termasuk ulama. Melalui semangat Islam Nusantara, Nahdlatul Ulama (NU) bertekad untuk menjadikan Islam Nusantara sebagai pola pikir dan perilaku masyarakat Indonesia, dimana masyarakat bisa hidup berdampingan, berfikir positif, dan menjalankan syariat Islam namun tetap dalam bingkai NKRI. Sementara Muhammadiyah berbagi tugas dengan concern penuh pada upaya menjadikan ajaran Islam sebagai inspirasi karya nyata untuk kemajuan masyarakat.
Meski demikian, hal ini tidak lantas berarti bahwa urusan menjaga kerukunan telah sepenuhnya beralih ke pundak para ulama, bagaimanapun juga menjaga kerukunan adalah kewajiban kita bersama. Terutama dengan seabreknya bekal pengalaman, keilmuan, serta kharisma yang dimiliki oleh para ulama, kita optimis bahwa bangsa kita akan menjadi lebih baik.
Namun kita tetap tidak boleh lupa bahwa ulama juga manusia, karenanya kita harus mengawal ulama agar tetap istiqomah dan antusias dalam membimbing dan mengajari kita cara membangun bangsa. Tidak hanya dengan berdoa, tetapi juga melalui kerja nyata yang akan membuat bangsa ini bangga pernah memiliki orang-orang seperti kita!
Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…
“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…
Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…
Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…
Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…
Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…