Narasi

Menutup Pintu-pintu Hoax

“Ketika masuk bulan suci Ramadan, maka setan-setan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup.” Demikian hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim yang sangat populer di masyarakat. Apa makna hadis ini? Dan bagaimana mengkontekstualisasikannya?

Hadis ini bagi sebagian ulama hanyalah metafora dari gambaran keagungan bulan Puasa, sebab keagungangannya, seolah-olah setan itu diikat, pintu surga dibuka, dan pintu neraka ditutup. Dengan demikian, dia bukanlah sesuatu yang otomatis. Seolah-olah kalau datang Ramadan akan terjadi secara riil seperti apa yang diungkapkan hadis itu.

Bagi sebagian ulama, hadis ini justru harus menjadikan kita lebih giat, lebih aktif, dan lebih berusaha terus-menerus. Ramadan sebagai bulan yang mulia dan agung harus bisa menjadikan kita untuk bisa dan aktif menutup pintu-pintu neraka, mengikat setan, dan membuka pintu-pintu surga.

Apa itu neraka? Apa itu surga? Saya tertarik dengan penjelasan Mulla Sadra yang mengatakan bahwa surga itu ada dua macam. Pertama, surga yang bersifat fisik-meterial (al-mahsusat). Inilah surga yang digambarkan oleh Al-Quran, seperti kebun rindang yang di bawahnya ada air sungai yang mengalir, jannatun tajri min tahti al-anhar. Ini hanya bisa kita rasakan di akhirat.

Kedua, surga yang bersifat metafisik-immaterial (al-ma’kulat). Surga ini bisa dirasakan dunia dan oleh siapapun. Surga model ini adalah segala sesuatu yang mendatangkan kebahagian, kedamaian, persatuan, persaudaraan, dan keharmonisan, maka itu semuanya adalah surga.

Logika yang sama bisa digunakan untuk memahami neraka. Bahwa apapun yang membuat manusia susah, terpecah, bermusuhan, terpolarisasi, tidak aman, sengsara, dan tidak bisa merasakan kedamaian, maka semua itu adalah neraka.

 Surga dan neraka bukanlah sesuatu yang jauh. Ia ada di dekat kita, bisa kita kejar dan kita gapai.

Hoax Sebagai Setan

Dalam terminologi agama, setan bukanlah makhluk personal-spesifik layaknya manusia, jin, atau malaikat. Setan adalah simbol kejahatan dan segala sesuatu yang memjerumuskan ke dalam kejahatan. Apa pun yang membuat manusia menjadi jahat, terpecah-belah, terpolarisasi, terjerumus ke dalam kubangan kebencian, maka itu adalah setan.

Di era modern –terutama di media sosial sekarang, tidak ada yang paling membuat manusia menjadi terpecah, terpolariasi, intoleran, bahkan menjadi ekstrim, melainkan dari hoax dan ujaran kebencian.

Kita masih ingat peristiwa pemenggalan kepala guru di Francis yang menghebohkan itu. Dunia mengutuk, kaum muslimin bereaksi, pemberitaan mengenai kasus ini tak henti-hentinya. Usut punya usut, ternyata semuanya bermula dari kebongan seoarang murid kepada orang tuanya yang dengan baik –atas dasar kebencian –dimanfaatkan oleh para ekstrimis.    

Hoax membunuh kemanusian. Ia bisa membuat kita saling curiga. Merobek tenun kebangsaan. Pemahaman agama yang hoax­-lahsaya menyebut demikian, sebab bagi saya pemaham agama kaum radikal-ekstrimis itu bohong, bukan itu yang dimaksud agama –yang membuat membuat manusia bisa bertindak ekstrim, bahkan sampai membunuh manusia.

Hoax bisa membuat manusia terprovokasi. Terpancing untuk bersikap intoleran terhadap pihak lain. Tidak jarang, ujaran kebencian yang membuat sesama anak bangsa saling bertengkar dan bermusuhan, berawal dari berita bohong yang mereka terima.

Penganut agama tertentu bisa sangat benci terhadap penganut agama lain sebab informasi yang dia dapat tentang pemeluk agama di luar dirinya tidak sesuai dengan yang senyatanya. Satu kelompok bisa bermusuhan dengan kelompok lain akibat dari keterangan yang salah yang ia terima terhadap kelompok.

Jika kita kembali ke pada hadis di atas, maka setan-setan dibelenggu saat bulan Ramadan, itu artinya kita harus sekuat tenaga untuk mengikat dan membelenggu hoax itu. Caranya jangan membuat hoax, jangan menyebar hoax, atau jangan terpancing oleh hoax.

Dengan cara membelenggu hoax seperti di atas, kita bisa menutup pintu-pintu neraka, yakni permusuhan, polarisasi, dan ketidakharmosian, sekaligus bisa membuka pintu-pintu surga, yakni persaudaraan, persatuan, dan kedamaian.    

This post was last modified on 22 April 2021 12:36 PM

Hamka Husein Hasibuan

Recent Posts

Kultur yang Intoleran Didorong oleh Intoleransi Struktural

Dalam minggu terakhir saja, dua kasus intoleransi mencuat seperti yang terjadi di Pamulang dan di…

29 menit ago

Moderasi Beragama adalah Khittah Beragama dan Jalan Damai Berbangsa

Agama tidak bisa dipisahkan dari nilai kemanusiaan karena ia hadir untuk menunjukkan kepada manusia suatu…

30 menit ago

Melacak Fakta Teologis dan Historis Keberpihakan Islam pada Kaum Minoritas

Serangkaian kasus intoleransi dan persekusi yang dilakukan oknum umat Islam terhadap komunitas agama lain adalah…

2 jam ago

Mitos Kerukunan dan Pentingnya Pendekatan Kolaboratif dalam Mencegah Intoleransi

Menurut laporan Wahid Foundation tahun 2022, terdapat 190 insiden intoleransi yang dilaporkan, yang mencakup pelarangan…

2 jam ago

Jaminan Hukum Kebebasan Beragama bisa Menjamin Toleransi?

Indonesia, dengan kekayaan budaya, agama, dan kepercayaan yang beragam, seharusnya menjadi contoh harmoni antar umat…

1 hari ago

Mencegah Persekusi terhadap Kelompok Minoritas Terulang Lagi

Realitas kekayaan budaya, agama, dan kepercayaan di Indonesia seharusnya menjadi fondasi untuk memperkaya keberagaman, namun…

1 hari ago