Narasi

Merawat Perdamaian

Cita-cita bangsa kita adalah terwujudnya perdamaian. Damai dalam berbagai kehidupan, baik agama, sosial, dan juga politik. Damai berarti tidak ada konflik. Tanda dari perdamaian adalah terwujudnya kerjasama antar kelompok. Dalam kerjasama tidak ada kepentingan apapun selain demi terwujudnya perdamaian.  Antar etnis, antar suku, antar agama, terjalin konektifitas sehingga semuanya bertujuan saling membangun cita-cita perdamaian itu.

Lemahnya kerjasama seringkali muncul karena fanatisme kelompok yang berlebihan. Terlalu fanatik kepada identitas atau golongan sangat mudah memicu konflik. Biasanya orang akan cenderung membeda-bedakan, kemudian menilai, dan akhirnya menghujat. Fanatik boleh, tapi tidak boleh berlebihan. Kelompok atau golongan memang memiliki tujuan, tapi jangan lupa ada cita-cita besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demokrasi memang membolehkan semua orang berkelompok sesuai kesenangan masing-masing. Boleh berkelompok tapi tidak boleh “ngawur”. Tidak boleh asal berkelompok sehingga merugikan kepentingan bangsa. Demokrasi memiliki dasar pentingnya kerjasama dalam melahirkan perdamaian. Sehingga semua orang diberi kebebasan untuk berkontribusi melalui cara apapun yang positif. Maka jika kelewat jalur dari nilai demokrasi itu, pemerintah berhak memberi peringatan dan penegasan karena menimbulkan masalah di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Hakekat dari kebhinekaan sendiri adalah perdamaian. Merawat kebhinekaan adalah merawat perdamaian. Kebhinekaan yang mendasari kehidupan bangsa Indonesia merupakan representasi dari nilai-nilai perdamaian. Berbeda etnis, suku, agama, budaya, dan bahasa, namun tetap damai. Inilah cita-cita luhur bagi kita semua. Yakni, mewujudkan sekaligus merawat perdamaian dengan cara-cara yang positif.

Hekekat dari kemerdekaan juga perdamaian. 72 tahun yang lalu, Indonesia merdeka dari penjajahan. Ikrar kemerdekaan itu kini masih menggema hingga sekarang. Cita-cita kemerdekaan tidak lain ingin mewujudkan perdamaian di tanah air, bebas dari segala bentuk penjajahan. Perjuangan kemerdekaan juga penuh dengan kerjasama antar etnis, budaya, dan agama, spirit kemerdekaan itu tidak boleh hilang. generasi saat ini menerima tanggungjawab yang sama untuk menjaga, memperjuangkan, dan merawat perdamaian.

Perdamaian itu manah. Sudah menjadi tugas dan tanggungjawab setiap warga negara untuk menjaganya. Terwujudnya perdamaian akan melahirkan keharmonisan, kestabilan di semua bidang kehidupan, baik sosial, agama, dan politik. Maka jangan pernah anggap remeh perdamaian, melalui itulah kehidupan kita terjamin, jika tidak maka akan lahir konflik antar saudara sebangsa. Jadikan perdamaian sebagai tujuan, menjiwai setiap langkah, jadikan perdamaian sebagai inspirasi agar Indonesia tetap damai selama-lamanya.

Hidup dalam damai keinginan semua orang. kehidupan sosial beragama menginginkan perdamaian. Bahkan setiap agama mencita-citakan perdamaian. Melalui ajaran-ajarannya agama selalu mengajarkan cinta kasih antar sesama. Tidak ada agama yang mengajarkan konflik, saling hujat satu sama lain. Adapaun segelintir orang yang mengatasnamakan agama berbuat semena-mena hingga menebar teror, tidak lain mereka adalah orang-orang yang keliru memahami agamanya. Agama tidak pernah mengajarkan terorisme, kekerasan, dan sejenisnya, agama hanya mengajarkan kebaikan dan perdamaian.

Perdamaian itu kebutuhan. Semua orang butuh hidup damai. Damai itu kunci bagi kebahagiaan. Jika tidak dalam perdamaian bagaimana orang dapat mencapai tujuannya. Konflik apa hasilnya, hanya melahirkan permusuhan, sebaliknya damai melahirkan keharmonisan antar manusia. Maka jadikan perdamaian itu kebutuhan. Dengan demikian semua orang akan sama-sama memperjuangkkan perdamaian.

Apapun agamamu, sukumu, budayamu, kita semua butuh perdamaian. Orang beragama membutuhkan perdamaian demi menjalankan rutinitas ibadahnya tanpa ada rasa takut ancaman. Antar suku juga butuh perdamaian demi kelangsungan kehidupan etnis kedaerahan. Demikian pula antar budaya, demi saling menjaga keragaman. Inilah spirit keberagaman di Indonesia, perdamaian adalah tujuan semua warga negara.

Merawat perdamaian adalah tugas semua orang. tanggungjawab menjaga perdamaian ada di pundak setiap warga negara. setiap pemeluk agama, lintas etnis, budaya, dan bahasa memiliki tanggungjawab yang sama dalam merawat perdamaian. Tugas ini bukan beban pemerintah saja, bukan tugas presiden saja, tugas merawat perdamaian adalah tugas kita semua, semua warga negara Indonesia.

Untuk merawat perdamaian itu dibutuhkan kerja bersama. Diwujudkan dalam kerjasama antar agama, antar suku, antar budaya, dan antar bahasa. Kerja bersama ini untuk kepentingan bangsa, kepentingan bangsa berarti kepentingan semua orang, kepentingan semua orang menyangkut tujuan demokrasi, terjaminnya setiap warga negara menjalankan kehidupannya. Tujuan perdamaian adalah tujuan pancasila, terwujudkan kebahagiaan semua orang sehingga tercapainya keadilan sosial yang merata.

Febri Hijroh Mukhlis

Alumni pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pendiri Yayasan Umm al-Bilaad

Recent Posts

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

3 hari ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

3 hari ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

6 hari ago

Peta Jalan Penanggulangan Terorisme-Jurnal Jalan Damai Vol. 1. No. 10 Desember 2025

Salam Damai, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya Jurnal…

4 minggu ago

Agama Cinta Sebagai Energi Kebangsaan Menjinakkan Intoleransi

Segala tindakan yang membuat kerusakan adalah tidak dibenarkan dan bukan ajaran agama manapun. Kita hidup…

1 bulan ago

Bagaimana Menjalin Hubungan Antar-Agama dalam Konteks Negara-Bangsa? Belajar dari Rasulullah Sewaktu di Madinah

Ketika wacana hubungan antar-agama kembali menghangat, utamanya di tengah menguatnya tuduhan sinkretisme yang dialamatkan pada…

1 bulan ago