Faktual

Perempuan Berdaya Menghadapi Terorisme

Ada satu ungkapan yang cukup familiar di kalangan kita. Yaitu: suksesnya seorang laki-laki karena ada perempuan hebat di belakangnya. Ungkapan ini menunjukkan satu fakta, bahwa perempuan itu cenderung inspiratif dan berperan dalam membawa semangat perubahan-perubahan.

Sebagaimana, perempuan harus menjadi pendorong yang inspiratif. Dalam berkontribusi aktif menghadapi problematika kebangsaan di tengah arus radikalisme-terorisme. Seperti dalam konteks perayaan hari ibu yang ke-95 pada 22 Desember 2023 dengan tema “Perempuan berdaya, Indonesia maju”.

Perempuan tidak boleh passive. Perempuan harus berkontribusi aktif dalam kehidupan sosial. Sebagaimana, ada 4 peran perempuan berdaya bagi bangsa dalam mencabut akar terorisme, demi Indonesia maju. Lantas, apa saja 4 peran perempuan itu?

Pertama, sinergitas perempuan-perempuan di Indonesia dalam mendeteksi bahaya paham radikalisme-terorisme sangatlah penting. Apalagi, dunia yang saat ini semakin terbuka dan komunikasi yang cepat dengan adanya sosial media. Perempuan bisa dapat membangun hubungan yang kolektif satu-sama lain dalam mendeteksi akar-akar radikalisme-terorisme yang kerap menjerat perempuan yang harus kita putus.

Sosial media merupakan platform yang sangat berguna bagi perempuan-perempuan lintas iman dalam menyuarakan semangat kebangsaan, toleransi dan bahaya paham radikal-teroris. Membentuk sebuah ideologi perempuan anti-terorisme merupakan satu terobosan yang akan membawa dampak maslahat dalam memutus jeratan paham kelompok perusak NKRI itu.

Kedua, komunitas perempuan lintas iman harus bisa menginspirasi dirinya agar tertanam nilai-nilai toleransi dan secara spontan menolak paham radikalisme-terorisme sejak dalam pikiran diri sendiri. Artinya, ketika (jati diri) perempuan bisa kebal dan mawas diri dari paham radikalisme-terorisme.

Sebagaimana, jeratan paham radikalisme-terorisme selalu membuat seseorang, termasuk mentalitas dirinya dirusak. Dibuat segelisah mungkin untuk bisa memiliki kesadaran untuk meng-hijrahkan diri dan hasrta jihad. Dari sinilah kerap perempuan gagal menjaga dirinya dari jeratan radikalisme-terorisme ketika tidak memiliki (self security) dalam dirinya untuk memutus jeratan itu.

Ketiga, menginspirasi perempuan-perempuan lain tentang indahnya kerukunan antar umat beragama dan bahaya paham radikalisme-terorisme. Komunitas perempuan lintas iman ini tentunya harus dibangun di berbagai daerah. Seperti yang ada di Yogyakarta mereka bekerja-sama dengan para perempuan dengan latar agama yang berbeda, bekerja-sama dengan kampus dan para akademisi dalam mengkaji kerukunan antar umat beragama, toleransi dan bahaya paham radikal-teroris itu.

Potensi, ketika setiap titik di daerah memiliki sekumpulan srikandi lintas iman. Mereka berkumpul dalam membangun dialog, kerja-sama yang erat, membawa ide-ide toleransi ke ruang publik dan membawa inspirasi perempuan kuat dalam memutus jeratan radikalisme-terorisme. Niscaya ini sebagai satu potensi di dalam memutus penularan terorisme yang kerap menargetkan perempuan sebagai alat untuk melakukan aksi teror.

Keempat, peran perempuan terhadap anak-anak, keluarga dan lingkungan sekitar dalam memengaruhi mereka akan pentingnya kerukunan antar umat beragama dan bahaya paham radikalisme-terorisme. Perempuan sangatlah vital sekali dalam memberi pengaruh terhadap orang-orang sekitar.

Maka, di sinilah pentingnya potensi perempuan-perempuan dalam sebuah komunitas lintas iman. Upaya ini harus menjadi inspirasi perempuan di berbagai daerah yang ada di seluruh Indonesia. Untuk bisa bangkit membuat sebuah komunitas lintas iman dengan misi dan perjuangan dalam menebar kerukunan antar umat beragama dan yang terpenting adalah menginspirasi perempuan agar kuat dan tangguh melawan jeratan paham radikalisme-terorisme di negeri ini.

This post was last modified on 22 Desember 2023 1:46 PM

Amil Nur fatimah

Mahasiswa S1 Farmasi di STIKES Dr. Soebandhi Jember

Recent Posts

Dari Sanad ke Startup: Jihad Intelektual Santri di Abad Algoritma

Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari menyerukan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan sebagai kewajiban…

24 jam ago

Memahami “Santri” sebagai Kata Sifat

Setiap tanggal 22 Oktober, lini masa kita akan dipenuhi sarung, peci, dan foto lama di…

24 jam ago

Tirakat Digital: Amalan Santri Melawan Radikalisasi Daring

Peringatan Hari Santri selalu membawa kita pada ingatan historis tentang keberanian, ketangguhan fisik, dan kedalaman…

24 jam ago

Demonstrasi vs Vandalisme : Menjaga Demokrasi dari Penumpang Gelap dan Eksploitasi Generasi Muda

Momentum peringatan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2026 kembali menghidupkan ruang-ruang…

2 hari ago

Membersihkan Mimbar Digital dari Konten Radikal

Di tengah derasnya arus dakwah digital dan maraknya ceramah provokatif, mimbar-mimbar keagamaan kita kerap diuji,…

2 hari ago

Kritis Bukan Berarti Tidak Taat, Moderat Bukan Berarti Mengkompromikan Syariat!

Ada anggapan bahwa anak muda yang kritis terhadap pandangan keagamaan berarti kurang taat. Sebaliknya, mereka…

2 hari ago