Narasi

Post-Truth dan Ilusi Kebenaran Versi AI; Awas Radikalisasi di Media Sosial!

Era digital menghadirkan perubahan besar dalam cara manusia memandang, menyebarkan, dan menerima informasi. Media sosial kini menjadi ruang utama pertukaran gagasan, perdebatan politik, hingga ruang dakwah keagamaan. Namun, di balik kemudahan dan kecepatan akses tersebut, lahir fenomena yang berbahaya: post-truth, sebuah situasi di mana emosi dan opini subjektif lebih dominan daripada fakta-fakta objektif.

Dalam atmosfer seperti ini, kebenaran seakan bisa diproduksi ulang, dipelintir, bahkan dipalsukan tanpa bisa langsung dikenali. Kehadiran kecerdasan buatan (AI), terutama yang bersifat generatif, semakin memperkuat ancaman ini. AI mampu menciptakan konten palsu dengan kualitas nyaris sempurna, sehingga kebohongan mudah tampil seperti kebenaran. Situasi inilah yang membuka jalan bagi radikalisasi berbasis digital di media sosial.

Post-truth bukanlah fenomena baru, namun dalam konteks sekarang, ia menemukan momentumnya melalui instrumentalisasi AI. Dulu, sebuah kebohongan masih bisa dideteksi dari kualitas rekaman atau susunan bahasa yang janggal. Kini, dengan teknologi deepfake, suara dan wajah seseorang bisa dimanipulasi seolah-olah tentang isu-isu tertentu yang sedang viral. Video semacam ini, walau palsu, dapat dengan cepat menyebar luas di media sosial, memicu kemarahan, memperuncing polarisasi, dan menjadi bahan bakar konflik horizontal. Itulah bahaya nyata ketika post-truth dipertemukan dengan kecanggihan AI.

Media sosial menjadi ladang subur bagi penyebaran narasi manipulatif. Karakteristik platform digital yang mengutamakan sensasi, kecepatan, dan viralitas membuat konten palsu lebih mudah tersebar daripada klarifikasi resmi. Kelompok radikal paham betul cara kerja algoritma, semakin provokatif sebuah konten, semakin besar peluangnya menjangkau audiens..

Dengan dukungan AI, mereka dapat memproduksi teks, video, maupun audio dalam jumlah besar untuk disebarkan secara masif. Lebih dari itu, narasi yang diproduksi seolah-olah berasal dari sumber otoritatif, padahal hanyalah rekayasa. Inilah yang membuat masyarakat semakin sulit membedakan mana kebenaran sejati dan mana ilusi kebenaran versi AI.

Kondisi ini diperparah dengan rendahnya tingkat literasi digital masyarakat. Indonesia memang tercatat sebagai salah satu negara pengguna AI terbanyak di dunia, tetapi dalam hal kemampuan mengidentifikasi hoaks dan konten manipulatif, capaian kita stagnan.

Hal ini membuat masyarakat rentan menjadi korban propaganda. Dalam atmosfer post-truth, orang lebih mudah percaya pada konten yang sesuai dengan keyakinan atau emosi pribadinya, ketimbang berusaha memverifikasi fakta. Sikap seperti inilah yang menjadi pintu masuk radikalisasi di media sosial. Kelompok radikal dengan cerdik membungkus narasi mereka dengan bahasa agama agar mudah menyentuh perasaan dan menyulut emosi.

 

Radikalisasi berbasis media sosial bukan hanya ancaman bagi stabilitas sosial, tetapi juga ancaman nyata bagi kedaulatan negara. Dalam banyak kasus di dunia internasional, propaganda digital berbasis AI telah digunakan untuk merekrut anggota baru, membangun simpati lintas negara, hingga mengorganisir gerakan dan aksi-aksi terorisme.

Dengan kemampuan AI menerjemahkan bahasa secara instan, pesan-pesan radikal bisa menembus batas geografis tanpa hambatan. Situasi ini tentu membuka ruang lebih besar bagi jaringan radikal transnasional untuk memanfaatkan kondisi masyarakat yang sudah terpolarisasi menjadi target empuk untuk disusupi narasi perpecahan.

Menghadapi fenomena ini, langkah pencegahan harus ditempuh secara serius dan komprehensif. Era post-truth menuntut kesadaran kolektif yang lebih tinggi. Masyarakat tidak boleh menjadi konsumen pasif dari informasi yang berseliweran di media sosial. Skeptisisme yang sehat harus menjadi kebiasaan baru: jika sebuah konten tampak terlalu provokatif atau mencurigakan, sebaiknya jangan langsung dipercaya atau disebarkan.

Di era di mana kebenaran bisa direkayasa dengan begitu meyakinkan, kemampuan untuk bersikap kritis dan bijak menjadi bentuk pertahanan diri yang paling mendasar. Ancaman radikalisasi di media sosial melalui ilusi kebenaran buatan AI adalah peringatan keras bagi kita semua. Jika tidak diantisipasi, media sosial bisa berubah menjadi arena perpecahan.

L Rahman

Recent Posts

Peta Jalan Penanggulangan Terorisme-Jurnal Jalan Damai Vol. 1. No. 10 Desember 2025

Salam Damai, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya Jurnal…

2 minggu ago

Agama Cinta Sebagai Energi Kebangsaan Menjinakkan Intoleransi

Segala tindakan yang membuat kerusakan adalah tidak dibenarkan dan bukan ajaran agama manapun. Kita hidup…

1 bulan ago

Bagaimana Menjalin Hubungan Antar-Agama dalam Konteks Negara-Bangsa? Belajar dari Rasulullah Sewaktu di Madinah

Ketika wacana hubungan antar-agama kembali menghangat, utamanya di tengah menguatnya tuduhan sinkretisme yang dialamatkan pada…

1 bulan ago

Menggagas Konsep Beragama yang Inklusif di Indonesia

Dalam kehidupan beragama di Indonesia, terdapat banyak perbedaan yang seringkali menimbulkan gesekan dan perdebatan, khususnya…

1 bulan ago

Islam Kasih dan Pluralitas Agama dalam Republik

Islam, sejak wahyu pertamanya turun, telah menegaskan dirinya sebagai agama kasih, agama yang menempatkan cinta,…

1 bulan ago

Natal sebagai Manifestasi Kasih Sayang dan Kedamaian

Sifat Rahman dan Rahim, dua sifat Allah yang begitu mendalam dan luas, mengandung makna kasih…

1 bulan ago