Categories: Narasi

Radikalisme ‘Rumahan’, Waspadalah!

Belakangan, berita tentang kelompok radikal makin gencar tersiar. Para kuli tinta beramai-ramai mem-blow up hampir seluruh aktifitas mereka. Seakan tak mau ketinggalan kelompok ini justru makin ‘rajin’ mengupload video brutal atau statemen mengancam di dunia maya. Tidak sedikit masyarakat yang terpengaruh agitasi mereka, hingga rela turut perang menyongsong mati di negeri orang. Betulkah pengaruh kelompok radikal ini begitu kuat?

Bagi para pecinta kedamaian dan harmoni, berbagai agitasi yang ditebar para pemuja kekerasan ini sangat mengkhawatirkan. Apalagi selama ini alasan agama selalu dijadikan alat pembenar setiap tindakan keji dan sadis yang mereka lakukan. Kesucian kitab suci dan sabda Nabi mereka nodai dengan aksi penumpahan darah dan onar dimana-mana. Akal sehat siapapun akan menolak jika agama mengamanatkan pertumpahan darah.

Nashr Abû-Zayd, salah seorang pemikir besar muslim, menyatakan bahwa banyak studi agama yang kehilangan kesadaran historis-ilmiah (al-wa‘yu al-târîkhî al-‘ilmî). Akibatnya, banyak orang beragama tak lagi menggunakan rasionalitas dan menghindari dialog. Agama hanya dipahami sebatas pemberi hukuman.

Perilaku yang telah kehilangan nalar historis itulah yang di kemudian waktu mengantarkan umat sibuk dengan ‘kulit’ ketimbang ‘isi’. Dalam masyarakat Islam, merekalah kelompok yang memahami syariat sebatas hukum potong tangan, rajam, atau qisash. Mereka lebih suka memaksa negara menjalankan hukum pencurian ketimbang mengurusi kesejahteraan publik. Kelompok inilah yang mendorong perubahan kekuasaan dan struktural (up to down) dilakukan negara. Orang-orang yang tata kelola pikiran seperti inilah yang kerap pamer kekerasan di dunia maya.

Belum terlambat bagi kita mewaspadai terorisme, terutama yang ‘bermarkas’ di internet. Marc Sageman, seorang pakar radikalisasi dari AS, menyimpulkan bahwa internet telah menghilangkan batas antara individu dan sebuah komunitas religius radikal virtual. Ajaran, keyakinan, dan ajakan untuk bergabung dengan kelompok teroris begitu masif muncul di internet. Hingga seringkali kita saksikan begitu mudahnya orang termakan agitasi kelompok radikal. Jika hal ini dibiarkan, maka jumlah ‘teroris rumahan’ akan semakin marak.

Sebenarnya, ada satu hal yang dapat menangkal atau bahkan mengalahkan kejahatan di dunia virtual, yakni pendekatan personal. karena seseorang dengan kedekatan personal yang baik pada ranah sosial tidak akan mungkin terlibat dalam gerakan radikal. Kecintaannya pada sesama, terutama sanak saudara dan tetangga, tidak akan membuat mereka tega untuk menyalahgunakan agama. Kita beragama karena kita yakin ada ajaran dan tuntunan menuju kebaikan di dalamnya, dan kita bertuhan karena kita anti kekerasan.

This post was last modified on 31 Maret 2015 12:16 PM

Khoirul Anam

Alumni Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS), UGM Yogyakarta. Pernah nyantri di Ponpes Salafiyah Syafiyah, Sukorejo, Situbondo, Jatim dan Ponpes al Asyariah, kalibeber, Wonosobo, Jateng. Aktif menulis untuk tema perdamaian, deradikalisasi, dan agama. Tinggal di @anam_tujuh

View Comments

  • Sy tidak setuju kalau dikatakan bahwa "agama hanya dipahami sebatas pemberian hukum" palagi disitu dikatakan kalau agama hanya mengurusi hukum potong tangan tanpa mengurusi kesejahteraan publik.

    Padahal justru agama itu memiliki mekanisme pengaturan kesejahtetaan publik. Dan ketiadaan kesejahteraan publik saat ini diakibatkan tidak diterapkannya islam. Kapitalis dan nelolibaralislah yang membuat keaejahteraan masyarakat tidak di dptkan.

Recent Posts

Tirani Algoritma dan Ekstremisme digital: Membumikan Etika Digital, Menjaga Nalar Kritis

Kebisingan di lini masa media sosial belakangan ini telah menjadi realitas keseharian yang tak terhindarkan.…

29 detik ago

Mengapa Dakwah Membutuhkan Ilmu sekaligus Literasi Media

Di ruang digital, pesan keagamaan tidak hanya bersaing dengan ceramah lain, tetapi juga dengan potongan…

3 menit ago

Dari Sanad ke Startup: Jihad Intelektual Santri di Abad Algoritma

Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari menyerukan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan sebagai kewajiban…

1 hari ago

Memahami “Santri” sebagai Kata Sifat

Setiap tanggal 22 Oktober, lini masa kita akan dipenuhi sarung, peci, dan foto lama di…

1 hari ago

Tirakat Digital: Amalan Santri Melawan Radikalisasi Daring

Peringatan Hari Santri selalu membawa kita pada ingatan historis tentang keberanian, ketangguhan fisik, dan kedalaman…

1 hari ago

Demonstrasi vs Vandalisme : Menjaga Demokrasi dari Penumpang Gelap dan Eksploitasi Generasi Muda

Momentum peringatan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2026 kembali menghidupkan ruang-ruang…

2 hari ago