Narasi

Olahraga adalah Perekat Harmonisasi dan Perdamaian

Tak terbantahkan, sungguh olahraga mampu mempererat persaudaraan. Apa yang ditunjukkan atlet oleh pencak silat Hanifan Yudani Kusumah peraih medali emas pada tanggal 29 Agustus 2018 merupakan bukti otentik yang tak terbantahkan. Dengan berselimut bendera merah putih, ia menyalami Jokowi dan Prabowo untuk selanjutnya memeluk keduanya secara bersamaan. Dua kandidat Presiden yang siap bertarung inipun bersatu dalam dekapannya menempel di atas satu bendera merah putih. Sungguh, pertunjukan yang sangat elok.

Hanifan seakan memenuhi harapan perdamaian para pakar dalam pelaksanaan Asian Games kali ini. “Tujuan utama olahraga ini adalah perekat harmonisasi, perdamaian dan keadilan di bumi, tidak ada isu politik, apalagi agama. Mari kita sambut dan suksesnya Asian Games 2018 ini,” ucap Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Prof Dr Syaiful Bakhri (www.republika.co.id). Selain itu, benar juga apa yang dikatakan oleh Ketua Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (INASGOC) Erick Thohir. Menurut Erick, Asian Games 2018 bukanlah hanya ajang untuk adu prestasi melainkan juga sebagai ajang untuk menciptakan perdamaian di Asia dan khususnya Indonesia (sports.okezone.com).

Terbukti, Asian Games tidak pernah mempermasalahkan perbedaan yang ada. Siapapun warga Asia yang memiliki kompetensi sebagaimana yang ada dalam “permainan” Asian Games diperbolehkan mengikutinya. Dalam Asian Games membutuhkan satu hal, yakni kompetensi sesuai dengan cabang olah raga yang diikuti.

Bagi negara Indonesia, tahun 2018 ini merupakan keberuntungan tersendiri dalam rangka promosi dan menyebarluaskan perdamaian. Ajang empat tahunan berskala Asia ini tidak setiap pereode atau bahkan pemerintahan dapat memiliki kesempatan menjadi tuan rumah. Sebelumnya, Indonesia menjadi tuan rumah pada Asian Games di era Presiden Soekarno, yakni tahun 1962. Setelah menunggu selama 56 tahun, kini di tahun 2018, negara Indonesia baru menjadi tuan rumah lagi.

Selain kesempatan di sektor lain, saat ini Indonesia bisa menunjukkan dan menularkan virus perdamaian nasional ke ruang Asia, bahkan, internasional. Melalui Asian Games, Indonesia dapat menunjukkan betapa di negeri yang dikenala dengan perbedaan suku, ras, dan antargolongan ini terbangun jiwa persatuan yang kuat. Indonesia dapat menunjukkan bahwa Bhineka Tunggal Ika bukan hanya semboyan yang tertulis di bawah lambang negara saja, namun juga tercermin dalam perilaku kehidupan masyarakatnya.

Kondisi damai yang ada di negara Indonesia ini tidak selamanya dimiliki oleh negara-negara lain. Di negara lain, terdapat kelompok yang dengan terang-terangan menumpas kelompok lain melalui jalan “kebijakan” ataupun fisik. Bahkan hukum rimba pun tak jarang diterapkan. Dalam meyakini sebuah ajaran, tak jarang sebuah negara mengerdilkan satu ajaran dan meluaskan ajaran agama lain. Alhasil, sebagian kelompok pemeluk agama tidak dapat mencecap perdamaian serta ketenangan dalam beribadah.  Bahkan, banyak dari mereka yang juga mendapat penganiayaan.

Dalam tubuh satu agama, Islam di Indonesia juga memiliki keragaman. Namun demikian, dari kesekian kelompok, mayoritas dari mereka selalu mengedepankan toleransi. Para pemeluk agama Islam di Indonesia sadar betul bahwa perbedaan yang ada hanyalah bersifat furu (cabang) yang tidak perlu diperdebatkan lintas golongan. Namanya furu, hampir dapat dipastikan ada perbedaan. Hal ini dapat terjadi karena beberapa sebab, di antaranya adalah kemampuan “imam” yang diikuti masing-masing kelompok memiliki kompetensi dan pengalaman yang berbeda.

Muhammadiyan dan Nahdlatul Ulama (NU) merupakan cerminan dua ormas terbesar yang lahir di Indonesia. Keduanya merupakan gerakan yang ada di bawah Islam yang sering kali memiliki pandangan berbeda dalam tataran furu. Namun demikian, keduanya selalu bisa saling berjalan berdampingan. Bahkan, dalam hal-hal tertentu, umat sering kali melakukan peribadatan bersama. Umat Islam Muhammadiyah sering kali melaksanakan shalat lima waktu di masjid NU, sementara warga nahdliyin juga dengan enjoy-nya mengikuti shalat Jumat di masjid Muhammadiyah.

Cerminan perdamaian yang ada di negara Indonesia seperti inilah yang mesti dipromosikan sehingga warga dunia bisa berkiblat pada Indonesia. Dan, Asian Games merupakan wahana yang sangat tepat karena dengan adanya event empat tahunan ini, warga dunia sedang berfokus pada Indonesia.

Wallahu a’lam.

Anton Prasetyo

Pengurus Lajnah Ta'lif Wan Nasyr (LTN) Nahdlatul Ulama (LTN NU) dan aktif mengajar di Ponpes Nurul Ummah Yogyakarta

Recent Posts

Dari Sanad ke Startup: Jihad Intelektual Santri di Abad Algoritma

Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari menyerukan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan sebagai kewajiban…

3 jam ago

Memahami “Santri” sebagai Kata Sifat

Setiap tanggal 22 Oktober, lini masa kita akan dipenuhi sarung, peci, dan foto lama di…

3 jam ago

Tirakat Digital: Amalan Santri Melawan Radikalisasi Daring

Peringatan Hari Santri selalu membawa kita pada ingatan historis tentang keberanian, ketangguhan fisik, dan kedalaman…

3 jam ago

Demonstrasi vs Vandalisme : Menjaga Demokrasi dari Penumpang Gelap dan Eksploitasi Generasi Muda

Momentum peringatan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2026 kembali menghidupkan ruang-ruang…

1 hari ago

Membersihkan Mimbar Digital dari Konten Radikal

Di tengah derasnya arus dakwah digital dan maraknya ceramah provokatif, mimbar-mimbar keagamaan kita kerap diuji,…

1 hari ago

Kritis Bukan Berarti Tidak Taat, Moderat Bukan Berarti Mengkompromikan Syariat!

Ada anggapan bahwa anak muda yang kritis terhadap pandangan keagamaan berarti kurang taat. Sebaliknya, mereka…

1 hari ago