Narasi

Puasa, Zakat Fitrah dan Urgensi Solidaritas Kemanusiaan

Puasa sejatinya bukan hanya menahan diri dari perbuatan makan dan minum an sich, namun juga merupakan wahana untuk menguatkan solidaritas kemanusiaan. Mengingat di bulan ramadhan ini kita masih berada dalam kungkungan pandemi covid-19 serta berbagai potensi bencana seperti gempa bumi dan banjir yang pada gilirannya sangat membutuhkan solidaritas bersama.  

Momentum Puasa ramadhan 1442 Hijriah ini perlu kita jadikan spirit untuk mewujudkan ‘spiritualitas aktif’, bukan pasif. Maksud ‘spiritualitas aktif’ di sini adalah semangat keagamaan yang akomodatif (merangkul) dan egaliter. Misalnya di tengah situasi pandemi kesehatan yang berdampak kepada semua sektor, terutama sosial-ekonomi. Maka kita perlu bergerak untuk membantu korban terdampak pandemi dengan mengakselerasi bantuan sosial seperti menyediakan sembako dan kebutuhan pokok lainnya.

Dalam konteks bulan Ramadan, pada detik-detik akhir puasa terdapat kewajiban bagi umat muslim untuk membayar zakat fitrah sebagai spirit penyucian diri setelah sebulan berpuasa. Zakat fitrah ini nantinya diperuntukkan kepada orang-orang fakir miskin ataupun untuk orang yang memenuhi syarat sebagai penerima. Islam menjadikan zakat fitrah sebagai spirit berbagai kepada orang lain. Zakat fitrah menjadi bentuk penyucian diri dari berbagai tendensi materiil manusia dan spirit mengaktifkan spiritualitas aktif itu sendiri.         

Urgensi Solidaritas

Di bulan ramadhan ini perlunya kita menggerakkan solidaritas, di tengah bencana kemanusiaan yang silih berganti. Solidaritas Kemanusiaan menjadi salah satu kunci untuk menguatkan sendi-sendi sosial ekonomi yang mulai rapuh. Spirit solidaritas sendiri bisa berupa sifat solider individu maupun kelompok. Untuk itu, sebagai orang yang beriman, kita harus menjadi manusia yang solider dengan manusia lainnya.    

Kegiatan memberikan bantuan yang sifatnya personal untuk kepentingan umum merupakan fenomena universal yang bisa ditemukan di berbagai periode sejarah, tradisi, dan peradaban manusia. Praktik ini erat kaitannya dengan perkembangan masyarakat sipil, karena hal itu merupakan wujud dari sebuah konsistensi kepedulian membantu orang lain serta keinginan kuat untuk menciptakan kondisi masyarakat sipil yang lebih baik (Fauzia, 2016).   

Puasa yang kita lakukan perlu berkelindan dengan semangat gerakan sosial kemanusiaan, yakni zakat fitrah. Puasa sebagai wujud dari kewajiban agama, bukan hanya berfungsi untuk memperbanyak amal ibadah individu. Namun lebih dari itu, puasa adalah ajang untuk memperkuat empati dan kepedulian terhadap nasib kemanusiaan yang terdampak pandemi.        

Jangan sampai puasa yang kita lakukan hanya menjadi suatu ibadah yang menggugurkan kewajiban agama belaka. Namun puasa kita sejatinya perlu diarahkan agar memiliki paradigma ‘revolutif-transformatif’. Artinya, puasa yang kita jalani mampu mengubah perilaku, life style serta pola pikir yang lebih baik dan positif.

Menurut Sinta Nuriyah (2019), puasa merupakan ibadah yang memiliki dua dimensi sekaligus, yakni dimensi spiritual dan dimensi sosial. Menurut Ibu Negara RI ke-4 ini, dimensi spiritual puasa adalah perintah wajib dari Allah Swt. Karena barang siapa menjalankan perintah Allah, berarti ia tunduk dan taat kepada-Nya.

Sedangkan dimensi sosial puasa dapat meningkatkan empati dan solidaritas atas manusia lain yang hidup dalam kesusahan, terutama di masa pandemi ini. Maka akselerasi zakat fitrah menjadi jalan filantropi umat muslim untuk berbagi.  Puasa akhirnya menjadi cara yang paling baik untuk menggalang solidaritas dan meningkatkan kepekaan sosial sesama manusia. Maka, puasa dalam Islam pada gilirannya dapat meningkatkan kesalahen individual dan sosial sekaligus.

Mencapai Ketakwaan

Puasa ramadhan pada dasarnya adalah media penyucian dari dominasi egoisme dan sarana untuk membentuk pribadi yang bertakwa pada diri pelakunya (shoim), sebagaimana tersurat dalam Qs. Al-Baqarah (2): 183. Terwujudnya ketakwaan bermuara pada terciptanya insal kamil. Sedangkan ciri orang yang mencapai titik ketakwaan, yakni orang yang teguh dalam keyakinan, bijaksana, tekun menuntut ilmu, semakin berilmu semakin merendah, tidak boros walaupun kaya, serta murah hati dan ringan tangan (suka membantu).    

Pada prinsipnya, ketakwaan itu bukan saja suatu bentuk dimensi batin, tetapi sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebagaimana menurut Abu Hasan Al-Bashri, ketakwaan itu tidak hanya di hati, tetapi harus teraktualisasikan dalam perilaku. Oleh karena itu, ketakwaan tidak saja bisa dilihat ketika seseorang nanti berada di akhirat, tetapi ketakwaan sejatinya bisa dijumpai di tengah realitas keseharian manusia.

This post was last modified on 3 Mei 2021 1:55 PM

Ferdiansah

Peneliti The Al-Falah Institute Yogyakarta

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

2 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago