Keagamaan

Otentisitas Keagamaan di Era Digital

Sepertinya, pandemi corona yang terjadi beberapa tahun yang lalu adalah sasmita tentang apa yang akan orang hadapi pada detik ini: pola kehidupan yang sudah berubah dengan adanya dunia digital. Agama pun, yang konon oleh kalangan radikal diyakini tak mengenal ruang dan waktu, tak pula dapat lepas dari perubahan.

Fenomena work from home, transaksi-transaksi online, kelas-kelas daring di sekolah-sekolah dasar sampai sekolah tinggi, individualitas berbagai praktik keagamaan, dsb., adalah realitas-realitas baru yang barangkali baru tersadari karena faktor pandemi corona.

Satu hal yang patut diketahui dari dunia dakwah di era ini, yang senafas dengan perubahan cepat yang diakibatkan oleh teknologi-teknologi digital. Seorang kyai ataupun ustadz di era ini seakan tak mesti lagi memiliki kualitas-kualitas diri sebagaimana di masa lalu: seorang pribadi tunggal yang menguasai banyak keahlian.

Di masa lalu kerap seorang kyai ataupun ustadz, di samping dianggap sebagai seorang yang cukup menguasai bidang agama, mereka juga dianggap linuwih, kalau tak dapat melipat ruang dan waktu, minimal mereka bisa nyuwuk anak kecil yang rewel—sekali pun masih ada yang memiliki kualitas-kualitas masa lalu itu mereka sudah bertransformasi menjadi para penghibur atau entertainer selaiknya dagelan.

Namun kualitas-kualitas diri yang lazim di masa lalu itu kini sudah tergantikan oleh tata kelola modern yang menyaratkan adanya sebuah tim: peneliti atau para pencari bahan ceramah, penata artistik dan teatrikal, pawang hujan, talang atau bagian promosi, bahkan juga biro khusus untuk haji dan umroh.

Difererensiasi kerja itu tentu saja sejalan dengan dunia digital yang kini tengah orang hadapi. Media-media sosial, yang dapat memberikan ruang bagi siapa pun untuk menjadi seorang bintang, terlepas dari apakah ia otentik atau sekedar gorengan, dapat mentransformasikan, seumpamanya, lonthe atau preman menjadi ustadzah ataupun ustadz.

Era digital, yang dalam kajian kebudayaan memang tak lagi menghendaki adanya kedalaman, dimana oleh McLuhan dinyatakan ditandai pula oleh tak lagi terbedakannya antara substansi dan forma, tak lagi menuntut kualitas-kualitas diri lama untuk berada. Cukuplah orang untuk sedap ataupun tak sedap di mata, enak ataupun tak enak di kuping, dingin ataupun panas di hati. Sebab, dalam logika abad digital, cinta dan benci adalah sensasi yang sama-sama memiliki efek untuk melambungkan.

Demikianlah kondisi realitas yang orang hadapi yang memang tak mudah untuk ditolak atau disikapi secara antipati. Belum lagi fenomea kecerdasan-kecerdasan buatan yang seolah mendesakralisasikan karakteristik-karakteristik agama di masa lalu, yang bagi yang tak cukup iman dapat sedikit menyekunderkan agama bahkan pun dalam urusan tiga takdir yang konon sekedar urusan Tuhan: rezeki, kematian, dan jodoh. Terang, yang barangkali dapat hilang adalah otentisitas yang sejak lama menjadi tuntutan agama, namun ternyata menjadi tuntutan dari mekanisme-mekanisme dunia digital.

Nasib agama di era digital, secara ideal, tentu saja mesti hidup di ruang tarik-ulur antara dua kontras tersebut: antara yang formal dan substansial, antara yang profan dan yang sakral. Para agamawan, saya kira, mestilah pandai-pandai untuk memoderatisasikan segala kecenderungan untuk terjebak pada satu pilar dengan menafikan pilar yang lain. Tasawuf atau spiritualitas, entah yang berbingkai agama apapun, jelas adalah sebentuk perspektif yang membentuk watak toleran: toleran pada yang formal sekaligus yang substansial, yang profan sekaligus yang sakral.       

This post was last modified on 28 Oktober 2023 5:12 PM

Heru harjo hutomo

Recent Posts

Mengurai Jebakan Propaganda Ekstremis dan Menafsir Ulang Sumpah Pemuda di tengah Gejolak Geoekonomi-Politik

Tembok kedaulatan sebuah negara hari ini tidak lagi semata diruntuhkan oleh invasi militer, melainkan oleh…

23 jam ago

Sensasionalisme Narasi Eskatologi: Pentingnya Studi Takhrij terhadap Hadis Akhir Zaman

Isu eskatologi selalu memiliki daya pikat magis di tengah umat Muslim. Di era banjir informasi…

23 jam ago

Menolak Normalisasi Vigilantisme: Main Hakim Sendiri Sebagai Pintu Masuk Terorisme

Kasus penggerebekan sebuah pondok pesantren di Karanganyar oleh aparat kepolisian yang berkaitan dengan aksi pembakaran…

23 jam ago

Sindrom “Katak Rebus” dan Matinya Nalar Geopolitik

Terdapat potret metaforis tentang katak yang dimasukkan ke dalam rebusan air. Ketika katak dimasukkan langsung…

2 hari ago

Komodifikasi Ketakutan dan Ilusi Ideologi: Merefleksikan Sumpah Pemuda di Palagan Siber

Peringatan Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober tidak boleh dibiarkan menguap sekadar menjadi romantisme sejarah…

2 hari ago

Belajar Kolaborasi Pemuda Lintas Iman dalam Aksi Kemanusiaan : Kepedulian Tidak Mengenal Batas Iman

Suatu hari di Mekah, jauh sebelum Muhammad diangkat menjadi nabi, seorang pedagang dari Zubaid, Yaman,…

2 hari ago