Categories: Narasi

Menyelami Makna Jihad

Secara bahasa, jihad berarti bersungguh-sungguh. Dalam konteks syar’iyyah (istilah agama), jihad memiliki makna luas, yakni bersungguh-sungguh dalam melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Alquran menggunakan dua redaksi kata yang berbeda untuk merujuk pada makna ‘perjuangan’, yakni: jihad dan qital. Jihad adalah perjuangan dalam arti umum, sementara qital adalah berjuang dalam arti khusus, yaitu perang.

Tak dipungkiri Alquran memang memiliki ayat-ayat yang memerintahkan peperangan, meski jika diperhatikan lebih lanjut Islam sejatinya memasang syarat-syarat ketat untuk ‘ijin’ berperang tersebut. Seperti dalam surat al-Hajj ayat 39: “telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi (li al-ladzîna “yuqâtalûna”);”dan surat al-Baqarah 190, “dan perangilah (qâtilû) orang-orang yang memerangimu (al-ladzîna yuqâtalûnakum).”

Hal yang memprihatinkan saat ini adalah munculnya kelompok-kelompok tidak bertanggungjawab yang memelintir makna jihad dan menyamakannya dengan seruan untuk melakukan peperangan. Beberapa kelompok bahkan telah dengan lantang memaknai pekikan “Allahu Akbar” sebagai perintah untuk serang dan bakar!

Gamal al-Banna dalam bukunya al-Jihâd, menyatakan bahwa jihad dan qital harus dibedakan secara jelas dan tegas. Jihad tidak identik dengan qital, meskipun qital pada zaman Nabi merupakan salah satu bentuk dari jihad. Baginya jihad adalah mabda’ (prinsip) yang abadi dalam arti dan bentuk yang umum dan seluas-luasnya, sedangkan perang hanyalah wasilah, yang tidak prinsipil, dan sangat situasional.

Dalam konteks modern, pemaknaan terhadap jihad mengalami perkembangan. Para ulama fikih (fuqaha) juga mengakui bahwa jihad memiliki banyak makna dan bentuk. Terdapat setidaknya tiga jenis jihad, yakni; jihad melawan musuh, jihad melawan setan dan jihad melawan hawa nafsu. Dalam salah satu komentarnya, cendikiawan muslim Prof. DR. H. Azyumardi Azra memasukkan jihad melawan hawa nafsu sebagai jihad akbar (besar). Sementara memerangi musuh muslim adalah bagian dari jihad asghar (kecil).

Hal ini bermakna bahwa jihad bukan melulu perkara menghunus pedang dan menumpahkan darah, karena jihad yang sesungguhnya adalah jihad melawan hawa nafsu. Jihad ini termasuk kedalam jihad akbar karena melawan hawa nafsu dinilai sebagai sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan. Rasulullah pun mengakui hal ini, hingga sepulang dari perang Badar beliau berkata “Kalian telah kembali ke tempat kedatangan terbaik, dari jihad yang lebih kecil menuju jihad yang lebih besar.” Para sahabat berkata, “Apakah jihad yang lebih besar itu? Nabi bersabda, “Jihad seorang hamba melawan hawa nafsunya.” HR. Al-Baihaqi.

Beberapa orang memang sengaja menyalahgunakan arti jihad hingga seolah peperangan dan berbagai serangan bermuatan aksi kekerasan yang mereka lakukan adalah bagian dari perintah agama. Kita tentu tidak akan mudah terperdaya, agama mengajarkan kedamaian, bukan permusuhan. Agama mendorong kita untuk berbuat baik, menjenguk yang sakit, bukan malah membuat sakit.

This post was last modified on 16 Juni 2015 2:01 PM

Imam Malik

Adalah seorang akademisi dan aktifis untuk isu perdamaian dan dialog antara iman. ia mulai aktif melakukan kampanye perdamaian sejak tahun 2003, ketika ia masih menjadi mahasiswa di Center for Religious and Sross-cultural Studies, UGM. Ia juga pernah menjadi koordinator untuk south east Asia Youth Coordination di Thailand pada 2006 untuk isu new media and youth. ia sempat pula menjadi manajer untuk program perdamaian dan tekhnologi di Wahid Institute, Jakarta. saat ini ia adalah direktur untuk center for religious studies and nationalism di Surya University. ia melakukan penelitian dan kerjasama untuk menangkal terorisme bersama dengan BNPT.

Recent Posts

Ketika Pancasila Selalu Dipertentangkan dengan Agama

Seorang pastor Katolik umumnya dikenal melalui pelayanan keagamaan dan karya misionernya. Namun, Y.B. Mangunwijaya memilih…

5 jam ago

Kebencian Harusnya tidak Lahir karena Perbedaan

Pernahkah kita bertanya dalam benak kita pada kita sendiri, sejak kapan perbedaan terasa seperti ancaman?…

5 jam ago

TCC dan Pergeseran Pola Radikalisasi Anak Muda di Ruang Digital

Fenomena True Crime Community (TCC) belakangan mendapat perhatian setelah Densus 88 mengungkap 70 anak berusia…

5 jam ago

Membumikan Hari Kebangkitan Pancasila: Merawat Kebinekaan Melalui Ruang Deliberatif di Era Digital

Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati momentum bersejarah Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini bukanlah…

1 hari ago

Menggugat Sila Ketuhanan : Mengapa Kita Masih Sulit Membiarkan Orang Lain Meyakini Tuhan

Setiap 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Momentum ini seharusnya tidak hanya menjadi…

1 hari ago

Gotong Royong Digital: Wajah Baru Kolektivisme Pancasila di Ruang Siber

Sepanjang tahun 2025-2026, sejumlah wilayah di Indonesia dilanda bencana alam. Mulai dari banjir di Aceh…

1 hari ago